Di tengah cuaca Kairo yang sangat dingin satu minggu ini, Cairo International Book Fair atau CIBF, akan menjadi alasan besar bagi pecinta buku untuk bergegas dan melawan rasa dingin itu. Benar saja, kru Bibliotek MD yang menjadi bagian dari Majelis Pustaka dan Informasi PCIM Mesir mengagendakan acara Rihlah Ma’ridh di tengah dingin yang menyengat Kairo, seolah buku-buku di CIBF sudah menyapa dan memberi kehangatan jiwa bagi para pembacanya.
CIBF pertama kali digelar pada tahun 1969, terhitung hingga tahun ini telah terlaksana pameran buku sebanyak 55 kali. Pada hari ini, banyak sekali pengunjung yang berdatangan, ada yang datang bersama keluarga, teman atau bahkan sendiri saja. Kendaraan umum berjejer mengantarkan para pengunjung hingga di depan gate yang diinginkan, petugas kepolisian dengan sigap menertibkan kondisi di sekitar agar suasana tetap kondusif dan nyaman. Di tahun kemarin saja, tercatat pengunjung acara CIBF ini mencapai 1.329.822. Angka yang sangat fantastis, dalam waktu dua minggu ada sekitar 1,3 juta jiwa berkumpul untuk mencari buku yang mereka inginkan.
Siang itu, bertepatan pada hari Selasa, 30 Januari 2024, Crew Bibliotek MD bersepakat untuk bekumpul di depan Hall 3 pada pukul 13.00. Diawali dengan sarapan bareng makanan khas Mesir yaitu kusyari yang dibandrol 30 pound saja. Setelah menyantap sarapan, kita melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi toko buku yang berada di Hall 1.
Sebelum perjalanan, M Yusmi Ridho selaku anggota MPI PCIM Mesir berpesan bahwa rihlah kali ini tidak akan mengitari toko buku yang rata-rata dikunjungi oleh Masisir. Mengingat kru Bibliotek MD dirasa telah akrab dengan buku-buku klasik atau turats yang tersedia sangat banyak di sekitar masjid al-Azhar dan stand Hall 4. Bahkan toko buku itu juga membuka stand di pameran buku kali ini. Eman-eman jika momentum CIBF hanya digunakan untuk membeli dan mengenal buku-buku klasik saja di tengah pameran buku yang menghadirkan berbagai jenis buku dan penulis.
Salah satu maktabah yang dikunjungi pada siang itu adalah Muassasah Hindawi Hall 1 A-46 sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dibedang percetakan, dan diresmikan di Kairo pada tahun 2007. Buku-buku yang dicetak rata-rata menyangkut ilmu-ilmu sastra, sosial, seni, dan lain-lain. Salah satu kitab terkenal yang juga masih banyak dirujuk dan dibicarakan adalah buku yang ditulis oleh Hasan Hanafi berjudul al-Turats wa al-Tajdid. Buku fenomenal yang menjadi salah satu magnum opus dari pemikir berkebangsaan Mesir itu, berisi tentang penjelasan bagaimana semestinya sebuah pembaruan itu digerakkan. Buku tersebut dibandrol sekitar 150 pound atau 70.000 rupiah, harga yang cukup murah jika dibanding dengan isi bukunya.
Maktabah lain yang membuat kita cukup lama berdiri dan mengitari buku-buku yang ada di situ adalah Markaz Nama’ Lilbuhuts Wa al-Dirasat Hall 2 B21. Di sini banyak sekali “Dirasah” yang dikembangkan oleh berbagai peneliti. Salah satu buku yang juga disebut oleh Amin Abdullah mantan ketua MTT PP Muhammadiyah adalah buku berjudul “Tadakhul al-Ma’arif Wa Nihayatu al-Takhassus fi al-Fikri al-Islamiy al-Arabiy” buku yang membahas tentang sifat ilmu yang saling berkelindan satu sama lain atau dalam istilah Amin Abdullah adalah Interkoneksi. Buku ini ditulis oleh Muhammad Himam penulis asal maroko yang memiliki spesialisasi di ilmu filsafat dan balagah.
Di stand ini juga didapati buku lain karya Wael B Hallaq berbahasa arab, seorang Professor di Universitas Columbia dalam bidang studi Hukum Islam. Salah satu buku yang tersedia ada Ma Hiya al-Syariatu? , Dirasah fi al-Fiqhi al-Islamiy dan juga Hal Sudda Babu al-Ijtihad? Serta buku-buku tematik Islam lain yang lumayan menggelitik pemahaman normatif kita selama ini.
Di Hall 3 ada toko buku di C-18 bernama Dar Saaqi, di situ ada beberapa buku salah seorang filsuf Perempuan terkenal yaitu Hannah Arrendt, serta pemikir islam asal Aljazair yaitu Muhammad Arkoun, dan banyak sekali buku-buku yang ditulis oleh pemikir asal Syria Muhammad Syahrur (walau para pemikir tersebut cukup kontroversial). Harga yang dibandrol cukup tinggi, untuk satu buku dari Hannah Arendt saja dibandrol sekitar 900 pound atau 400 ribu Rupiah.
Tentu masih banyak lagi buku-buku yang bisa dinikmati dari pagelaran CIBF ini, mengingat rata-rata toko buku yang hadir d CIBF tidak semua berasal dari Mesir. Ada sekitar 916 toko buku dan diikuti oleh 70 negara yang berbeda. Maka saya pikir eman-eman jika harus jauh-jauh ke Ma’ridh dan masih membeli buku turats yang sebetulnya juga tersedia di toko buku yang ada di sekitar masjid al-Azhar dan Hall 4 saja.
Acara rihlah kemudian diakhiri hingga pukul 17.00, berkumpul di tempat yang sama yaitu pintu masuk Hall 3. Teman-teman kru BibliotekMD sambil berbisik-bisik tentang harga buku CIBF kali ini yang naik sangat tinggi. Semisal buku Tafsir Wadhih di tahun lalu dibanderol sekitar 300 pound dan kini menyentuh angka 2000 pound.
“Kalo buku-buku di Markaz Nama’ ada PDFnya, saya masih mikir-mikir untuk membeli bukunya” kata Fajar setelah mengetahui harga yang ada di Markaz Nama’. Celotehan Fajar tentu dalam konteks bercandaan sesama mahasiswa yang memang belum punya uang lebih untuk membeli buku yang harganya sangat tinggi itu.
Akhirnya kita pulang dengan buku masing-masing yang tidak begitu banyak, namun paling tidak kita dapat pengetahuan baru bahwa CIBF ini tidak hanya tentang Hall 4 saja, masih ada 3 Hall lain yang penting untuk dikunjungi. Sehingga keilmuan Masisir semakin kaya dengan khazanah turast dan kontemporer.
Oleh : M. Yusmi Ridho

