Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Genealogi Muhammad Abduh; Pertemuan Dengan Syaikh Darwisy (1)

 

Awal abad ke 20 dianggap era pertama munculnya para pemikir Islam yang membawa ide reformis-modernis. Kondisi masyarakat muslim yang masih terpuruk, disinyalir mendorong para pemikir muslim era itu untuk menawarkan solusi. Nama seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain-lain tentu tidak asing bagi kita, utamanya warga persyarikatan Muhammadiyah. Mereka telah berupaya untuk memberikan daya tawar lewat pemahaman Islam yang segar dan cocok dengan konteks kehidupan saat itu. Meski ditentang dan mendapat ancaman, mereka tetap konsisten dengan tawarannya, yaitu pemahaman Islam progresif yang akan menjadi solusi tepat atas persoalan kemunduran masyarakat muslim saat itu diberbagai lini. Seperti penjajahan, kemiskinan, dan kemunduran sosial budaya  di hampir setiap negeri berpenduduk muslim.

Selain kondisi masyarakat muslim, faktor pengalaman pribadi dari setiap tokoh tak bisa kita sepelekan. Rata-rata tokoh di dunia memiliki pengalaman hidup yang unik atau bahkan kontroversial, kondisi inilah yang kiranya perlu untuk dilirik, karena perjalanan hidup juga memiliki peranan penting bagi mereka sebagai pemikir pembaharu untuk melakukan upaya penyegaran ulang atas tafsir agama. Salah satu yang akan penulis ulas adalah tokoh yang dianggap banyak mempengaruhi pemikiran keagamaan Ahmad Dahlan pendiri Organisasi Muhammadiyah, yaitu Muhammad Abduh—selanjutnya disebut Abduh—. Melalui beberapa karyanya yang terkenal yaitu Risalah Tauhid dan Tafsir al-Manar, Abduh mempengaruhi Ahmad Dahlan yang kelak kembali ke Indonesia dari Mekkah dan membawa misi yang sama dengan Abduh, yaitu ingin membangkitkan umat dari keterpurukan.

Saat membincang Abduh, pada umumnya kita jarang menengok kehidupan pribadinya, seperti pertanyaan dari mana ia berasal? Bagaimana ia memiliki semangat belajar hingga menerima gelar “alimiyyah” dari al-Azhar? Siapa guru spiritual pertama? Dan hal pribadi lain yang luput dari perbincangan. Melalui tulisan ini, kami ingin menguak genealogi perjalanan hidup Abduh secara kronologik, karena hal tersebut tidak bisa kita sepelekan. Ibn Khaldun mengatakan “al-mar’u ibn biy’atihi” yang bermakna “seseorang adalah anak kandung lingkungannya”.  Dari adigium tersebut, kami yang tergabung dalam Abduh Studies merasa terpanggil untuk lebih jauh mengenali bi’ah seperti apa yang telah dilalui oleh sosok Abduh, sang tokoh reformis fenomenal ini.

Muhammad Abduh dan Keluarganya.

Abduh Lahir pada tahun 1849 M/1266 H, di sebuah kota bagian utara Mesir, yaitu desa Mahallah Nashr, Shubra Khit, Provinsi Buhayrah. Bapaknya bernama Abduh ibn Hasan Khayrullah yang berasal dari desa yang sama dengan kelahiran Abduh . Bapaknya adalah orang terpandang di daerah tersebut, ia sedikit berbicara di depan Abduh, bekerja dengan sangat giat, dan pantang makan kecuali di sisinya ada istri dan anak-anaknya. Bagi Abduh, bapaknya adalah figur yang sangat penting, darinya ia belajar etos kerja keras yang tinggi, kejujuran, kebaikan, dan ketegasan.

Ide modernisme Abduh yang memperhatikan keterputurukan ummat, lahir dari kepekaan mendalam atas kondisi ummat yang ringkih. Paling tidak, dari sisi ini Abduh mewarisi sifat ibunya yang mengasihi orang miskin, lemah lembut pada duafa, dan cinta kasih pada sesama. Ibu Abduh berasal dari Gharbiyyah, sebuah provinsi yang juga terletak di daerah Mesir utara.

Nasab Abduh dari bapaknya berasal dari Turkumani, yaitu salah satu bangsa Turki yang menyebar di berbagai negara salah satunya Mesir, sedangkan dari ibunya ia mewarisi darah suku arab yaitu bani Adi al-Qurasiy. Ada yang mengatakan nasab ibunya bersambung hingga sahabat Umar ibn Khattab, meskipun klaim nasab tersebut belum ada bukti lebih lanjut. Melalui dua orang tuanya, Abduh banyak mewarisi hal-hal luhur, baik dari sisi ketegasan yang dimiliki bapaknya ataupun kelembutan dari ibunya. Layaknya dua sayap burung yang saling berkepak agar bisa terbang di udara, kedua orang tuanya telah menjadi figur utama untuk Abduh, hingga ia menjadi sosok pembaharu yang sangat tegas dan konsisten menyuarakan kebenaran, sekaligus memiliki empati yang mendalam atas kondisi umat.

Masa kecil Abduh sama seperti anak-anak pada umumnya di Mesir, ia baru belajar baca tulis saat usianya menginjak 10 tahun. Abduh mulai menghafal quran pada tahun 1859M/1276H, dan dalam jangka waktu kurang lebih tiga tahun ia mampu menyelesaikan hafalannya. Melihat kemampuan Abduh yang cemerlang, bapaknya membawa dia ke Thanta untuk belajar di masjid Ahmadi bersama saudara dari ibunya yang bernama Syaikh Mujahid. Bersama beliau, Abduh belajar ilmu Tajwid tepatnya pada tahun 1862M/1279H.

Dua tahun berselang, ia mulai belajar ilmu nahwu, salah satu kitab yang ia pelajari adalah Syarh al-Kafrawi ala al-Jurumiyyah di Masjid Ahmadi pada tahun 1864M/1281H. Ia belajar di sana selama satu tahun setengah, namun dia merasakan kekecewaan yang mendalam, alasanya karena Abduh tidak benar-benar paham istilah yang diberikan oleh gurunya. Hal tersebut membuat Abduh menjauh dari masjid selama tiga bulan, ia tidak pernah lagi datang ke halaqah keilmuan yang ada di masjid itu. Syaikh Mujahid yang mengetahui hal tersebut lalu membujuk Abduh untuk kembali belajar, namun Abduh telah terlampau putus asa, ia tidak lagi semangat dan mengambil keputusan untuk pulang ke rumahnya yaitu desa Mahallah Nashr. Dalam dialognya bersama Syaikh Mujahid, ia telah putus asa dan ingin bertani saja seperti kebanyakan warga desa Mahallah Nashr tempat dia lahir.

Salah satu alasan kuat yang membuat Abduh putus asa adalah sistem pembelajaran yang monolog dan tidak memperhatikan pemahaman anak didik. Sistem ini menjadikan anak didik sebatas objek semata, yang membuat dia jenuh dan tidak begitu menangkap apa yang sebetulnya dijelaskan oleh gurunya, hingga akhirnya dia pulang dan memutuskan untuk menikah pada tahun 1865M/1282H Hijriyyah. Setelah 40 hari dari pernikahan, bapaknya kembali mendorong Abduh untuk kembali belajar  ke Thanta. Di pagi hari dia menaiki kuda ditemani saudaranya untuk mengantarkan Abduh pergi ke stasiun kereta dengan tujuan Thanta, namun ditengah jalan Abduh beralasan kondisi cuaca hari itu sangat panas, ia tidak melanjutkan perjalanan Thanta dan pergi ke  desa Kanisah Orin, dan tinggal disana selama 15 hari.

Pertemuan dengan Syaikh Darwisy

Di desa inilah dia bertemu Syaikh Darwisy, seorang pemuka agama yang masih memiliki hubungan darah  dengan bapaknya. Seorang “Kyai Kampung” yang telaten mengajarkan Muhammad Abduh hal-hal yang berkaitan dengan tasawwuf dan hikmah. Hingga suatu hari Syaikh Darwisy meminta Abduh untuk untuk membaca buku yang ia bawa,  namun Abduh menolaknya, dan lebih dari itu, Abduh bahkan tidak segan untuk melempar buku itu. Syaikh Darwisy tersenyum dan terus mencoba mendekati Abduh, hingga hari kedua, ketiga dan seterusnya. Di hari selanjutnya, Abduh mulai bisa menerima pengajaran-pengajaran dari Syaikh Dariwsy, dan ia mulai terkesima dengan pengajaran tasawuuf dari gurunya ini.

Pertemuan dengan Syaikh Darwisy, merupakan pertemuan yang penting dalam perjalanan akademik Abduh, lewat keikhlasan sosok “Kyai Kampung”, Abduh mulai menaruh kecintaan pada ilmu keislaman. Syaikh Darwisy layaknya lentera yang menerangi pemikiran Muhammad Abduh, hingga ia mulai kembali memupuk semangat belajarnya.

Dalam dialog bersama gurunya, Abduh bertanya “Apa Thariqah yang kamu jalani wahai guru?” “Thariqah saya adalah Islam!” “Lalu jika begitu, apakah orang muslim lain saat ini tidak mengikuti thariqah Islam?” “Bukankah kamu melihat mereka gemar bertengkar atas hal-hal sepele? Bukankah mereka suka bersumpah dengan nama Tuhan, namun sebetulnya mereka adalah orang yang berdusta?”. Dialog ini sangat mengesankan, Syaikh Darwisy mengajarkan pada Abduh untuk sejenak merenung dan memikirkan ulang soal makna Islam dan makna muslim. Selain itu, Syaikh Darwisy sedang menerapkan model pengajaran yang mengajak muridnya untuk belajar secara interaktif dan kolaboratif bersamanya, dengan cara ini Abduh mulai terkesima dan menaruh kecintaan pada ilmu keislaman.

Pertemuan dengan Syaikh Darwisy akhirnya berakhir setelah hari ke 15, lewat pertemuan singkat ini Abduh seolah terpacu kembali untuk mempelajari islam. Setelah merasakan kecewa hingga pesimis yang mendalam, kehadiran sosok guru yang mengajarkan tasawwuf membuat Abduh tertarik pada esensi agama yang dia anut, lewat kisah hikmah daripada ulama-ulama saleh, Abduh terkesima dan memulai babak baru dalam perjalanan intelektualnya. Ia akhirnya kembali ke Thanta pada akhir tahun 1865M/1282 Hijriyyah, dan mulai belajar bersama teman-temannya untuk melengkapi ketertinggalan materinya. Hingga ia membulatkan keinginannya untuk hijrah ke Kairo dan belajar di institusi yang hingga saat ini masih konsisten mengajarkan ilmu-ilmu keislaman yaitu al-Azhar al-Syarif.

Abduh sebagai anak kampung lahir dalam lingkungan yang memiliki nilai luhur sejak kecil, ia mulai dikenalkan dengan al-Quran lalu dididik bapaknya untuk segera pergi belajar di masjid Ahmadi, hingga ia bertemu dengan Syaikh Darwisy di desa Kanisah Orin. Guru pertama yang membuat ia simpatik atas ilmu keislaman dan memompa semangatnya untuk lebih giat lagi dalam belajar. Pertemuan dengan Syaikh Dariwsy telah mengubah pandangan dia soal belajar, belajar tidak lagi semata aktivitas yang membosankan, namun belajar justru adalah aktivitas yang menggairahkan hidupnya, hingga selanjutnya sembari belajar di al-Azhar ia melalui perjalanan yang fenomenal dibawah bimbingan gurunya yaitu Jamaluddin al-Afghani.

Oleh; Muhammad Yusmi Ridho (Peserta Abduh Studies)

Exit mobile version