Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Al-Azhar: Menjaga Warisan Pendidikan Islam dari Masa Keemasan hingga Era Modern

Pendidikan Islam telah memainkan peran penting dalam membentuk peradaban umat manusia. Pada era keemasan Islam, sekitar abad ke-8 hingga ke-14 Masehi, kota-kota seperti Baghdad, Kairo, dan Cordoba menjadi pusat keilmuan yang mengintegrasikan ilmu agama dan sains secara harmonis. Salah satu warisan terbesar dari masa itu adalah Universitas Al-Azhar, yang didirikan pada tahun 970 M di Kairo. Sebagai salah satu institusi pendidikan Islam tertua yang masih aktif, Al-Azhar tetap menjadi pilar utama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam. Artikel ini akan mengulas bagaimana Al-Azhar mempertahankan esensi pendidikan Islam dari masa keemasan, sekaligus menyesuaikan diri dengan tantangan zaman modern melalui pendekatan berbasis data dan analisis akademik.

Sistem Pendidikan Islam Masa Keemasan

Pada masa keemasan Islam, pendidikan berkembang pesat berkat dukungan para khalifah, ulama, dan masyarakat yang menjunjung tinggi ilmu. Baitul Hikmah di Baghdad, misalnya, tidak hanya menjadi pusat penerjemahan literatur Yunani tetapi juga pusat pengembangan ilmu astronomi, kedokteran, dan matematika. Kurikulum yang diterapkan saat itu mengombinasikan antara ilmu syariat dan ilmu rasional. Para pelajar mendalami Al-Qur’an, hadis, fiqh, dan tafsir, sekaligus mengkaji filsafat, logika, dan ilmu alam. Metode pembelajaran dilakukan melalui halaqah, hafalan, diskusi mendalam, dan ijazah sebagai bentuk pengakuan keilmuan dari seorang guru kepada muridnya.

Zulhimma (2014) menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan Islam saat itu ditopang oleh sinergi antara kekuatan politik, semangat keilmuan, dan sistem pendidikan yang holistik. Para pelajar tidak sekadar menuntut ilmu secara pasif, tetapi juga aktif melakukan rihlah ilmiah—mengembara ke berbagai kota untuk menimba ilmu dari para ulama besar. Proses ini menghasilkan generasi cendekiawan yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara spiritual dan moral.

Al-Azhar sebagai Penerus Sistem Pendidikan Klasik

Berdasarkan literatur dan hasil pengamatan, sistem pendidikan yang diterapkan Al-Azhar memiliki banyak kesamaan dengan pendidikan Islam pada masa keemasan. Mahmud Yunus mengklasifikasikan sistem kurikulum pendidikan Islam klasik ke dalam tiga tingkatan:

  1. Tingkat Dasar (Kuttab): Memfokuskan pada pembelajaran Al-Qur’an, dasar-dasar agama Islam, menulis, berhitung, pokok-pokok nahwu dan sharaf, serta hafalan syair dan kisah-kisah tokoh besar.
  2. Tingkat Menengah: Mencakup kajian Al-Qur’an, bahasa dan sastra Arab, fiqh, tafsir, hadis, balaghah, ilmu pasti, mantiq, ilmu falaq, sejarah, fisika, kedokteran, dan musik.
  3. Tingkat Perguruan Tinggi: Melibatkan kajian ilmu naqliyah (tafsir, hadis, fiqh, ushul fiqh, nahwu, sharaf, dan balaghah) serta ilmu aqliyah (mantiq, ilmu alam, kimia, ilmu pasti, astronomi, filsafat, ilmu hewan, ilmu tumbuhan, dan kedokteran).

Metode pembelajaran di tingkat dasar dan menengah umumnya bersifat individual, mengingat sarana dan prasarana yang terbatas pada masa itu. Lama belajar di kuttab berkisar antara dua hingga lima tahun, dan kelulusan bergantung pada kesiapan individu, bukan pada durasi studi tertentu. Sistem ini tetap dipertahankan oleh Al-Azhar, di mana murid didorong untuk aktif mencari ilmu melalui berbagai majelis keilmuan, diskusi, rihlah ilmiah, serta interaksi langsung dengan para ulama.

Lahir di era Fatimiyah, Al-Azhar pada awalnya adalah masjid jami’ yang kemudian berkembang menjadi pusat keilmuan. Fattah (2019) mencatat bahwa sejak abad ke-10, Al-Azhar mengalami perubahan signifikan menjadi universitas formal dengan kurikulum yang lebih terstruktur. Ilmu yang diajarkan mencakup ilmu naqliyah seperti tafsir, fiqh, dan hadis, serta ilmu aqliyah seperti logika, matematika, dan kedokteran. Dengan demikian, Al-Azhar terus mempertahankan kesinambungan dengan sistem pendidikan masa keemasan Islam.

Metode talaqqi dan sanad masih menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Al-Azhar, memastikan integritas keilmuan tetap terjaga. Kurikulumnya terus berkembang secara bertahap tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamental Islam. Pemberian ijazah dari guru kepada murid tetap dipertahankan sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian akademik. Kehadiran ilmu modern tidak menggeser nilai-nilai klasik, melainkan memperkaya wawasan para santri dan mahasiswa.

Berdasarkan data dari Statista (2022), Al-Azhar mengelola lebih dari 11.314 institusi pendidikan di seluruh Mesir, dengan total 2.213.890 siswa di tingkat dasar hingga menengah serta 371.034 mahasiswa universitas pada tahun akademik 2021/2022. Jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya, menjadikan Al-Azhar sebagai sistem pendidikan Islam terbesar secara global yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Memasuki abad ke-19, Al-Azhar menghadapi tuntutan reformasi. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Muhammad Ali Pasha berperan dalam mendorong modernisasi pendidikan di Al-Azhar, termasuk pengadopsian sistem universitas Barat dan perluasan bidang studi. Maftuhah et al. (2024) mencatat bahwa transformasi ini menimbulkan dialektika antara mempertahankan tradisi dan menerima inovasi. Namun, Al-Azhar berhasil menyeimbangkan kedua aspek ini dengan tetap menanamkan nilai moderat, mengedepankan toleransi, dan menjaga otoritas keilmuan.

Sebagai lembaga akademik dan otoritas keagamaan, Al-Azhar memainkan peran penting dalam membentuk narasi keislaman yang damai dan inklusif. Pendidikan di Al-Azhar tidak hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter yang berakhlak mulia. Hal ini menjadi tameng dalam menghadapi ekstremisme serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan Islam.

Al-Azhar adalah representasi nyata dari keberhasilan sistem pendidikan Islam yang mampu bertahan dan berkembang dari masa keemasan hingga era modern. Dengan tetap mempertahankan fondasi adab, kedalaman ilmu, dan metode pembelajaran berbasis guru-murid, Al-Azhar membuktikan bahwa pendidikan Islam tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga menjadi pilar utama peradaban. Transformasi kurikulum dan penerimaan ilmu kontemporer tidak membuat Al-Azhar kehilangan identitasnya, melainkan semakin mengokohkan perannya sebagai penjaga warisan keilmuan Islam. Dengan demikian, Al-Azhar menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas yang tetap relevan bagi generasi Muslim saat ini.

Oleh: Ariyo Lanang Narashangsa

Referensi: Fattah, M. A. (2019). Higher Islamic education and the development of intellectualism in Egypt: Case study of Al-Azhar education system. Interdisciplinary Journal of Education, 2(2), 45-56.

Maftuhah, M., Rahman, A., & Yusuf, S. (2024). Revolutionizing Islamic religious education: Transforming paradigms from Al-Azhar in anticipation of the future. Naturalistic Journal, 9(1), 529-540.

Statista. (2022). Number of Al-Azhar students by educational level in Egypt 2021/2022. Retrieved from https://www.statista.com/statistics/1252745/number-of-azhar-students-by-educational-level-in-egypt/

Zulhimma. (2014). Sejarah pendidikan Islam pada masa kegemilangan Islam. Nur El-Islam, 1(1), 17-25.

Al-Azhar University. (2024). Official website. Retrieved from http://www.azhar.edu.eg

Exit mobile version