Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Meningkatkan Kepedulian Sesama dan Lingkungan melalui Early Warning System (EWS) Kegawatan Sehari-Hari dan Potensi Bencana di Masyarakat

Kairo, Mesir — MDMC Mesir bekerja sama dengan MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah sukses menyelenggarakan Seminar dan Pelatihan Manajemen Bencana serta Penanganan Gawat Darurat sebagai upaya memperkuat kemampuan kesiapsiagaan masyarakat terhadap situasi darurat dan potensi bencana.

Kegiatan yang menghadirkan narasumber dari MDMC PP Muhammadiyah ini menekankan pentingnya Early Warning System (EWS) dan mitigasi sejak level keluarga hingga komunitas.

Menguatkan Spirit Kemanusiaan Tanpa Batas

Dalam sambutannya, Budi Setiawan, Ketua MDMC Pusat, menegaskan bahwa verifikasi Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah oleh WHO merupakan bukti nyata kepedulian Muhammadiyah terhadap isu-isu kemanusiaan berskala global.

“Relawan harus membantu siapa pun tanpa melihat agama, politik, suku, atau latar belakang lainnya.”
— Budi Santoso, Sekretaris MDMC Pusat

Materi yang dibawakan menekankan bahwa salah satu langkah awal dalam menyiapkan respons bencana adalah memetakan kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas. Kesiapan logistik dan relevansi bantuan terhadap gender serta kelompok usia juga harus diperhatikan.

Perlindungan Berkelanjutan bagi Penyintas Bencana

Wakil Ketua MDMC Pusat, Ibu Khotimun Sutanti, memaparkan materi mengenai Safe Guarding dan kemitraan internasional.

“Semua orang berhak mendapatkan bantuan kemanusiaan. Selain memberi bantuan, kita juga wajib melindungi dan mendampingi mereka.”

Beliau menekankan bahwa perlindungan tidak hanya selesai ketika penyintas dipindahkan ke tempat aman. Dalam posko pun potensi terjadinya kekerasan seksual, penganiayaan anak, dan berbagai kerentanan lainnya tetap ada. Oleh karena itu, desain dan manajemen pengungsian harus mempertimbangkan kebutuhan kelompok rentan.

Dukungan psikososial seperti mendengarkan, menghibur, hingga memberikan kehadiran emosional sederhana juga menjadi bagian penting dalam pemulihan penyintas.

Pelatihan Penanganan Gawat Darurat Sehari-Hari

Sesi pelatihan ditutup oleh Dr. Al Afik, Kasubdit Pengabdian Mahasiswa DRP UMY sekaligus anggota Bidang Diklat MDMC Pusat, yang memberikan materi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD).

“Dalam menolong orang, ada tiga syarat: aman bagi penolong, aman bagi lingkungan, dan aman bagi korban.”

Ia menekankan bahwa menit-menit pertama penanganan korban sangat menentukan keselamatan. Kesalahan kecil dapat meningkatkan risiko kecacatan bahkan kematian. Prinsip utama dalam kondisi darurat adalah tidak panik, mengamati situasi, memastikan jumlah korban, mencari bantuan tambahan, dan memanggil tenaga medis.

Peserta juga diperkenalkan pada sarpras kegawatdaruratan, seperti pemadam kebakaran dan AED (Automatic External Defibrillator).

Materi dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kegawatan umum seperti tersedak, luka bakar, gigitan hewan berbisa, sengatan listrik, sesak napas, hampir tenggelam, patah tulang, keracunan, stroke, hingga henti jantung.

Jika tidak ditangani dengan segera, kasus-kasus tersebut berpotensi menyebabkan kematian.

Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana

Peserta dibekali pengetahuan mengenai potensi bencana di sekitar, seperti gempa, kebakaran, dan banjir. Setelah mengidentifikasi risiko, masyarakat dapat menyusun langkah mitigasi serta melakukan simulasi dan sosialisasi berkala kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Tindakan ini penting agar masyarakat lebih siap, sehingga dapat meminimalkan jumlah korban ketika bencana terjadi.

“Bantuan sekecil apa pun sangat berarti. Saling tolong-menolong adalah kewajiban kita sebagai sesama manusia.”
— MDMC Mesir

Oleh:
Media dan Humas Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Mesir

Exit mobile version