Berita PCIM
Beranda » Blog » Membaca Syariat Islam dari Arsitektur Masjid Sultan Hassan

Membaca Syariat Islam dari Arsitektur Masjid Sultan Hassan

Oleh: Daffa Allamsyah

Nyatanya, ukiran-ukiran yang terpahat di dinding Masjid Sultan Hassan bukan goresan tak bermakna, yang sekonyong-konyong keluar dari kosong. Dengan membatasi diri pada elemen vegeta, ukiran-ukiran itu sekaligus menjadi representasi bagaimana syariat Islam memandang lukisan makhluk bernyawa. Detil kecil inilah yang justru menjadi titik kontras antara kesenian Islam dan kesenian peradaban lain.

PCIM dan PCIA Mesir, melalui dua majelisnya Majelis Seni Budaya dan Olahraga dan Majelis Tabligh, mengadakan rihlah tarbawiyah ke beberapa masjid tua di Mesir, tepatnya pada 24 Februari 2026 ke Masjid Al-Maridani dan 3 Maret 2026 Masjid Sultan Hassan. Kegiatan ini merupakan agenda rutinan PCIM selama bulan Ramadan, dengan menyasar para kader mudanya sebagai partisipan, dibungkus dalam tajuk ‘Tarawih Keliling’ (tarling).

Nada Jinan Imtina, Ketua Majelis Tabligh PCIA Mesir, merasa senang dengan terlaksananya kegiatan rutin ini. Baginya, selain bentuk pembelajaran kebudayaan, kegiatan tarling ini sekaligus menjadi pemecut semangat ibadah kader-kader Muhammadiyah Mesir. Dengan mengunjungi dan merenungi masjid-masjid bersejarah, ghirah iman dan Islam itu mestinya tumbuh lebih mengakar.

Selain itu, menurutnya lagi, melalui kegiatan seperti ini para kader juga diajak untuk merenungi kembali nilai-nilai keislaman yang diwariskan dalam bangunan-bangunan itu. Memang, bila ditengok sekilas, nilai-nilai itu tak begitu tampak. Namun, dengan mentadabburi secara seksama, pengewajantahan nilai-nilai Islam itu akan sungguh terasa dalam struktur dan desain bangunan yang kompleks.

Dalam arsitektur, setiap komponen hendaknya memiliki landasan filosofis yang matang. Setiap detail bangunan harus memiliki makna dan urgensinya tersendiri, baik dari segi nilai abstrak ataupun dari segi fungsionalnya sebagai bangunan.

Dari segi nilai, kita bisa menangkap bagaimana elemen-elemen vegeta, seperti bunga dan dedaunan, menjadi corak utama ukiran pada Masjid Sultan Hassan. Ini bukan ketidaksengajaan, melainkan suatu bentuk kesetian terhadap syariat Islam mengenai tashwir (lukis-melukis). Mengutip Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, mazhab jumhur ahli fikih adalah diharamkannya melukis benda-benda yang memiliki ruh, seperti manusia dan hewan, secara mutlak. Sehingga, beralihnya seniman Islam ke corak non-hewani adalah semacam kehati-hatian, selain untuk tujuan minimalis. Setidaknya itu yang disampaikan Ahmad Miftahul Taufiq, tour guide pada kesempatan tarling ini.

Bila melihat lagi struktur bangunan Masjid Sultan Hassan, kita bisa dapati ada ruang kosong (shahn) di tengah-tengah masjid yang sengaja tak diberi atap. Ini juga tak serta merta desain yang tak punya fungsi. Fungsi ruang ini, menurut Taufiq, adalah sebagai jalan sirkulasi udara, mengingat iklim di Mesir yang sering diterpa panas ekstrem.

Ketika memasuki area madrasah Masjid Sultan Hassan, kita tak langsung masuk ke ruang utama, melainkan disuguhi dengan lorong memanjang yang punya fungsi pengedap suara, agar suara bising dari luar tidak lantas masuk dan mengganggu jalannya pembelajaran.

Ada banyak lagi detail bangunan yang disampaikan Taufiq, seperti menara masjid, struktur sarang lebah pada bagian dinding, dan air mancur di tengah masjid, yang disimak dengan seksama oleh para peserta.

Tidak hanya menerima materi lisan dan visual, peserta juga diajak menyemai kembali ruh ibadah dengan mengikuti prosesi salat tarawih di Masjid Sultan Hassan. Demikianlah, kegiatan yang dimulai semenjak bakda magrib itu diakhiri dengan khidmat.

Tarling ke Masjid Sultan Hassan adalah penutup 2 gelombang tarling yang diadakan PCIM-PCIA Mesir. Kegiatan ini, tentunya, juga menjadi ajang silaturahmi para kader. Di tengah berkat bulan suci Ramadan, para kader diajak untuk bersama-sama kembali melihat kedalaman filosofis peradaban Islam lewat bangunan-bangunan, yang meski secara zahir mati, tetapi memiliki ruh yang terus hidup membawa spirit di ambang sejarah yang tak menentu.

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share