Orang Tua Harus Tau! Ini Cara Ulama Al Azhar Menjawab Pertanyaan Anak Seputar Agama
Di dalam pikiran anak-anak, tentu selalu berputar banyak pertanyaan tentang dunia ini. Dari pertanyaan remeh seperti “Kenapa mobil bisa berjalan?”sampai pertanyaan di luar nalar para orang tua yang sulit untuk dijawab seperti pertanyaan agama dan kepercayaan, yang jika orang tua blunder dalam menjawab, bisa-bisa anak jadi melenceng cara berpikirnya. Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk sama-sama belajar bagaimana cara menjawab pertanyaan anak seputar agama!
Ketika anak-anak memasuki usia aktif dan banyak melontarkan pertanyaan di luar nalar orang dewasa, kebanyakan orang tua lebih memilih untuk mengalihkan ‘topik pembicaraan’ atau malah tidak menjawabnya dan menyodorkan main an yang disukai anak agar dia tidak bertanya yang aneh-aneh lagi.
Namun sikap orang tua yang seperti ini tidak bisa dibenarkan karena akan berdampak langsung kepada pertumbuhan mindset anak. Dilansir dari redaksi CNN Indonesia, Avin Yusro, seorang psikolog dari Rumah Perlindungan Sosial Anak, Kementerian Sosial Republik Indonesia, mengingatkan para orang tua, “Jangan abaikan pertanyaan anak, berikan jawaban bahkan ketika orang tua tidak tahu jawabannya. Dengan begitu, anak bisa mengerti dan belajar bahwa orang tuanya berusaha untuk dirinya, dan anak juga merasa berharga.”
Namun sebagai orang tua, pasti ingin semua yang terbaik bagi anak. Dan harapannya, seremeh pertanyaan anak tentang kenapa mobil bisa berjalan, dapat kita jawab dengan baik dan benar. Apalagi jika pertanyaan anak datangnya dari fitrah manusia itu sendiri, yaitu agama dan kepercayaan.
Pertanyaan Keberadaan Tuhan
Ketika suatu saat anak bertanya, “Yah, Tuhan ada di mana ya?”, sebaiknya orang tua menghindari jawaban-jawaban yang berupa larangan dan penafian seperti, “Ngapain tanya gitu? Udah, gak usah tanya yang aneh-aneh. Nanti kamu masuk neraka!”. Jawaban seperti ini dan semacamnya sangat tidak disarankan.
Diharapkan orang tua dapat memberikan pencerahan kepada anak berupa penjelasan bahwa:
- Keberadaan Tuhan itu tidak terikat oleh waktu dan Tuhan tidak membutuhkan suatu tempat untuk dikatakan ada.
- Berikan penjelasan kepada anak bahwa Tuhan sendiri yang menciptakan waktu dan tempat yang kita ada di dalamnya itu.
- Dan karena Tuhan sendiri yang menciptakan waktu dan tempat itu, maka Tuhan tidak membutuhkan semua itu, Tuhan tidak butuh waktu untuk dibilang kapan Dia ada, dan tidak butuh tempat untuk dibilang di mana Dia berada.
Orang tua bisa memberikan penjelasan bahwa yang membutuhkan waktu dan tempat itu adalah makhluk. Nah, beri contoh bahwa makhluk adalah kita, manusia, hewan dan tumbuhan yang tumbuh di depan rumah. Dan Tuhan bukanlah makhluk.
Semua hal yang terlihat oleh penglihatan dan semua yang terbesit di dalam pikiran, Tuhan adalah kebalikan dari itu semua.
Jawaban orang tua seperti ini sesuai dengan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu “Silahkan berpikir tentang apa saja tapi jangan pernah berpikir (asal) Tuhan.”
Pertanyaan Tentang Penciptaan Tuhan
Pertanyaan “Siapa yang Menciptakan Tuhan” agaknya bukan hanya pertanyaan yang biasanya dilontarkan oleh anak kecil, tetapi beberapa orang dewasa pun masih mempertanyakan hal ini.
Dalam menghadapi pertanyaan seperti ini, penanya perlu diberi penjelasan bahwa Iman kepada Tuhan adalah berupa kepercayaan bahwa Dia yang menciptakan segala hal. Dan karena Dialah yang menciptakan semuanya maka Dia adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum Dia.
Orang tua hendaknya menjawab pertanyaan dengan penjelasan bahwa Tuhan tidak sama dengan makhluk dan bukanlah makhluk. Dan selama Tuhan bukanlah makhluk, maka tidak seharusnya akal bertanya tentang siapa yang menciptakan Pencipta.
Dan sebenarnya, mengenai pertanyaan semacam ini, Rasulullah SAW sudah pernah memberi petunjuk kepada umatnya bahwa pikiran-pikiran yang mempertanyakan keberadaan dan penciptaan Tuhan asalnya dari setan.
Diriwayatkan oleh Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Setan datang kepadamu (dalam pikiran manusia) dengan mengatakan: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Sampai datang pertanyaan Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Dan jika pertanyaan semacam ini datang kepadamu, maka berlindunglah kepada Allah (berta’awudz) dan berhentilah (berpikir demikian).” [H.R. Bukhari dan Muslim]
Semoga kita semua tergolong di dalam golongan hamba yang selamat dari pikiran sendiri dan dari bisikan setan
(Sumber: Buku Al Athfal Yas-aluunal Imam)
Oleh: Marinda Sekar Ayu

Leave a Reply