Karya Tulis
Beranda » Blog » Apa Itu Keadilan Gender ?

Apa Itu Keadilan Gender ?

Januari 2023 yang dingin, awan tebal menyelimuti langit Kairo. Angin berhembus kencang. Kabut tipis menghalangi jarak pandang. Ibu kota Mesir itu lengang. Jarum jam berhenti tepat di angka tiga pagi. Seorang pemuda berpeci dan berambut ikal nan tebal sedang khusyuk duduk di atas sajadah di kamarnya. Di tengah keheningan, ia larut dalam munajat dan taqarrub kepada Ilahi. “Astaghfirullahal ‘Adzim, alladzi la ilaha illa huwal Hayyul Qayyumu wa atuubu ilaih.” Lirihnya ketika ia melantunkan dzikirnya dalam dekapan dinginnya udara dan sunyinya suasana. Tak lupa, ia berdoa untuk kebaikan dunia dan akhiratnya, khususnya untuk kelancaran ujiannya siang nanti.

Namanya Ridho, ia adalah salah satu mahasiswa Universitas Al-Azhar tingkat satu. Ia merupakan pelajar yang rajin dan memiliki disiplin yang tinggi. Tak heran, ia selalu datang tepat waktu jika memiliki janji dengan seseorang, dan selalu datang lebih awal ke tempat belajar. Ia tinggal satu rumah dengan enam orang teman lainnya, dan ia termasuk orang yang paling sedikit berbicara dibandingkan dengan enam temannya itu. Ia hanya berbicara seperlunya saja. Meskipun ia tak banyak bicara, tetapi ia memiliki rasa penasaran yang besar ketika mendengar sesuatu yang baru, apalagi jika hal itu ada hubungannya dengan ilmu. Ia bisa berbicara sampai berjam-jam hanya membahas satu masalah dalam suatu fan ilmu, sampai-sampai membuat teman-temannya geleng-geleng.

Pagi itu, hembusan angin musim dingin mengalir menerpa setiap sela-sela dinding apartemen. Angin itu menyebar menciptakan kesejukan di seluruh isi rumah. Ridho, yang saat itu telah pulang dari masjid, langsung mengambil Al-Qur’an yang berada di rak buku. Kemudian ia duduk di pojok kamarnya sambil menghadap kiblat dan mulai membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an.

“Kriiing…!” suara notifikasi keluar dari handphone Ridho yang berada di atas meja tak jauh dari tempat ia duduk. Ridho yang telah selesai membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an langsung menyimpannya lalu mengecek handphonenya itu. Wajahnya tampak serius dengan dahi agak sedikit mengkerut ketika dia membaca pesan dari nomor yang tidak dikenalnya itu.

“Apa itu keadilan gender? Apakah sama antara keadilan gender dan kesetaraan gender? Apakah keduanya sesuai dengan ajaran Islam? Kalau tidak, manakah yang sesuai dengan ajaran Islam? Atau keduanya tidak termasuk sama sekali?”

Sebenarnya ini bukan kali pertamanya dia mendengar isu tentang keadilan gender, kesetaraan gender, atau yang semisalnya. Sewaktu ia masih duduk di bangku MTs, dia sering mendengar isu-isu tersebut dari berita televisi. Bahkan di perpustakaan sekolahnya dulu, ia sempat mendapati pernyataan tersebut. Namun, waktu itu pemikirannya belum terlalu kritis seperti sekarang. Beberapa detik setelah membaca pesan misterius itu, ia menyadari pentingnya mengetahui definisi atau pengertian dari pernyataan tersebut. Dan itu sesuai dengan apa yang ia baca di dalam buku “Ilmu Mantik”, yang mana bagian pertama pembahasannya itu tentang pentingnya mengetahui definisi tentang suatu hal. Karena dengan definisi yang cacat akan menghasilkan pemahaman yang cacat juga, dan itu kerap kali menimbulkan kerusuhan yang tidak diinginkan.

“Iya juga ya. Keadilan gender? Kesetaraan? Apa bedanya ya?” pikirnya dalam diam. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya penasaran sekarang. Namun, apalah daya, ada yang lebih penting dari sekedar memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, yaitu ujian terakhir siang nanti. Dengan rasa penasaran yang masih terlintas dipikirannya, Ridho meletakkan handphone-nya kembali di atas meja dan segera mengambil diktat kuliahnya kemudian membacanya. Setelah itu, ia pergi ke kampusnya guna menuntaskan ujian terakhirnya itu.

Angin berhembus sayup-sayup menyapu wajah Ridho yang tampak bahagia sedang berdiri di depan pintu kampus yang telah menuntaskan ujian terakhirnya itu. Kemudian ia bergegas pulang ke rumah dengan hati lapang. Sesampainya di rumah, ia teringat akan pesan misterius tadi pagi. Ia berpikir, “Kemana dan bagaimana saya mencari jawaban itu?” Akhirnya, ia putuskan untuk bertanya kepada gurunya yang berada di Indonesia. Diambilnya telepon genggam miliknya. Kemudian, ia menulis pertanyaan yang sama seperti yang diterimanya tadi pagi. Tentu saja, ia tidak bisa langsung mendapatkan jawabannya karena di Indonesia sekarang adalah waktu orang-orang beristirahat. Terpaksa, ia harus menunggu hari esok.

Pagi itu udara tidak terlalu dingin. Angin sejuk berhembus dari utara menyapu setiap sudut kota Kairo. Ridho yang tengah duduk di balkon menikmati hangatnya belaian matahari terbit dengan handphone di tangan, ia bersiap menerima jawaban gurunya atas pertanyaannya kemarin. Dan benar saja, ia mendapati jawaban gurunya yang singkat berbunyi: “Wa’alaikumussalam, suka sesama jenis. Kaji sama antum kasus umat Nabi Luth.” Mata Ridho sedikit terbelalak kaget membaca pesan singkat gurunya itu. Karena jika yang dimaksud keadilan atau kesetaraan gender itu suka sesama jenis, jelas ini suatu yang serius. Ditambah lagi, sekarang kasus LGBT sedang marak terjadi dimana-mana. Ia bertanya kepada teman serumahnya, tidak ada yang bisa memberi pendapat. Terpaksa harus mencari sendiri. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan segera duduk di kursi belajar di kamarnya sambil menyiapkan pulpen dan buku.

Pertama-tama, ia mencari arti kata “keadilan”, “kesetaraan”, dan “gender” itu sendiri. Ia mulai mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurut KBBI, “keadilan adalah sifat (perbuatan, perlakuan, dan sebagainya) yang adil.” Sedangkan adil itu sendiri artinya sama berat atau tidak berat sebelah. Dalam ungkapan bahasa Arab, adil itu berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan inilah pandangan yang diamini Ridho. Adapun arti “kesetaraan”, ia tidak menemukannya, hanya saja ia menemukan arti kata “setara”, yaitu sejajar, sama tingkat, sepadan, atau sebanding. Sedangkan “gender” berarti jenis kelamin. Kemudian Ridho membandingkan arti kata “adil” dan “setara” menurut KBBI. Ia berpendapat bahwa tidak ada perbedaan berarti antara adil dan setara jika menilik KBBI. Arti keduanya tidak jauh berbeda yaitu “sama atau sepadan”.

Namun, jika ia bandingkan dengan arti adil menurut ungkapan Arab, jelas sekali perbedaan keduanya. Karena adil tidak mesti sama, sedangkan setara itu pasti sama. Dan sekarang dia mulai mencari apa maksud dari keadilan dan kesetaraan gender itu. Ia sempat bertanya lagi pada teman satu kamarnya mengenai perbedaan antara keduanya. Menurut pendapat temannya, keadilan gender itu lebih ke hak setiap gender, baik pria maupun wanita. Mereka berhak mendapatkan keadilan dan hak yang sama. Namun, temannya itu tidak menyinggung kesetaraan gender. Akan tetapi, dari sini Ridho berpendapat bahwa kesetaraan gender itu adalah penyamarataan kedudukan, baik pria maupun wanita, dalam segala aspek kehidupan. Artinya, pria dan wanita tidak memiliki perbedaan yang esensial. Meskipun secara lahiriahnya pria dan wanita itu berbeda watak dan tabiatnya. Sehingga bisa saja dari sini muncul orang-orang yang suka sesama jenis. Itu disebabkan karena mereka memandang semuanya setara atau sama, baik suka ke pria atau wanita.

Tiga jam berlalu begitu saja. Ridho belum selesai dari pencarianya itu. Bermodalkan penjelasan-penjelasan yang ia dapatkan dari YouTube, Google, gurunya, dan temannya, kini ia mulai merangkai kesimpulan dari semua itu menurut pendapat yang diyakininya. Menurutnya, “keadilan gender adalah pemberian hak-hak yang sama terhadap pria maupun wanita sesuai kapasitasnya dalam kehidupan tanpa melampaui batasnya sebagai pria atau wanita. Karena keduanya tentu memiliki fitrah kemanusiaan yang berbeda. Maka dari itu, adil itu tidak mesti sama. Sedangkan kesetaraan gender adalah upaya penyetaraan atau penyamarataan kedudukan baik laki-laki maupun perempuan. Padahal kita tahu bahwa agama Islam telah mengangkat derajat wanita. Kenapa menuntut kesetaraan? Bukankah itu sama saja dengan menurunkan derajatnya?

Oleh karena itu, seharusnya yang ditegakkan adalah keadilan bukan kesetaraan. Karena antara pria dan wanita itu berbeda. Dan itu agar kita saling melengkapi dan menjaga keseimbangan hidup,” tulis Ridho di bukunya. Ia sadar bahwa ini hanyalah kesimpulan sementara. Karena ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Tetapi, membutuhkan pengkajian lebih dan tentunya waktu yang dihabiskan tidak sedikit. Apalagi jika yang dimaksud adalah suka sesama jenis seperti yang dikatakan gurunya. Ia belum bisa menemukan jawabannya akan hal itu. “Mungkin cukup sampai di sini dulu, nanti akan kulanjutkan pencarian ini,” gumam Ridho dalam hatinya. Setidaknya ini bisa mengobati rasa penasarannya mengenai keadilan gender.

 

Oleh : Ridwan Hilmi

 

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share