Abduh Studies: Sebuah Pengantar Sederhana
Menyoal pembaharuan tak ada habisnya untuk didiskusikan. Lebih-lebih bila tidak menghadkan cakupan pembahasannya. Sanya tiga komponen dasar Islam: akidah, syariah, akhlak adalah yang utama dalam isu ini. Melebar lagi, dalam perihal mu’alamah: ekonomi, politik, sosial, dst. Mencuatlah sebuah pertanyaan…. Bagaimana Islam menjawab problema disekitaran hal ihwal itu. Usaha yang tak sebentar lagi menjadi tugas generasi ke depan.
Membahas pembaharuan tak lepas kiranya membahas sosok dibaliknya. Di sini kita kenal banyak a’lam yang turut campur berkecimpung di dalamnya. Dari Timur sampai Barat hampir-hampir tak terkira dalam sejarah. Satu dari sekian banyak itu kami ingin mengangkat satu figur; Syaikh Muhammad ‘Abduh.
‘Abduh dalam Imajiner Khalayak
Mengapa dengan Syaikh Muhammad ‘Abduh ? Barangkali pertanyaan itulah yang mencuat di benak pembaca sekalian. Bukankah tokoh semacam beliau ini sudah banyak dikenal? Kita tahu nama beliau telah kadung melalang buana seantero dunia Islam. Sebagai salah satu pionir pembaharuan, Abduh sudah banyak menginspirasi umat Islam untuk tergugah. Membangun kesadaran dan dhamir-nya. Namun selayaknya tulisan ini tidak untuk membahas profil dan jasa besarnya. Amat naif rasanya bila kami mengulas hal tersebut. Yughni ‘anhu !
Adalah yang masih tersisa untuk diperbincangkan -bahkan boleh jadi sampai kepada perdebatan- bagaimana memandang seorang Muhammad ‘Abduh. Dewasa ini banyak sekali tulisan/riset yang mengkaji pemikiran Muhammad ‘Abduh. Baik berupa tulisan bebas (opini/Essay) maupun yang sistematis ilmiah (jurnal/kertas kerja). Semua itu menyumbang jawaban yang beraneka ragam.
Sengaja kami ketengahkan disini pendapat-pendapat sementara peneliti mengenai aliran teologinya -satu aspek yang kami kira penting dalam sistem bangunan pemikirannya. Mengutip buku bertajuk, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Harun Nasution selaku penulis membeberkan beragam pendapat mengenai corak/aliran teologi Muhammad Abduh. Diantranya, menurut Adams ajaran teologi Muhammad Abduh termasuk ke dalam aliran Ahlusunnah. Bahkan, Horten menyebutnya hingga ke taraf yang ekstrim. McDonald, merincinya ke dalam golongan Maturidiah tanpa menyebutkan secara spesifik aliran tersebut. Dari sini saja, kendati masih dalam satu frame besar Aswaja, para peneliti sudah banyak berbeda pendapat.
Masih dalam buku tersebut, Albert Hourani mengatakan bahwa ajaran teologinya ekletik antara Ahlusunnah (Ghazali/maturidi) dan Mu’tazilah. Abdur Raziq dan Michael memisahkannya. Dalam hal sifat-sifat tuhan Abduh mengikuti Asy’ari. Dan dalam pembelaannya terhadap kebebasan memberi kritik mereka berdua mengidentifikasinya sebagai seorang Mu’tazilah modern. Dan senada dengan yang lainnya, Usman Amin, Gardet, Anawati, Jomier, Caspar, Kerr, memandang terdapat pemikirannya yang sejalan atau sama dengan pendapat madzhab Mu’tazilah. Sampai disini spektrumnya meluas keluar dari kerangka ortodoksi Ahlusunnah.
Usaha Mengenal Lebih dalam
Kepelbagaian pandangan para peneliti ini menunjukkan secara eksplisit kerumitan sistem dan gagasan pemikiran Muhammad Abduh. Barangkali asumsi dan sudut pandang peneliti memberikan pengaruh dalam menilai. Tapi di luar itu semua, sulit rasanya menyatakan bahwa karena itulah yang membuat orang-orang berbeda dalam memandang seorang Abduh.
Dan ini baru satu aspek (Teologi) saja. Bagaimana dengan aspek-aspek yang lain? Tak dapat dipungkiri bila mungkin saja orang-orang akan semakin bersilah pendapat. Dari sini, sulit rasanya menyembunyikan keambiguitasan tatkala membahas tentangnya. Dan kalau mau diperluas spektrumnya, boleh jadi perlu usaha bergenerasi-generasi untuk merampungkan dan membuat konklusi tentang Muhammad Abduh yang sebenarnya. Bukan melebih-lebihkan, hanya praduga semata.
Pertautan Kesejarahan
Belum lagi bila membahas tentangnya, musykil kiranya lepaskannya dari pertautan sejarah di Nusantara. Semenjak di bangku sekolah dulu, ma’ruf nama beliau disebut-sebut dalam sejarah perkembangan Islam modern di Indonesia. bersama Al-Afghani, mereka berdua dikenal sebagai pelopor pembaharuan Islam semasa. Narasi yang mereka kembangkan rupanya sampai di telinga para diaspora Indonesia waktu itu yang tengah menimba ilmu agama di Timur Tengah. Lewat tulisan di ‘Urwatul Wutsqa yang dibaca dan resapi, kelak nantinya sewaktu pulang merekalah yang mengembangkan mengkontekstualisasikan gagasan-gagasan tersebut.
Dari sekian para diaspora tersebut barangkali yang masyhur diantaranya, K.H. Ahmad Dahlan dengan Persyarikatan Muhammadiyahnya. Hingga saat ini keterpengaruhan dan konektivitas Dahlan dengan ‘Abduhlah yang banyak orang mengira melahirkan organisasi Islam Indonesia tertua tersebut. Bahwa ‘Abduh membawakan “spirit Islam yang berkemajuan” itulah yang kiranya berada dalam benak jam’ah Muhammadiyin. Toh, kami tak menampik anggapan tersebut. Namun yang perlu diketahui, aspek-aspek mana sajakah yang menjadi persamaan antara mereka berdua ? Fihi Nadhar !
Kami memandang poin ini amat krusial. Untuk menyebut bahwa Muhammadiyah muncul karena terinspirasi oleh ‘Abduh, maka kita harus mengetahui kesinambungan pemikirannya dengan sang Founding Father, Ahmad Dahlan. Kesinambungan itu dapat diketahui melalui pengetahuan kita mengenai persamaan-perbedaan. Baik antara ‘Abduh dengan Ahmad Dahlan secara personal atau dengan Muhammadiyah secara organisasional. Sayangnya, banyak dari kita yang hanya sebatas meraba-raba persamaan-perbedaan tersebut. Padahal apabila persoalan tersebut dapat terjawab, kita bisa menyimpulkan bahwa Muhammadiyah ada berkat ide/gagasan seorang ‘Abduh !
Ikhtiyar nan Nadir
Nah, didorong oleh semangat ini dan rasa ingin tahu inilah kami membentuk kelompok diskusi bernama Abduh Studies. Kami yang sekarang ini beranggotakan sembilan orang (Yusmi, Azzam, Azzum, Daffa, Ikrom, dua orang bernama Lalu, dan Muadz) berinisiatif untuk mengulik lebih dalam lagi soal pribadi dan pemikiran Muhammad ‘Abduh. Bersamaan itu, premis keterpengaruhan Muhammadiyah dengan gagasannya juga menjadi fokus kita bersama.
Ada dua tahapan bagaimana kita menjalankan gerak lingkaran ini. Pertama dengan melangsungkan kegiatan diskusi rutinan. Pembahasan secara garis besar menyoal genealogi Muhammad ‘Abduh atau sepak terjangnya selama eksis. Setelah bahasan itu dirampungkan, diskusi beranjak kepada perincian ide-ide apa saja yang menjadi benang merah antara Ahmad Dahlan/Muhammadiyah dengan ‘Abduh. Kedua adalah melangsungkan Rihlah Tarikhiyyah; menelusuri tempat dan konteks dimana ada jejak-jejak pemikirannya yang tertinggal.
Kami menganggap ikhtiar dan usaha ini sebagai permulaan di lingkungan masisir lebih khusus lagi keluarga besar Muhammadiyah Mesir. Oleh karena tak adanya role model pasti yang kami ikuti, sangat mungkin sekali bila konklusi yang kami ketengahkan nantinya akan terlihat prematur dari segi keilmiahan maupun validasi. Sehingga ke depan, masukan dan saran konstruktif dari pembaca sekalian tentu amat kami butuhkan. Begitu juga doa dan dukungan baik moril maupun materil. At least, semoga dengan apa yang kami ikhtiarkan ini sekiranya dapat memberikan pandangan baru dan alternatif ketika menyoal pribadi dan gagasan seorang Muhammad ‘Abduh. Atau minimalnya, dapat menyegarkan daya intelektualitas warga Muhammadiyah dalam menelaah dan mengkaji. Supaya klaim “berkemajuan” dapat terbukti dan teruji secara kualitas dan bukan hanya kuantitas !
Oleh : Iwan Soekotjo (Anggota Abduh Studies)

Leave a Reply