Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Dari Ramadhan Hingga Peradaban

Bulan Ramadhan diidentikkan dengan agenda-agenda dan ibadah yang bersifat spiritual dan Keagamaan. Ketika anak SD diberi buku list agenda ramadhan misalnya, maka dapat kita Pastikan bahwa mereka ditugasi untuk membaca Al-Qur’an beberapa lembar, sholat 5 waktu, serta ibadah lainnya. Dalam Islam, yang demikian diistilahkan dengan ibadah mahdhah. Ia memiliki aturan baku dan memiliki tata cara khusus. Jika dimaknakan secara luas, ibadah juga mencakup seluruh perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah; detak hati, derap langkah, gerak lisan.

Apa saja yang mendatangkan kecintaan Allah, maka itu adalah ibadah. Rutinitas kita di dunia yang makin hari makin sibuk seringkali membuat kita tak sadar untuk apa dan untuk siapa kita mengabdi. Hal-hal itu seringkali mengaburkan tujuan dari eksistensi kita di alam raya ini. Padahal orientasi keberadaan kita di panggung dunia adalah untuk tujuan ibadah, mencurahkan persembahan penuh dengan ketundukan dan penghinaan diri terhadap pencipta semesta alam. Ramadhan hadir mengingatkan kita. Ramadhan datang dengan suasana yang penuh dengan nuansa ibadah. Bukankah ketika Ramadhan kita berusaha memanfaatkan setiap detik yang kita punya agar tak lepas dari ibadah kepada-Nya? Padahal begitulah seharusnya hari-hari kita sebagai muslim sepanjang masa.

Segala dimensi kehidupan kita memang seharusnya bertujuan untuk melakukan penghambaan kepada Allah taala. Maka konsekuensinya, setiap lini hidup kita mestinya selalu berkaitan dan tunduk pada aturan Tuhan semesta. Dari mulai ibadahnya, pekerjaannya, politiknya, sampai urusan yang remeh temeh sekalipun.

Ketika Allah hendak menciptakan suatu entitas di muka bumi bernama manusia, maka Allah juga menyertakan tujuan penciptaan itu. Karena tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa ada tujuan dan hanya kesia-siaan belaka. Iya, manusia ditugaskan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Bagi sebagian kita, mungkin kosakata “khalifah” agak asing dan tidak mudah dipahami.

Tetapi Al-Qur’an memberikan penjelasan secara gamblang dan jelas. Al-Qur’an langsung menjelaskan dengan dua ayat berikut:

 وَمَاخَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)

Dua tujuan dari keberadaan manusia adalah ibadah dan memakmuran semesta. Sebagaimana yang sudah disebutkan di atas, bahwasanya ibadah bukan hanya mencakup aspek keagamaan dan spiritual semata, tetapi lebih luas dari itu. Ibadah mencakup semua dimensi kehidupan.

Segala aktivitas yang tujuannya menggapai kecintaan dari Allah maka itu adalah suatu bentuk ibadah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijussalikin. Hanya saja, seringkali banyak dari muslim mengartikan ibadah dalam pemaknaan yang sempit. Banyak yang berpandangan bahwa Islam hanya memerintah pemeluknya untuk ibadah di Masjid saja. Seolah-olah kalau keluar dari masjid, sudah hilang identitas muslimnya.

Akibatnya, tugas manusia yang kedua seringkali terabaikan. Padahal Islam
adalah agama yang komprehensif dalam mengatur segala hal. Tugas manusia yang kedua yaitu memakmurkan alam semesta, atau dengan ungkapan lain
membangun suatu peradaban, yang mampu mengelola dan menjaga bumi sesuai dengan apa yang Allah amanahkan.

Bumi ini dititipkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada manusia bukan
untuk dieksploitasi dan dirusak seenak kita demi seonggok harta. Hari ini realitanya bukankah tolok ukur utama seseorang untuk mengerjakan sesuatu pastilah harta? Lantas hanya untuk hal sehina itukah tujuan hidup manusia? Mari renungi kembali.

Padahal tugas manusia jauh lebih besar, sebab tanggungjawabnya bukan hanya memikirkan individu saja, tetapi mencakup kemaslahatan alam semesta. Bayangkan saja, jika manusia gagal menjalankan misi dan tugasnya, maka seluruh semesta menanggung kerugiannya. Alam makin hancur dieksploitasi, tanah semakin rusak oleh ulah tangan manusia, bencana alam yang seakan tiada habisnya. Artinya, jika manusia tak mampu mengemban amanah dalam dua tugas ini, maka ia telah gagal total menjadi manusia. Karena ini tujuan utama mereka
seharusnya.

Lalu apa hubungannya dengan ramadhan. Ada kesimpulan menarik dari buku yang saya baca terkait kaitan ramadhan, ibadah, dan membangun peradaban. Buku ini membahas mind maping tema Al-Qur’an, tanpa ada penafsiran ayat demi ayat. Tujuannya jelas untuk memberikan peta pikiran secara global guna kita memahami relasi antar surat, ayat dan seterusnya. Mari kita simpulkan dan rangkai perlahan. Ayat ramadhan terletak pada surat Al-Baqarah.

Bahasan sentral pada surat ini adalah tugas memakmurkan dan menjaga semesta. Lalu ayat-ayat ramadhan berada di dalam subbab kehidupan dan ibadah, yang mana subbab ini berada di dalam bab “ibadah dalam seluruh dimensi kehidupan”. Lalu bab ini ada dalam satu pembahasan tentang sebuah tema besar yang bertajuk ”tugas kekhilafahan di muka bumi dan konsepnya”. Ini berarti serangkaian ibadah di bulan ramadhan yang disebutkan dalam ayat-ayat ramadan merupakan satu pilar penting yang harus ditunaikan manusia dengan baik sesuai aturan dan tujuan agar proyeknya di muka bumi bisa direalisasikan dengan baik dan maksimal.

Tugas membangun peradaban baru bisa ditegakkan ketika ramadan juga tegak dijalankan dengan kejernihan ruh dengan modal iman yang menghasilkan ketakwaan. Maka bukankah mustahil bumi ini akan dipimpin peradaban muslimin jika kita saja belum mampu menjalankan tugas berupa ramadhan dengan amanah sesuai yang Allah minta. Jikapun ramadhan telah mampu dijalankan, apakah itu sudah sesuai apa yang menjadi tujuan dari perintah ramadhan itu sendiri.

Barangkali kita sudah merasa mampu berpuasa dari lapar dan dahaga, tapi apakah kita juga mampu berpuasa dari syahwat mata yang bernafsu memandang yang tidak semestinya. Apakah kita sudah mampu mengendalikan jari dan lisan kita dari ghibah, gosip, dan berkomentar pada yang tak perlu. Apakah jiwa kita sudah kita kekang dari pikiran kotor dan keji? Apakah puasa kita sudah meluluskan jiwa yang bersih dan penuh ketakutan pada pencipta semesta atau justru kita selalu gagal dan tak pernah naik kelas? Jika belum mampu, apakah pantas bagi orang yang tidak bisa memimpin dirinya mendapat amanah
dan tugas besar memimpin peradaban dan menjaga semesta?

 

Oleh: Taufiq Qomarudin

Exit mobile version