Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Apakah Agama adalah Logika Mistika yang Menyebabkan Kemunduran?

Tempo hari, saat berseluncur di media maya, saya menemukan postingan video dari akun Malaka Project di instagram. Di video tersebut, terlihat seorang perempuan berbicara di depan audiens tentang pemikiran Tan Malaka mengenai logika mistika. Perempuan tersebut berkata, bahwa penyebab kemunduran masyarakat Indonesia adalah pola pikir mereka yang masih terbelenggu oleh logika mistika.

Pengertian Logika Mistika

Secara singkat, Tan Malaka mengartikan logika mistika sebagai “paradigma berpikir yang menganggap bahwa segala sesuatu disebabkan oleh pengaruh atau hal-hal gaib.” Menurutnya, paradigma berpikir inilah yang menyebabkan kemunduran masyarakat Indonesia. Baginya, masyarakat Indonesia harus meninggalkan pola pikir seperti ini, dan merubahnya menjadi pola pikir realistis, sudah seharusnya segala tindakan  masyarakat ataupun kebijakan penguasa  berdasarkan pada hal-hal empiris yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Contoh dari perlakuan masyarakat yang masih terbelenggu logika mistika adalah ketika seseorang mempercayai bahwa jimat dapat mempengaruhi keberuntungannya, statement ini dianggap tidak bersumber dari observasi yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Atau dalam ranah yang agak sensitif, doa atau amalan-amalan umat beragama yang dianggap membawa keberuntungan juga dapat digolongkan sebagai logika mistika.

Agama dan Logika Mistika

Jika maksud logika mistika yang menyebabkan kemunduran mitos-mitos atau tahayul yang beredar di masyarakat (seperti jimat tadi), ini sah-sah saja, namun jika yang dimaksud logika mistika adalah agama-terutama Islam-, maka hal ini salah besar. Memang dalam agama terdapat kepercayaan bahwa ada kekuatan lain yang mempengaruhi alam semesta ini kecuali yang tampak, namun hal itu tidak termasuk hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Syekh Said Ramadhan Buthi, dalam kitabnya “manil mas’uul ‘an takhallufil muslimin”, kebenaran tidak hanya didapat dari apa yang dirasakan oleh pancaindera dan penelitian-penelitian  yang dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok. Lebih dari itu, kebenaran bisa didapatkan dari hal lain yang dinamakan “kabar benar yang meyakinkan”

Sudah menjadi kesepakatan para ilmuan, bahwa “kabar benar yang meyakinkan” ini bisa membuktikan kebenaran, jika memenuhi dua syarat. Pertama, kabar ini bersumber dari dzat yang memilki kredibilitas dalam memberikan sebuah pernyataan, seperti ahli dalam bidang tersebut. Kedua, kabar tersebut sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung kepada kita dengan cara yang sahih terlebih lagi jika sampai derajat  mutawatir.

Sanad dianggap sahih jika perawinya bersambung kepada pemberi kabar dan semua perawinya bukanlah orang yang berbohong. Sedangkan mutawatir, adalah bersambungnya kabar dari pemberi kabar ke kita dengan jumlah orang yang mustahil bagi mereka untuk berbohong bersamaan.

Contoh Kabar yang Memenuhi Syarat Sebagai Kabar Meyakinkan

Dapat diambil contoh adalah ketika kita mendengar kabar dari BMKG bahwa akan turun hujan di siang hari. Saat itu, kita akan mempercayainya tanpa melakukan observasi ataupun penelitian, ini terjadi karena kabar yang kita terima memenuhi dua syarat diatas.

BMKG adalah sumber yang kredibel untuk memberikan pernyataan tentang cuaca, dengan ini syarat pertama terpenuhi. Kabar itu juga sampai ke kita dengan beberapa cara, salah satunya adalah dari stasiun televisi ataupun radio, dua jalur tadi adalah rawi yang kita percaya kredibilitasnya untuk menyampaikan kabar karena kita mempercayai mereka tidak pernah menyampaikan kabar hoax, dengan ini, syarat kedua terpenuhi.

Lantas apa yang menghalangi untuk mempercayai kabar yang diberikan oleh pemilik alam semesta yang sudah pasti merupakan etinitas yang mempunyai kredibilitas untuk memberikan pernyataan tentang sesuatu? Kepercayaan kepada Allah melazimkan kepercayaan  kepada Rasulullah Muhammad sebagai pembawa kabar dari Allah, dan Al-qur’an sebagai perkataan Allah.

Kabar dari Al-Qur’an dan Rasulullah sampai kepada kita dengan sanad yang bersambung, dan para perawinya dapat dipercaya karena mereka bukan dikenal sebagai orang pendusta ataupun orang yang cacat hafalannya, khusus untuk Al-Qur’an, semuanya sampai kepada kita dengan cara mutawatir.

Lantas apa yang menghalangi seseorang mempercayai bahwa shalat duha dapat memperlancar rezeki ketika itu disampaikan oleh Allah Tuhan semesta alam? Apa juga yang membuat seseorang menolak percaya bahwa doa dapat merubah nasib seseorang?

Dasar kepercayaan seorang muslim kepada Allah, Rasulullah, dan Al-Qur’an juga bukan merupakan kepercayaan buta tanpa bukti yang kuat. Kepercayaan mereka terhadap tiga hal tersebut merupakan hasil dari bukti-bukti aksiomatik  yang tak terbantahkan.

Menggabungkan Antara Ikhtiar Lahiriah dan Batiniah

Walau begitu, harus diperhatikan kendati Islam mengajarkan bahwa doa dan amalan-amalan batiniah dapat mempengaruhi sesuatu, sehingga itu juga bagian dari ikhtiar seorang muslim. Tidak seharusnya juga umat muslim meninggalkan ikhtiar lahiriah yang berbasis ilmu-ilmu modern seperti fisika, ilmu ekonomi, ilmu politik dan lain-lain. Hal ini jauh-jauh hari sudah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad dalam kehidupannya.

Dalam menghadapi musuh-musuhnya, Rasulullah tidak cukup berdoa, mengangkat tangan, dan membaca amalan-amalan untuk kemenangan. Tetapi Rasulullah melakukan ikhtiar lahiriah yaitu merencanakan strategi peperangan dan turun langsung ke medan perang.

Walhasil, tidak seharusnya bangsa ini meninggalkan kepercayaan terhadap hal-hal ghaib yang diajarkan agama dan berfokus hanya pada penelitian empiris untuk menuju kemajuan. Tapi kedua hal tersebut bisa berjalan bersamaan untuk mencapai kemajuan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah empat belas abad yang lalu.

Ditulis oleh: Muadz Royyan

Exit mobile version