Belajar di Era Viralitas: Menemukan Esensi di Tengah Distraksi
Kita hidup di zaman di mana informasi tersebar begitu mudah dan cepat. Dalam hitungan detik, kita bisa tahu apa saja yang terjadi di belahan dunia lain. Tapi, apakah semua informasi itu benar-benar menjadi ilmu yang hakiki? Banyak pelajar hari ini yang merasa tahu banyak, padahal sebenarnya hanya mengumpulkan potongan informasi tanpa pemahaman mendalam. Ini ibarat memakan banyak makanan tanpa benar-benar mencerna, akhirnya kenyang tanpa gizi.
Mungkin kita pernah merasa sudah tahu hanya karena menonton video penjelasan singkat di media sosial. Namun, ilmu sejatinya bukan hanya tahu, tapi memahami, merenungkan, dan mempraktikkan. Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta‘lim al-Muta‘allim menegaskan bahwa ilmu itu harus diperjuangkan dengan kesungguhan dan bimbingan guru. Artinya, tidak cukup hanya klik dan scroll, tapi butuh proses dan kesabaran.
Kondisi seperti ini sering terjadi ketika pelajar memiliki kesadaran mitis, yaitu anggapan bahwa akses informasi sama dengan penguasaan ilmu. Ini merupakan illusion of competence (Brown, Roediger, McDaniel, 2014), yaitu merasa mampu karena paparan informasi tanpa pengolahan mendalam. Untuk itu, diperlukan filterisasi informasi, yakni kemampuan memilah data, informasi, dan ilmu. Dalam epistemologi Islam, filterisasi adalah bentuk tazkiyah, penyucian terhadap ilmu yang dipelajari. Az-Zarnuji menekankan bahwa ilmu harus dipilih berdasarkan manfaat dunia dan akhirat, bukan sekadar mengejar popularitas atau viralitas dengan dalih personal branding.
Sekarang, dengan alasan personal branding, banyak orang belajar atau ‘mengajar’ agar viral. Tujuan utamanya bukan lagi untuk memahami atau memberi manfaat, tapi agar mendapat banyak “like” dan “share”. Ini disebut sebagai komodifikasi ilmu, yaitu Ketika ilmu dijadikan barang dagangan untuk hiburan. Dan itu yang terjadi di kalangan pelajar sekarang: ketagihan viralitas dan validasi sosial. Padahal, dalam Islam, ilmu seharusnya dipelajari dengan niat yang lurus. Ibnu Jama‘ah mengingatkan, jangan sampai belajar hanya demi pujian orang lain. Ilmu yang bermanfaat bukan yang viral, tapi yang membawa perubahan baik.
Karena sering memperoleh informasi, kita kadang merasa sudah cukup berilmu. Ini disebut “ilusi kepandaian.” Sebenarnya, tanpa mendalami, kita hanya tahu permukaan. Maka penting untuk menyaring informasi. Tidak semua yang ramai dan viral harus kita ikuti. Az-Zarnuji menyarankan agar kita memilih ilmu yang membawa manfaat dunia dan akhirat, bukan hanya ikut tren. Bukan berarti kita tidak boleh membagikan manfaat dari apa yang kita pelajari, tapi hendaknya kita menyampaikan ilmu sesuai amanah keilmuan.
Pembahasan tentang niat telah lama dikaji oleh para cendekiawan. Ini sangat relevan di masa sekarang di mana orang-orang bersaing mendapatkan panggung publik. Apakah kemuliaan ilmu tampak? Orang menjadi terhormat bukan karena ilmunya, tapi karena dalam dirinya terdapat ilmu. Sudahkah representasi ilmu itu hadir dalam diri para pelajar?
Dalam Islam, ilmu adalah cahaya. Cahaya tidak bisa masuk ke hati yang kotor. Artinya, jika kita ingin ilmu masuk dan bermanfaat, hati kita harus bersih dari niat buruk, sombong, dan maksiat. Para ulama klasik hingga kontemporer telah memberi perhatian besar dalam hal ini, di antaranya Imam Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim, Ibnu0 Jama‘ah dalam Tadzkirotus Sāmi‘, dan Syekh Ahmad Tijani dalam Kasyfu al-Ghitha’. Mereka membahasnya secara komprehensif mulai dari niat, akhlak, hingga penyelarasan hati dan pikiran.
Tujuan belajar bukan untuk pamer, tapi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. Ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa baik kita menjadi dan seberapa banyak manfaat yang kita berikan. Seperti kata Az-Zarnuji, “Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak masuk ke hati yang sombong.”
Di tengah derasnya informasi dan godaan viralitas, mari kita kembali ke esensi belajar: memperbaiki diri dan memberi manfaat. Belajar adalah perjalanan, bukan perlombaan. Mari kita nikmati prosesnya dan menjaga hati tetap bersih. Karena pada akhirnya, ilmu yang berkah adalah ilmu yang membawa kita semakin dekat pada kebaikan.
Pandangan ini selaras dengan etika Socrates, yang menekankan bahwa pengetahuan sejati melahirkan kebaikan. Bagi Socrates: “No one does wrong willingly.” Artinya, orang yang benar-benar tahu tentang kebaikan tidak akan berbuat jahat, karena pengetahuan (ilmu) dan kebajikan (akhlak) tidak bisa dipisahkan. Maka, orang yang belajar sejati pasti akan terlihat dari moral dan akhlaknya.
Oleh: Ariyo Lanang Narashangsa

Leave a Reply