Karya Tulis
Beranda » Blog » Rasionalitas dan Mistisisme dalam Pemikiran Abduh: Meninjau Kembali Genealogi Pemikirannya

Rasionalitas dan Mistisisme dalam Pemikiran Abduh: Meninjau Kembali Genealogi Pemikirannya

Pemikiran Muhammad Abduh diakui sebagai cara baru dalam memandang modernitas bagi umat muslim. Terbukti dengan banyaknya pemikiran atau gerakan yang terinspirasi oleh pemikiran Abduh di era setelahnya. Berbagai konsepnya seperti tauhid, nubuwwah, etika, dan politik banyak dikaji di berbagai belahan dunia tidak hanya di dunia Islam namun juga di dunia Barat. Sehingga wajar saja jika Abduh dianggap sebagai tokoh penting penggagas modernisasi pemikiran Islam.  Di Muhammadiyah sendiri kita sudah mengenal bahwasanya visi-misi organisasi ini terinspirasi oleh pemikiran Abduh. Dalam tanda kutip bahwasanya yang diadopsi adalah pemikiran Muhammad Abduh-Rasyid Rida. Karena inspirasi Muhammadiyah adalah pemikiran yang ada pada majalah al-Manār yang pasti tidak hanya berisi pemikiran Abduh seorang. Dan kalau kita berpikir secara lebih kritis dan radikal, pemikiran Abduh perlu diteliti secara lebih dalam.  Artikel ini akan memuat genealogi (asal usul) pemikiran Muhammad Abduh. Di mulai dari kondisi siapa saja inspirator dan jejak pemikiran dalam karyanya. Melacak sumber pemikiran Abduh perlu dilakukan dalam rangka memperluas kajian pemikirannya. Selain itu kajian ini diperlukan (jika diperlukan) untuk meluruskan stigma pembaca Abduh yang telah berkembang terutama di kalangan Muhammadiyah.

Ajaran Sufi: Inspirasi Reformasi

Inspirasi pemikiran Abduh berasal dari dua tokoh, yakni Syaikh Darwīsy Khaḍīr dan Jamaluddin al-Afghani – sebagaimana yang diterangkan oleh Rasyid Rida dalam biografi Abduh. Syaikh Darwīsy pernah berkata kepada Abduh bahwa Islam adalah tarekat (sufi) itu sendiri dan menganjurkan membaca Qur’an sebagai sebagai sarana mencapai kasyf. Menurut Sirriyeh, Syaikh Darwīsy adalah tokoh penting dalam memimpin Abduh muda untuk pemahaman yang lebih benar tentang Islam sebagai agama yang progresif dan masuk akal yang kompatibel dengan ilmu pengetahuan modern dan teknologi modern.[1] Jika dikatakan bahwa Abduh anti-sufi – sebagaimana yang tampak dalam al-Waqā’i‘ al-Misriyyah – dapat dimaklumi karena pandangan sufistik Abduh bersifat essensial – sebagaimana ajaran al-Khaḍīr – bukan praktikal.

Syaikh Darwīsy berbaiat pada tarekat syāżilīyah melalui Syaikh Muhammad al-Madanī di Libya. Ajaran-ajaran al-Madanī yang termuat dalam rasā’il yang dipegang Syaikh Darwīsy kemudian diajarkan kepada Abduh. Abduh berkomentar “Beberapa hari saja bersamanya (Syaikh Darwīsy) aku keluar dari penjara kebodohan kepada al-ma’rifah, dari kekangan taqlid kepada

tauhid mutlak, inilah pengaruh yang aku dapati darinya.”.[2] Sehingga dapat dikonfirmasi bahwa secara tidak langsung, ajaran tarekat syāżilīyah mempengaruhi pandangan Abduh.

Jamaluddin al-Afghani: Siapa Dia Sebenarnya?

Selain Syaikh Darwīsy, al-Afghani juga mempengaruhi pemikiran sufistik Abduh. Sebagian orang menganggap bahwa al-Afghani hanya menginspirasi pemikiran politik Abduh. Jika ditinjau lebih jauh, pemikiran politik al-Afghani bersumber dari pemikiran sufistik tanah Persia (Afghanistan tanah asalnya adalah wilayah yang terpengaruh budaya Islam-Persia). Sebelum tiba ke Mesir, al-Afghani dengan pemikiran dan gerakannya telah mengguncang pemerintahan Dinasti Qajar Iran.

Secara singkat al-Afghani bukan berasal dari tradisi Sunni. Scharbrodt menyebut alAfghani sebagai sufi, filsuf, dan pemberontak. Pendidikannya ia selesaikan di kota-kota penting pusat studi syi‘ah seperti Teheran (Iran) dan Najaf (Iraq). Semangat reformisme dan pan-islamisme al-Afghani terinspirasi dari aliran pemikiran Syekh Ahmad al-Ahsā’ī (w. 1826) yang berkembang di dunia syi‘ah (Iraq-Iran). Ajaran al-Ahsā’ī dikenal sebagai aliran syaikhīyah yang terinspirasi dari aliran filsafat-sufistik (mystical-cum-philosophical) di Isfahan, yakni al-ḥikmah al-isyrāqīyah (al-Suhrawardī al-Maqtūl) dan al-ḥikmah al-muta‘ālīyah (Mullā Ṣadrā/Sadruddin al-Syirāzī).[3]  Jika ajaran Mullā Ṣadrā dijadikan sebagai salah satu sampel, kita akan menemukan kecocokan dan pengaruhnya dengan pemikiran Abduh. Al-Ḥikmah Al-Muta‘ālīyah (teosofi) Mullā Ṣadrā menggabungkan pemikiran teologi Asy‘ārī dan Syi‘ah Iṡnā ‘Asyarīyah; pemikiran tasawuf al-Ghazālī, al-Suhrawardī al-Maqtūl, dan Ibnu ‘Arabī; serta filsafat paripatetik.[4] Salah satu wacana penting dalam al-ḥikmah al-muta‘ālīyah adalah filosofisasi perkataan ‘Ali bin Abi Thalib.[5] Dari data-data ini, dapat diduga bahwasanya pemikiran Abduh terinspirasi dari pemikiran Jamaluddin al-Afghani yang bersumber dari ajaran Mullā Ṣadrā.

Melacak Pengaruh Pemikiran Non-Mainstream pada Abduh

Salah satu karya Abduh adalah Syarh Nahj al-Balāghah. Nahj al-Balāghah dapat dipandang dari dua sisi, sebagai kitab kumpulan faṣāḥah lughawīyah-nya Ali bin Abi Thalib atau sumber doktrin syi‘ah. Pengarang kitab ini bernama Syarif al-Raḍī dan sudah terkonfirmasi sebagai seorang syi‘ah. Abduh sendiri dalam syarh-nya sebagaimana yang ia kemukakan dalam muqaddimah menyatakan bahwa dia tidak akan berfokus pada komentar mengenai permasalahan

doktrinal keyakinan tertentu. Abduh berfokus pada persoalan bahasa, dan tujuan utamanya mensyarah kitab tersebut agar pembaca dapat mengambil faedah dari kesastraan Imam ‘Ali bin Abi Thalib.

Mayoritas Sunni menolak keotentikan Nahj al-Balāghah sebagai murni kumpulan perkataan Ali. Dengan data ini, mengindikasikan bahwa Abduh mentolerir pemahaman syi‘ah. Jika benar al-Afghani – penganut al-ḥikmah al-muta‘ālīyah – adalah mentor politik dan sufistik Abduh, maka dapat dibenarkan bahwasanya pemikiran Abduh tidak hanya terinspirasi oleh pemikiran sufisunni – melalui Syaikh Darwīsy – tetapi juga sufi-syi‘ah. Dengan benang merah tasawuf atau sufi, pemikiran Abduh dapat dilacak lebih dalam.

Terlepas dari permasalahan apakah sumber pengetahuan Abduh berasal dari syi‘ah, baik ajaran syāżilīyah dan al-ḥikmah al-muta‘ālīyah (lebih umum adalah mazhab Isfahan karena aliran ini juga turunan dari al-ḥikmah al-isyrāqīyah) sama-sama menekankan rasionalitas dalam memahami ajarannya. Jika Abduh diasumsikan sebagai pembaharu yang menekankan aspek rasionalitas dalam memahami Islam, maka salah satu genealogi ide-ide pembaharuannya berasal dari ajaran mystical-cum-philosophical (ajaran sufi yang menekankan rasionalitas). Ajaran waḥdah al-wujūd (salah satu konsep yang dianut oleh tasawuf falsafi) diadopsi oleh Abduh dan dapat dilacak dalam Syarh Nahj Balāghah dan Risālah al-Wāridāt. Menurut Abduh, Khulafa

Rasyidin sepakat bahwa tidak ada sesuatu apapun yang ada terpisah dari eksistensi-Nya.[6]

Penutup

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemikiran Muhammad Abduh tidak hanya dipengaruhi oleh rasionalisme Islam dan modernitas, tetapi juga memiliki akar sufistik yang kuat. Dua tokoh utama yang membentuk pandangan keagamaannya adalah Syaikh Darwīsy Khaḍīr, yang mengenalkannya pada tarekat Syāżilīyah, dan Jamaluddin al-Afghani, yang membawa pemikiran filsafat mistis dari tradisi Persia, khususnya al-ḥikmah al-muta‘ālīyah. Pemikiran Abduh tentang tauhid dan reformasi Islam tidak bisa dilepaskan dari unsur sufistik yang bersifat rasional, yang juga terlihat dalam keterbukaannya terhadap teks-teks seperti Nahj alBalāghah. Oleh karena itu, asumsi bahwa Abduh menolak tasawuf sepenuhnya perlu ditinjau ulang dengan pendekatan yang lebih komprehensif.

Sebagai saran, penelitian lebih lanjut mengenai dimensi sufistik dalam pemikiran Abduh perlu dilakukan dengan menelaah langsung karya-karyanya, terutama Risālah al-Wāridāt dan Syarh Nahj al-Balāghah, serta membandingkannya dengan tradisi tasawuf yang berkembang di zamannya. Selain itu, kajian terhadap pengaruh pemikiran Abduh dalam organisasi seperti Muhammadiyah juga penting untuk memahami sejauh mana unsur sufistik diterima atau ditinggalkan dalam gerakan reformasi Islam di dunia Muslim. Dengan pendekatan yang lebih

mendalam, pemahaman terhadap Abduh dapat lebih objektif dan tidak hanya didasarkan pada asumsi atau stigma yang berkembang di masyarakat.

Referensi

Elizabeth Sirriyeh. Sufis and Anti-Sufis: The Defence, Rethinking and Rejection  of Sufism in the Modern World. London: Routledge Taylor & Francis Group, 2013.

Muḥammad ‘Amārah. Al-A‘māl al Al-Kāmilah li al-Imām Muḥammad ‘Abduh. Vol. 2. 5 vol. Cairo: Dār al-Syurūq, 1993.

Nasr, Seyyed Hossein. Filsafat Transendensi Mulla Sadra: Epistemologi al-Hikmah AlMuta’aliyah. Yogyakarta: IRCiSoD, 2024.

Oliver Scharbrodt. “The Salafiyya and Sufism: Muhammad ‘Abduh and  His Risalat al-Waridat (Treatise on Mystical  Inspirations).” Bulletin of the School of Oriental and  African Studies 70, no. 1 (2007): 89–115. https://doi.org/10.1017/S0041977X07000031.

Razavi, Mehdi Amin. Suhrawardi and the School of Illumination. UK: Curzon, 1997.

Sadra, Mulla. Al-Hikmah al-Muta‘ālīyah fī al-Asfār al-Arba‘ah. Vol. 6. 9 vol. Beirut: Dār Ihyā’ wa al-Turaṡ al-‘Arabī, 1981. Scharbrodt, Oliver. Islam and the Bahai Faith. Routledge Taylor & Francis Group, 2008.

[1] Oliver Scharbrodt, “The Salafiyya and Sufism: Muhammad ‘Abduh and  His Risalat al-Waridat (Treatise on Mystical  Inspirations),” Bulletin of the School of Oriental and  African Studies 70, no. 1 (2007): 92, https://doi.org/10.1017/S0041977X07000031; Elizabeth Sirriyeh, Sufis and Anti-Sufis: The Defence, Rethinking and Rejection  of Sufism in the Modern World (London: Routledge Taylor & Francis Group, 2013), 90.

[2] Muḥammad ‘Amārah, Al-A‘māl al Al-Kāmilah li al-Imām Muḥammad ‘Abduh, vol. 2 (Cairo: Dār al-Syurūq, 1993), 323.

[3] Mehdi Amin Razavi, Suhrawardi and the School of Illumination (UK: Curzon, 1997), 135; Oliver Scharbrodt, Islam and the Bahai Faith (Routledge Taylor & Francis Group, 2008), 45–56.

[4] Seyyed Hossein Nasr, Filsafat Transendensi Mulla Sadra: Epistemologi al-Hikmah Al-Muta’aliyah (Yogyakarta: IRCiSoD, 2024), 100–114.

[5] Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta‘ālīyah fī al-Asfār al-Arba‘ah, vol. 6 (Beirut: Dār Ihyā’ wa al-Turaṡ al-‘Arabī, 1981), 140–45.

[6] Oliver Scharbrodt, “The Salafiyya and Sufism: Muhammad ‘Abduh and  His Risalat al-Waridat (Treatise on Mystical  Inspirations),” 100.

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share