Karya Tulis
Beranda » Blog » Mata Air Kehidupan Kiai A.R. Fachruddin

Mata Air Kehidupan Kiai A.R. Fachruddin

Oleh: Febdiyu Akhmad

Akhir 1980-an, seorang lelaki sepuh bertubuh tambun, berwajah bundar, dan bersuara berat tampak berjualan bensin eceran di depan rumahnya di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta[2]. Orang-orang memanggilnya Pak AR. Pelanggannya kebanyakan mahasiswa yang ngekos di sekitar selatan Bundaran UGM. Belakangan akhirnya mereka tahu, bahwa pedagang bensin itu ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah persyarikatan.

Mereka mungkin baru sadar ketika beberapa tahun kemudian, rumah sang pedagang bensin tersebut difungsikan sebagai kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketidaktahuan mereka adalah hal wajar, dalam kesehariannya, Pak AR bahkan hanya punya Yamaha warna oranye engkel tahun 70-an. Suaranya sudah kretek-kretek karena terlalu tua. Apalagi kalau ia sedang boncengan dengan Bu AR, joknya saja tidak cukup, sampai bokong Bu AR nyaris menduduki lampu belakang motor. Putranya yang kuliah kedokteran di UGM juga sering terlihat memakai motor itu. Ya, hanya motor butut itu yang dimilikinya.[3]

Makanan keluarga Pak AR juga sama dengan umumnya para mahasiswa kos. Tahu, tempe, sayur lodeh, sesekali telur dan ikan. Ia pun pada dasarnya juga tak punya rumah. Pak AR hanya pinjam rumah milik Muhammadiyah, sebelumnya, Pak AR sekeluarga bahkan menghuni rumah sewa sederhana di Kauman No. 260. Tapi, bukan berarti Pak AR tidak menginginkan rumah pribadi. Hal itu sudah ia usahakan saat menjabat sebagai Kepala Kantor Agama Jawa Tengah di Semarang tahun 1959, dengan cara membeli rumah secara angsuran yang diusahakan oleh pihak swasta.

Karena memang sifatnya yang tidak pernah berburuk sangka, angsuran rumah yang tanpa disertai surat jaminan itu tak berumur panjang. Pak AR tertipu oleh pengembang yang membawa lari uangnya. “Wis ora usah dirembug maneh. Sesuk bakal diijoli omah sing luwih apik neng swargo,” tutur Bu AR ketika menanyakan kelanjutan dan status rumah yang diangsur itu.[4]

Suatu ketika, Pak AR pernah ditawari oleh orang PT ASTRA sebuah hadiah mobil Toyota Corolla DX tahun terbaru (1980) untuknya. Tapi Pak AR dengan halus menolak, “Piye toh, nyopir mobil saja ra iso. Parkirnya sulit. Repot kalau bawa mobil. Apalagi harus masuk ke kampung-kampung di pinggir Kali Code untuk ceramah. Jalannya sempit gak bisa masuk untuk mobil,” katanya pada orang ASTRA. “Jadi saya menolak hadiah mobil sedan Toyota itu, di samping tak bisa nyopirnya, uang untuk bensin dan memeliharanya juga ga ada, repot”[5] ungkap Pak AR saat menceritakan kisah itu.

Pak AR memang paling suka memberi pengajian di kampung-kampung kecil seperti pinggiran Kali Code, lereng Gunung Merapi, dan pelosok-pelosok desa lain di sekitar Yogya. Jika tidak ada yang menjemput, Pak AR berangkat sendiri dengan motor Yamaha tuanya. Suara mesin motor butut itu bahkan sering terdengar hingga kamar-kamar kos mahasiswa. “Grek… grek… grek…” bunyi mesin yang berulang kali berusaha dinyalakan, namun tak kunjung hidup. Maklum, motor tersebut sudah tua dan bahkan tidak lagi punya kunci starter.

Kesederhanaan itu berjalan beriringan dengan kerendahan hatinya dalam memimpin Muhammadiyah. Bahkan ketika memperoleh suara terbanyak dalam Muktamar 1968, Pak AR meminta KH Fakih Usman menjadi ketua karena merasa masih muda dan meyakini ada tokoh yang lebih alim serta lebih berpengalaman. Permintaan ini lalu disetujui oleh Muktamar. Takdir Allah, ketika KH Fakih Usman baru seminggu menjabat, beliau dipanggil Allah (wafat). Karena KH Fakih Usman wafat, Muhammadiyah kemudian menyepakati untuk menunjuk Pak AR sebagai Pejabat Ketua PP Muhammadiyah.[6]

Hampir seperempat abad ia menjadi orang paling atas di Muhammadiyah, sebelum digantikan K.H. Azhar Basyir, setelah tidak lagi bersedia dicalonkan dalam Muktamar Muhammadiyah 1990 di Yogyakarta, walaupun masih banyak Muktamirin yang mengharapkannya. Pak AR berharap ada alih generasi yang sehat dalam Muhammadiyah.

Selama memimpin Muhammadiyah, kepercayaan masyarakat kepadanya sangat besar. Para pejabat dan pengusaha kerap menitipkan dana melalui Pak AR untuk disalurkan kepada Muhammadiyah. Jumlahnya kadang puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Sampai rumah, uang itu segera diberikan kepada Muhammadiyah dan fakir miskin sekitar tanpa sisa. Sampai-sampai, Fauzi putra bungsunya pernah nyeletuk, “Talang kok ra teles.” “Yo ben, wong iki talang plastik,” timpal Pak AR.[7]

Meski melakoni hidup dengan kesederhanaan, Pak A.R. memiliki pergaulan yang luas. Teman-temannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tukang becak, intelektual, budayawan, menteri, hingga presiden. Hubungannya dengan Pak Harto pun terjalin akrab, bukan semata hubungan antara Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Presiden, melainkan persahabatan dua sahabat lama.

Ketika Muhammadiyah hendak mendirikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Pak AR hanya mengirim sepucuk surat singkat berbahasa Jawa kromo inggil: “Pak Harto, Muhammadiyah bade mbangun universitas di Yogya. Menawi Bapak kerso, monggo.” Beberapa waktu kemudian datang sebuah amplop berisi cek bernilai besar yang langsung diserahkan Pak AR kepada panitia pembangunan UMY.[8]

Kedekatan itu tidak membuat Pak AR tergoda jabatan. Setiap kali menyusun kabinet, Pak Harto beberapa kali menawarkan posisi Menteri Agama kepadanya. Namun, Pak AR selalu menolak dengan halus.[9] “Kulo mboten pantes dados Menteri. Saya sudah cukup ngurusi Muhammadiyah saja, Pak Harto,” ujarnya.

Sikap yang sama juga tampak ketika Pemerintah Pusat melalui Wali Kota Yogyakarta Sujono A.J. memintanya menjadi anggota DPR. Pak AR kembali menolak. Ia khawatir kalau tawaran itu diterima bisa menimbulkan dugaan yang bukan-bukan. Akan ada kesan dari umatnya, bahwa kalau jabatan itu diterima, Pak AR akan meninggalkan urusan umat, dan menggunakan kedudukannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah hanya untuk mencari jabatan, fasilitas, dan mengharap uang saja.[10]

Hubungan baik Pak AR tidak hanya terjalin dengan Presiden. Ia juga bersahabat dengan tokoh-tokoh dari berbagai kalangan, salah satunya Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat dalam kunjungan ke Tebuireng, Pak AR diamanahi menjadi imam salat tarawih oleh Gus Dur sendiri. “Ini mau pakai tarawih NU atau Muhammadiyah?” tanya Pak AR kepada jamaah. “EnNUUUUUUUU…..,” jawab ratusan jamaah kompak seolah-olah ingin menampilkan jati diri ke-NU-annya di depan tokoh Muhammadiyah.

Pak AR lalu berbalik badan dan dengan tenang mengimami ratusan jamaah NU dengan bacaan surat AlQuran yang panjang. Dengan cara itu, maka durasinya salat tarawih 8 rakaat pun melampaui durasi salat tarawih ala NU. Tentu saja, seketika itu ratusan jamaah NU gelisah.

Setelah salam di rakaat kedelapan, Pak AR berhenti dan kembali bertanya kepada jamaah. “Ini mau dilanjutkan tarawihnya cara NU yang 23 atau Muhammadiyah yang 11 rakaat?” kata Pak AR terkekeh. “Tarawih Muhammadiyah saja..,” sahut riuh dengan tawa bahagia sekaligus masygul. Selesai salat, Gus Dur bangkit dan berkata kepada para jamaah, “Baru kali ini ada sejarahnya warga NU di kandang NU di-Muhammadiyah-kan secara massal oleh seorang Muhammadiyah saja,” kata Gus Dur.[11]

Humor dalam dakwah Pak AR bukan sekadar hiburan, tetapi menunjukkan cara ia menyampaikan Islam dengan kesejukan. Sikap seperti itulah yang membuat Pak AR dicintai berbagai kalangan, termasuk masyarakat kecil dan pemeluk agama lain. Ketika menyambut kunjungan pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohanes Paulus II di Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi ke Indonesia, Pak AR menyampaikan “uneg-uneg” dan kritik kepada Paus. Ia mengeluhkan bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan sering kali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga digunakan Pak AR untuk menjelaskan kepada Paus, bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada karena disampaikan dengan lembut dan sejuk, serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi.[12]

Di samping dikenal sebagai seorang mubaligh yang sejuk, Pak AR juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Di antara karya-karyanya adalah Naskah Kesyukuran, Naskah Entheng, Serat Kawruh Islam Kawedar, Upaya Mewujudkan Muhammadiyah Sebagai Gerakan Amal, dan berbagai karya lainnya yang membahas dakwah, Muhammadiyah, serta tuntunan kehidupan Islam.

Setelah puluhan tahun mengabdi untuk Muhammadiyah dan umat, Pak AR akhirnya menutup perjalanan hidupnya pada 17 Maret 1995 di Rumah Sakit Islam Jakarta dalam usia 79 setelah mengalami perawatan intensif selama tiga pekan karena komplikasi penyakit pembengkakan jaringan, dan leukemia.

Presiden, Menteri Agama, Ketua Umum MUI, dan Ketua PP Muhammadiyah sempat melayat ke rumah sakit. Jenazah Pak AR. kemudian dibawa ke Masjid Istiqlal. Di sana, ribuan umat Islam menanti untuk menshalatkan jenazahnya. Pak Harto memesan khusus sebuah pesawat Hercules untuk membawa jenazah Pak AR. ke kampung halamannya di Yogyakarta. Di Masjid Besar Kauman Keraton Yogyakarta, ribuan umat Islam berkumpul meluber ke sisi barat alun-alun depan keraton untuk melepas kepergiannya. Di bawah matahari yang redup dan gerimis kecil, pekik takbir pelayat mengiringi perjalanan Pak AR. ke rumahnya yang abadi.

Setelah Pak AR wafat dan rumah Cik Di Tiro diberikan kembali oleh keluarga Pak AR kepada Persyarikatan, Muhammadiyah berniat memberikan tanah seluas 1000 meter persegi dekat UMY untuk keluarga Pak AR. Muhammadiyah juga akan membiayai pembangunan rumah tersebut sebagai balas jasa atas kepemimpinan Pak AR yang membesarkan Muhammadiyah selama 22 tahun. Namun Bu AR menolak dengan halus pemberian tanah tersebut. “Tidak usahlah. Muhammadiyah lebih membutuhkan tanah itu ketimbang keluarga saya,” kata Bu AR.[13]

Sumber Rujukan

  1. Sebagian besar isi tulisan ini disadur dari buku Biografi Pak AR: K.H. Abdur Rozaq Fachruddin (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1968–1990) karya Sukriyanto AR (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017), dengan penambahan dari beberapa sumber pendukung lainnya.
  2. Lazismu Jawa Tengah. Pak AR: Keteladanan Seorang Pemimpin yang Dihormati. 22 April 2023. Diakses 4 Agustus 2026.
  3. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kasihan. Sekelumit Cerita Tentang Pak AR dari Sahabatku. Diakses 4 Agustus 2026.
  4. Ernawan, Recky. Biografi K.H. A.R. Fachruddin. Scribd.
  5. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kasihan. Sekelumit Cerita Tentang Pak AR dari Sahabatku. Diakses 4 Agustus 2026.
  6. Azaki Khoirudin. “Kisah Pak AR Berkali-kali Menolak Jabatan.” IBTimes.ID, 27 Desember 2020.
  7. Haidar Musyafa. Pak A.R. & Jejak-jejak Bijaknya. Bandung: Imania, Cetakan I, April 202.
  8. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kasihan. Sekelumit Cerita Tentang Pak AR dari Sahabatku. Diakses 4 Agustus 2026.
  9. M. Bambang Pranowo, “Kisah Pak AR Fachrudin yang Selalu Menolak Tawaran Menjadi Menteri,” MAULA, 3 Juli 2016.
  10. Azaki Khoirudin. “Kisah Pak AR Berkali-kali Menolak Jabatan.” IBTimes.ID, 27 Desember 2020.
  11. Afandi, “Saat Pak AR Fachruddin Jadi Imam Tarawih di Masjid NU, Jamaah: ‘Ala Muhammadiyah Saja’,” Muhammadiyah.or.id, 11 April 2022.
  12. Ernawan, Recky. Biografi K.H. A.R. Fachruddin. Scribd.
  13. Website Sang Pencerah, “Kisah Mengharukan Pak AR dan Istri,” Facebook, 22 Agustus 2016

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share