Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Merestorasi Sosial yang Terdistorsi dengan Membenahi Keuangan Organisasi

Oleh: Muhammad Fajar Siddiq Ramadhan

Pendahuluan

PCIM merupakan salah satu afiliatif yang berada di Mesir. Selama 2 dekade terakhir PCIM telah memberikan banyak manfaat yang dirasakan bukan hanya oleh masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat dunia. Kebermanfaatan itu dapat dilihat baik dalam sektor pendidikan, kesehatan maupun sosial kemasyarakatan.

Dalam sektor pendidikan misalnya, melalui program Beasiswa Sang Surya dan Wakaf Literasi yang diinisiasi Lazismu Mesir sejak 2018, PCIM setidaknya telah membantu lebih dari 150 mahasiswa yang memiliki masalah finansial dengan memberikan bantuan dana dan subsidi buku untuk melancarkan studinya di Universitas Al-Azhar. Walaupun jumlahnya tidak seberapa, tetapi selama 8 tahun terakhir besaran total nominal yang telah dikeluarkan untuk program ini melebihi Rp. 450.000.000.

Selain program ini, PCIM juga telah resmi meluncurkan program Abduh Grant pada bulan Juni kemarin. Program ini merupakan program subsidi yang diberikan oleh PCIM untuk kajian-kajian yang berkembang di lingkungan Muhammadiyah Mesir. Dana yang diberikan ini diharapkan bisa memberikan bantuan untuk pembelian alat yang diperlukan selama kajian, ataupun pemberian gaji yang layak untuk para pengajar. Besaran dana yang dikeluarkan periode ini untuk program tersebut mencapai Rp. 90.000.000.

Adapun dalam sektor sosial, di setiap tahunnya PCIM Mesir membagikan setidaknya 1500 paket takjil dan bantuan sembako untuk para mutazawij pada bulan Ramadhan. Program ini juga telah berjalan sekitar 8 tahun dengan total pengeluaran lebih dari Rp.240.000.000.

Adapun dalam sektor Kesehatan, PCIM Mesir dipercayai menjadi tangan kanan Lazismu Indonesia untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina, baik yang tengah menjalani perawatan di Mesir, ataupun yang berada di Gaza dengan mengirimkan truk kontainer berisikan kebutuhan logistik dan medical supplies. Besaran dana yang telah dikeluarkan untuk program ini melebihi angka 10 miliar rupiah.

Keberhasilan seluruh program ini tentu terlahir karena kekompakan pengurus PCIM Mesir dan kejelasan sistem yang ada di dalamnya. Hal yang menarik adalah pengurus PCIM Mesir dengan semua Lembaga dan Organisasi Otonom yang ada dibawahnya hanya berjumlah 216 orang, jumlah ini apabila dipersentasekan hanya mewakili 1% dari total populasi warga Indonesia yang ada di Mesir. Berdasarkan fakta tersebut, apabila social impact sebesar ini ternyata dapat diupayakan hanya dengan menggerakan 1% dari total populasi warga Indonesia yang ada di Mesir, bisa kita bayangkan seberapa besar dampak yang dapat kita rasakan apabila kita memaksimalkan peran dan kinerja seluruh organisasi yang tersebar di Negeri Para Nabi ini.

Berdasarkan kerangka berfikir inilah penulis akan mengulas apa sebab utama dari penurunan mutu sosial warga Indonesia di Mesir dan seberapa besar peran mahasiswa khususnya organisatoris dalam merestorasinya.

Penurunan Mutu Sosial

Tiago Gonçalves menjelaskan bahwa akar masalah dari penurunan mutu sosial di dalam sebuah konstruk masyarakat seringkali terjadi karena buruknya pengelolaan keuangan dalam sebuah organisasi. Hal ini disebabkan karena rancangan alokasi anggaran yang dibuat oleh organisasi bisa dianggap sebagai cerminan sebuah masyarakat yang tumbuh di bawahnya. Sehingga buruknya pengelolaan anggaran akan menciptakan domino effect yang berdampak pada turunnya kinerja sebuah organisasi, yang mana hal itu akan berlanjut pada hilangnya kepercayaan publik dan nantinya berakhir pada fenomena degradasi mutu sosial karena keadaan masyarakat yang ingin hidup tanpa nilai dan moral yang disepakati bersama.

Fenomena ini tentu sesuai dengan apa yang kita lihat dalam lingkungan masisir secara umum. Pasalnya, beberapa tahun ini kita sering dihebohkan dengan masalah manajerial keuangan dari para pengurus PPMI, dimana masalah ini berdampak pada menurunnya tingkat kepercayaan publik pada PPMI Mesir. Turunnya kepercayaan ini dapat kita ukur dengan melihat jumlah partisipasi publik terhadap pemilu raya PPMI Mesir. Hasilnya, setidaknya dalam 4 Pemilu Raya terakhir, jumlah partisipasi masisir secara umum mengalami penurunan secara signifikan, hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah kandidat yang mendaftar menjadi calon Presiden PPMI dan juga jumlah partisipasi masisir untuk mengikuti pemilu raya. Grafik penurunan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Grafik 1. Jumlah Partisipasi Pemilu Raya PPMI Mesir

Kenaikan dan penurunan jumlah partisipasi masisir terhadap pemilu raya ini tentu mencerminkan kepercayaan publik yang juga mengalami kenaikan dan penurunan. Salah satu faktor yang melandasi fluktuasi ini adalah kualitas pengelolaan PPMI dalam masalah keuangan, karena pada periode 2022-2023 tercatat adanya hutang iuran maba sebesar 2525 USD, hal ini berdampak pada penurunan partisipasi sebanyak 1376 suara. Kemudian pada pada periode 2023-2024 tercatat adanya uang yang hilang sebesar 40.000 EGP yang dipergunakan untuk kebutuhan pribadi bendahara. Tentu lonjakan suara sebanyak 2625 suara yang terjadi pada pemilu raya setelahnya merupakan anomali. Namun, sebenarnya hal ini dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan faktor lain seperti proses kampanye, pembangunan koalisi, dsb. Hanya saja, hal-hal tersebut tidak relevan dengan esai ini sehingga tidak akan penulis analisa lebih lanjut. Hal yang jelas peningkatan ini sayangnya tidak bertahan lama, karena pada periode 2024-2025 terdapat masalah keuangan yang mencapai angka Rp.96.000.000. Dampak dari hal ini adalah kemerosotan partisipasi pada pemilu raya selanjutnya sebanyak 3860 suara. Dimana pada pemilu raya terakhir ini partisipasi tersebut hanya mewakili 4,25% dari total 17.322 pemilih tetap yang terdaftar.

Hilangnya kepercayaan publik terhadap PPMI akibat masalah keuangan seperti ini tentu bukan masalah kecil. Karena hal ini secara tidak sadar akan mengakibatkan beragam problematika lain, baik secara kelembagaan atau individu. Beberapa kasus yang sempat hangat beberapa waktu kemarin, seperti konser musik di ACC, tren velocity di Ruwaq Abbasi, berbagai oknum yang terjerat kasus pelecehan seksual dan adanya anggota PPMI yang berbelanja di Carrefour, salah satu mall yang terasosiasi mendukung Zionis, untuk membeli barang yang akan dikirim untuk warga Palestina merupakan bukti tidak terkontrol dan tidak pedulinya masyarakat untuk menjalani hidup sesuai dengan norma dan nilai yang disepakati oleh organisasi.

Alasan lain mengapa pengelolaan uang organisasi itu begitu dekat dengan kondisi sosial masyarakat yang hidup dibawahnya karena menurut riset yang dilakukan oleh Kirtika Goyal, seseorang yang memiliki kemampuan dalam mengelola uang dengan baik cenderung memiliki rasa tanggung jawab, kedisplinan, ketelitian dan kontrol diri yang jauh lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Dengan kata lain, berdasarkan studi ini apabila PPMI memiliki sistem manajerial organisasi yang baik, dan sistem itu benar-benar dipahami dan dilaksanakan oleh setiap Dewan Pengurus yang menjabat, maka lambat laun akan ada peningkatan mutu sosial yang muncul dari internal Dewan Pengurus, yang mana dengan hal ini akan mencegah blunder-blunder internal yang tidak diperlukan, sehingga nantinya manajemen organisasi yang baik ini akan melahirkan 1% populasi masisir lain yang memiliki dampak sosial secara signifikan, persis seperti yang diperlihatkan oleh PCIM Mesir.

1% Better Everyday

Mewujudkan manajemen organisasi yang ideal khususnya dalam masalah keuangan tentu tidak dapat dilakukan secara langsung. Namun sebagaimana yang dikatakan James Clear, untuk melahirkan perubahan signifikan, hal yang kita butuhkan hanyalah mencoba 1% lebih baik setiap hari. Untuk menerapkan konsep Atomic Habit ini, sehingga dengannya PCIM Mesir dapat meminimalisir buruknya manajemen keuangan organisasi yang menjadi akar masalah dari penurunan mutu sosial, terdapat beberapa langkah

strategis yang kami lakukan seperti:

1.     Memisahkan Akun Rekening Organisasi dengan Pribadi

Hal ini ditujukan untuk menghindari adanya sirkulasi keuangan yang tidak jelas seperti halnya keuangan PPMI pada saat periode Kabinet Abdi Karya. Ketika PCIM diminta untuk menjadi verifikatur kami mendapati bahwa PPMI tidak mengaktifasi ulang rekening organisasi yang bermasalah, hal ini menyebabkan uang yang ada di rekening organisasi bercampur dengan uang yang ada di rekening bendahara. Tentu karena sebab inilah proses audit menjadi terhambat dan melahirkan berbagai kejanggalan.

2.     Memiliki SOP dan Mekanisme Pencairan Dana yang Jelas

Hal ini ditujukan untuk menghindari penggunaan dana organisasi secara serampangan seperti yang dilakukan bendahara PPMI Kabinet Abdi Karya yang menggunakan uang organisasi untuk membeli pizza tuna, daging merah, dan kopi cilantro ketika melakukan rapat internal bendahara. Pengeluaran itu tentu tidak etis melihat peserta rapat yang sedikit, muatan rapat yang tidak urgen dan juga hasil kinerja bendahara di akhir yang tidak memuaskan. Oleh karena itu, seandainya ada mekanisme yang jelas terkait pencairan dana, uang yang digunakan itu tentu dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat bagi kesejahteraan masisir.

3.     Memilih Bendahara Secara Selektif

Hal ini ditujukan untuk memastikan proses pengawasan dana organisasi dalam satu periode berjalan dengan baik, sehingga kita bisa terhindar dari kejadian yang dialami oleh bendahara PPMI Kabinet Abdi karya yang mengaku tidak bisa mengoprasikan excel dengan cukup baik, dimana hal tersebut menyebabkan ia beserta jajarannya menghitung keuangan PPMI yang mencapai ratusan juta itu secara manual. Hal ini tentu melahirkan banyak kesalahan input data yang menyebabkan proses pengecekan menjadi lama, dan fungsi pengawasan menjadi tidak optimal.

4.   Melaporkan Keuangan Secara Transparan dan Akuntabel

Proses ini didukung dengan sistem pelaporan yang terdigitalisasi dan juga upaya untuk menyewa lembaga independen dari Indonesia untuk mengaudit keuangan PCIM Hal ini ditujukan untuk memastikan profesionalitas PCIM Mesir dalam menjaga dana umat dan organisasi,   sehingga   upaya   tersebut   bisa         meminimalisir penggelapan dana ataupun penyalahgunaan jabatan yang dilakukan berbagai pihak yang tidak bertanggungjawab.

Langkah strategis yang dilakukan PCIM ini tentu juga dapat dilakukan di organisasi lain, besar harapannya 4 langkah untuk membenahi keuangan organisasi ini dapat menjadi hal pertama untuk menyelesaikan problematika yang ada di lingkungan masisir. Karena apabila setiap organisasi menerapkan prinsip ini, dan menjalankan fungsi organisasi sebagaimana mestinya, kita bisa bersama-sama merestorasi situasi sosial menjadi lebih ideal, dimana dengan sistem keuangan yang baik organisasi akan mampu menjadi wadah untuk memfasilitasi dan membantu proses berjalannya pendidikan setiap pelajar disini, yaitu dengan kemampuan finansial untuk memperbanyak program beasiswa, meninggikan gaji pengajar, dan menyebarluaskan wakaf literasi sehingga nantinya penerima manfaat ini tidak lagi terpecah fokusnya untuk belajar dan menghidupi kehidupannya dengan bekerja.

Dampak jauhnya, keuangan organisasi yang sehat, dan alokasi anggaran organisasi yang diprioritaskan untuk keilmuan ini diharapkan menjadi awal mula dari meningkatnya minat belajar dan melonjaknya angka keinginan menjadi pengajar karena benefit kesejahteraan yang ditawarkan cukup memadai, persis seperti yang terjadi pada golden age di era kekhalifahan Abbasiyah. Selain itu, dengan meningkatnya kadar keilmuan masyarakat secara umum diharapkan pula terjadi peningkatan moral yang signifikan yang nantinya membuat konstruk sosial masyarakat yang ada di mesir jauh lebih sehat dan tidak dipenuhi dengan berbagai kasus seperti yang kita lihat hari ini. Berdasarkan semua hal diatas, dalam analisa penulis merestorasi sosial yang terdistorsi seperti ini harus dimulai dengan membenahi keuangan setiap organisasi. Adapun kewajiban tersebut tentu dibebankan kepada kita selaku organisator yang menghidupinya. Oleh karena itu, peran kita sebagai mahasiswa yang bergerak dibawah naungan organisasi untuk merestorasi kondisi sosial menjadi lebih berarti adalah dengan membenahi payung organisasi yang kita jalani menjadi lebih baik setiap hari.

Exit mobile version