MUHAMMADIYAHMESIR.OR.ID, KAIRO — Pengurus Harian PCI Muhammadiyah dan Aisyiyah Mesir melakukan audiensi dengan jajaran pejabat KBRI Kairo pada Senin (24/8/2026) di Gedung KBRI Kairo, Garden City.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua PCIM dan PCIA Mesir, beserta jajaran pengurus harian. Sementara dari pihak KBRI, hadir Duta Besar, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), serta Sekjen Pensosbud KBRI Kairo. Selain menjadi ajang perkenalan formal kepengurusan baru PCIM Mesir kepada jajaran KBRI, audiensi ini juga menjadi momentum pemaparan dua program strategis PCIM Mesir pada periode ini, yaitu kajian SD Muhammadiyah dan tamlik (pembelian) bangunan TK ABA Kairo.
Fajar Siddiq, Ketua Tim Riset SD Muhammadiyah dan Tamlik Bangunan TK ABA Kairo, memaparkan kondisi terkini TK ABA yang saat ini belum mencapai keberlanjutan secara fiskal. PCIM masih harus menutupi kekurangan biaya operasional TK ABA, terutama pascakenaikan signifikan pada biaya sewa flat di distrik Bawabat.
Selain itu, Fajar juga menjelaskan mengenai rencana pendirian SD Muhammadiyah yang telah menjadi perhatian besar, baik di internal KBRI maupun di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Salah satu latar belakang pembahasan tersebut adalah kondisi Sekolah Indonesia Kairo (SIC) yang saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas.
Sejalan dengan hal tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberi dukungan penuh kepada PCIM Mesir untuk membentuk SD Muhammadiyah, dengan catatan bahwa urgensi dan kajian pendiriannya harus jelas dan matang.
Sebagai tindak lanjut, Tim Riset SD akan melakukan kajian mendalam mengenai relevansi, urgensi, proyeksi, potensi, tantangan, serta kelayakan pendirian SD Muhammadiyah di Mesir. PCIM Mesir juga berencana menyusun naskah akademik dan mengupayakan agar rencana SD Muhammadiyah serta tamlik bangunan TK ABA Kairo masuk dalam pembahasan Muktamar Muhammadiyah mendatang.
Duta Besar KBRI Kairo menyambut baik rencana tersebut. Ia menyatakan bahwa KBRI siap menjadi fasilitator sekaligus membantu menyediakan data, sepanjang data tersebut diizinkan berdasarkan ketentuan perundang-undangan untuk disebarluaskan, guna mendukung penyusunan naskah akademik SD Muhammadiyah. Ia juga menekankan bahwa SD Muhammadiyah ke depan harus bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh masyarakat, tidak terbatas pada warga Muhammadiyah. “Output keluarnya perlu dimaksimalkan dan dimunculkan, harus jadi inklusif sebagaimana Muhammadiyah di Indonesia.”
Sementara itu, Sekjen Pensosbud KBRI Kairo menekankan pentingnya kajian yang komprehensif. Menurutnya, survei tidak boleh hanya menyasar kalangan Masisir, tetapi juga Warga Negara Indonesia (WNI) di Mesir secara keseluruhan. Selain itu, aspek fiskal dan perizinan PCIM juga perlu menjadi bagian dari kajian.
Di akhir sesi, Fajar menegaskan bahwa PCIM Mesir ingin menyelesaikan persoalan secara bertahap dan satu per satu (one by one). Menurutnya, proyek pengadaan atau tamlik bangunan TK ABA Kairo menjadi kebutuhan yang lebih mendesak, mengingat kebutuhan siswa-siswi TK ABA telah menjadi tanggung jawab PCIM dan PCIA Mesir selama 19 tahun terakhir. Setelah persoalan tamlik TK ABA dapat ditangani, kajian pendirian SD Muhammadiyah di Mesir akan direalisasikan secara bertahap pada tahap berikutnya.
Oleh: Fajar Siddiq, Febdiyu Akhmad

