Karya Tulis
Beranda » Blog » Genealogi Muhammad Abduh (3); Pasca Lulus dari Al-Azhar

Genealogi Muhammad Abduh (3); Pasca Lulus dari Al-Azhar

 

Dari dua esai genealogi sebelumnya, telah dijelaskan tentang proses pembentukan Muhammad Abduh saat remaja. Mulai bertemu dengan Syaikh Darwisy, pergulatan pemikirannya di Al-Azhar dan pengaruh Al-Afghani dalam membentuk dia saat itu. Abduh kecil tumbuh dalam lingkungan tradisional, meski begitu ia tetap kritis terhadap kondisi sosial dan berfikir progresif untuk masa depan umat muslim. Hingga saat ia remaja, memulai babak baru dengan mendaftar di al-Azhar dan mendapatkan gelar al-Alimiyyah dari al-Azhar al-Syarif.

Lulus dari Al-Azhar menjadi tantangan baru bagi Abduh. Dunia pasca pendidikan formal menjadi ranah Abduh untuk menguji pemikirannya, mengewejantahkannya, dan jadi babak baru yang turut serta membentuk pandangan Abduh terhadap problematika dan keterbelakangan umat. Abduh adalah sosok yang gigih dan cermat dalam belajar, selain itu dia juga memiliki kemampuan dalam bidang lain seperti menulis esai yang ia dapatkan dari gurunya Jamaluddin al-Afghani. Perjalanan Abduh selanjutnya adalah bentuk kemanfaatan ilmu yang telah ia pelajari di al-Azhar, seperti mengajar dan menulis. Berikut hasil pembacaan kami selama diskusi di Abduh Studies.

Abduh Mengajar

Setelah lulus dari Al-Azhar, Abduh langsung mengajar di almamaternya. Tidak banyak riwayat yang menceritakan secara detail apa yang diajarkan Abduh di Al-Azhar. Muhammad Imarah menyebutkan bahwa di Al-Azhar, Abduh mengajarkan kitab-kitab mantiq dan kalam yang berbalut filsafat. Pengajian Abduh di Al-Azhar itu, menurut Rasyid Ridha, menjadi model pengajaran yang baru di sana karena berlandaskan dalil-dalil yang sangat selektif[1]. Pengajian Abduh, sebab kebaruannya, dihadiri banyak orang sekaligus ditolak banyak orang. Banyak syaikh yang tidak sepakat dengan Abduh dan menghalangi para muridnya untuk menghadiri pengajian Abduh. Hifni Nashif, dalam catatan Rasyid Ridha, menceritakan bagaimana ia harus datang diam-diam demi menghadiri pengajian Abduh yang, dalam tuturan Rasyid Ridha, seperti “Gunungan emas tersembunyi dan lautan permata”.

Selain di Al-Azhar, Abduh juga mengajar di sekolah negeri. Pada 1878, ia diangkat sebagai pengajar sejarah di Madrasah Dar al-Ulum dan pengajar bahasa Arab di Madrasah al-Alsun dan al-Idarah. Di Dar al-Ulum, Abduh menggunakan Muqaddimah Ibnu Khaldun sebagai bahan ajar. Dari teks Muqaddimah lah Abduh mencoba menyadarkan murid-muridnya soal problematika umat. Abduh juga menugaskan kepada murid-muridnya untuk menulis esai mengenai itu, sehingga murid-muridnya begitu merasakan betapa pentingnya berkhidmat pada umat dan bangsa. Abduh juga menuliskan untuk murid-muridnya buku berjudul Ilm Al-Ijtima’ wa Al-‘Umran yang lalu naskahnya hilang dan tidak sampai ke kita.

Di sini, kita bisa melihat betapa kuat pengaruh Al-Afghani pada diri Abduh. Al-Afghani dengan semangat pan-islamismenya begitu ingin membawa umat dari kebodohan dan ketertinggalan. Abduh turut mengamini hal itu. Bagi Abduh, pendidikan adalah jalan utama menuju kebangkitan yang dicita-citakan. Syarat agar suatu negeri maju adalah adanya keseimbangan antara penguasa dengan rakyat yang mewujud dalam kebijakan-kebijakan yang demokratis. Agar mewujudkan negeri yang seimbang antara penguasa dan rakyatnya, harus ada suatu pandangan umum dari semua kalangan. Untuk mewujudkan pandangan umum itu, tentu disyaratkan terlebih dahulu meratanya pendidikan yang baik.[2]

Pendidikan yang hanya membebankan materi belaka bukanlah pendidikan yang baik.[3] Pendidikan yang baik adalah yang membangun dan menyadarkan. Tujuan dari didirikannya sekolah, bagi Abduh, adalah mendidik akal dan jiwa demi sampai pada kebahagiaan di dunia dan akhirat, bukan demi tujuan yang sifatnya materialistik. Abduh mencoba mengubah metode pengajaran yang materialistik ini, yang terbukti lewat bagaimana ia mengajarkan kitab Muqaddimah pada murid-muridnya di Dar al-Ulum.

Abduh dan Jurnalisme

Sebagaimana yang sudah diterangkan di esai genealogi Abduh kedua, Abduh sudah giat menulis di koran semenjak setahun sebelum lulus dari Al-Azhar. Semenjak itu, Abduh sudah menerbitkan banyak artikel, di antaranya: artikel pengantar koran Al-Ahram, Al-Kitabah wa Al-Qalam, Al-‘Ulum Al-Kalamiyyah wa Ad-Da’wah ila Al-‘Ulum Al-‘Ashriyyah, dan lain-lain.[4]

Pada Juli 1879, barangkali karena konflik dengan Khedive Taufiq[5], Al-Afghani dideportasi dari Mesir dan Abduh diturunkan dari jabatan pengajarnya di Darul Ulum dan Al-Alsun serta diasingkan ke tempat kelahirannya, Mahallat Nashr. Pada 1880, Riyadh Pasya, perdana menteri Mesir kala itu, memanggil balik Abduh ke Kairo untuk mempekerjakannya sebagai redaktur ketiga di koran resmi negara Al-Waqai’ Al-Mishriyyah atas rekomendasi Husain Al-Marshafi dan Mahmud Al-Barudi.

Ada cerita menarik sebelum Abduh akhirnya ditunjuk sebagai redaktur utama. Alkisah, Riyadh Pasya memerintahkan para penulis koran resmi agar membuat sebuah esai bertajuk sejarah perekonomian Mesir untuk dimuat dalam Al-Waqai’ Al-Mishriyyah edisi pertama. Tersisalah satu hari lagi dari tenggang waktu yang diberikan, namun para penulis tak mampu menuliskan esai tersebut. Lantas, mereka mengirimkan utusan kepada Abduh agar ia menulis. Permintaan itu diterima Abduh lalu dituliskanlah esai dalam waktu yang tak lama. Ketika Riyadh Pasya membaca esai itu setelah dicetak dan dipublikasikan, ia merasa takjub, sehingga pada tahun yang sama menunjuk Abduh sebagai pengawas percetakan dan redaktur utama koran resmi negara bersama Saad Zaghlul, Ibrahim Al-Halbawi, dan Sayyid Wafa, kolega Abduh semasa belajar kepada Al-Afghani.

Dengan kapasitasnya sebagai pengawas percetakan dan redaktur utama, Abduh banyak melakukan reformasi terhadap jurnalistik Mesir. Abduh membuat aturan baku yang harus diatati semua lembaga percetakan. Setiap lembaga wajib melaporkan hasil kerjanya ke kantor pengawas. Tidak hanya itu, setiap lembaga hukum juga wajib melaporkan keputasan-keputusan hukumnya. Kantor pengawas berhak mengkrtik kinerja tiap lembaga secara langsung atau lewat tangan Kementerian Dalam Negeri. Aturan ketat Abduh ini membuat kinerja lembaga-lembaga di bawahnya meningkat secara pesat dan, menurut Rasyid Ridha, dari titik inilah dimulai kebangkitan jurnalisme Mesir.

Abduh di Majlis A’la

Pada 28 Maret 1881, dibentuklah Majelis Tinggi untuk Pengetahuan (Al-Majlis Al-A’la li Al-Ma’arif Al-‘Umumiyyah, selanjutnya saya sebut Majlis A’la) dan Abduh ditunjuk sebagai salah satu anggotanya. Majlis A’la memiliki anggota dari berbagai kalangan, baik orang Turki, orang Mesir sendiri, maupun orang asing (Eropa) yang tinggal di Mesir, dari pejabat sampai akademisi, dengan total anggota 24 orang. Dalam surat keputusan yang dilampirkan Rasyid Ridha dalam bukunya Tarikh Al-Ustadz Al-Imam Muhammad Abduh, Majlis A’la mempunyai kewenangan dalam hal-hal berikut:

  1. Regulasi dan kurikulum pendidikan sekolah negeri;
  2. Pendirian sekolah baru;
  3. Dana bantuan untuk sekolah non-negeri;
  4. Diktat pelajaran sekolah negeri;
  5. Hak dan kenaikan pangkat guru;
  6. Hal-hal lain yang diajukan Menteri Pengetahuan Umum.

Di Majlis A’la, Abduh pernah mengajukan beberapa usulan. Pernah suatu ketika, ia mengusulkan agar sekolah-sekolah asing berada di bawah pengawasan langsung kementerian. Sontak, usulan ini mendapat penolakan tegas anggota majelis berkebangsaan Eropa dengan dalih bahwa Eropa sendirilah yang mengawasi sekolah-sekolahnya dan dari segi keilmuan Eropa jelas lebih maju ketimbang Mesir, lantas bagaimana pula Mesir yang lebih rendah itu mengawasi dan mengarahkan yang lebih tinggi? Abduh menjawab argumen ini dengan ciamik: “Dalih Anda bisa saja benar andaikan Anda dan kawan-kawan Anda bukan anggota Majlis A’la. Andaikan dalih Anda benar (bahwa keilmuan Eropa lebih maju), maka usulanku tetap tak tertolak, sebab dengan tidak majunya keilmuan di Mesir bukan berarti tak ada satu-dua orang pegawai di Kementerian Pengetahuan Umum, baik orang Eropa atau Mesir, yang pernah belajar di Eropa sehingga layak mengawasi sekolah-sekolah Eropa yang ada Mesir.” Anggota majelis berkebangsaan Eropa itu pun bungkam dengan kata-kata Abduh.

Pengabdian Abduh pasca lulus dari Al-Azhar menunjukkan pada kita bagaimana perhatian seorang Abduh pada umat dan bangsanya. Idealisme Abduh tidak hanya terhenti pada rentet pikiran dan baris tulisan belaka, namun ia aplikasikan secara nyata dalam ranah praktis. Ia benar-benar berjalan pada idealismenya untuk menyelamatkan umat dari keterpurukan. Namun, perjuangan itu belum selesai. Abduh tidak hanya berakhir sebagai pejabat tinggi di Majlis A’la dan pengawas percetakan, sebab dalam hitungan waktu yang tak lama lagi, ia akan mengalami peristiwa yang barangkali adalah yang paling berpengaruh dalam hidupnya selain pertemuan dengan Al-Afghani: Revolusi Urabi.

 

Oleh: Daffa Allamsyah (Anggota Abduh Studies)

[1] Rasyid Ridha menggunakan diksi al-barahin al-qath’iyyah, yang secara bahasa berarti dalil-dalil yang pasti. Saya menerjemahkan al-qath’iyyah sebagai sangat selektif karena yang dimaksud Rasyid Ridha adalah dalil-dalil yang pasti menurut seleksi Abduh, bukan yang pasti secara mutlak, karena ilmu akidah (baca: teologi) hanya boleh berlandaskan dalil yang pasti, tidak pada zhann.

[2] Pandangan Abduh ini bisa kita baca lewat salah satu khutbahnya yang dikisahkan dalam Tarikh Al-Ustadz Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad Abduh karya Rasyid Ridha, hal.

[3] Abduh pernah mengkritik kurikulum sekolah dasar yang hanya bertujuan untuk menghasilkan orang-orang yang bisa bekerja untuk pemerintah, hanya membebankan materi yang tak bisa diaplikasikan secara nyata. Lihat: Lamahat At-Tarbiyah min Rua Muhammad Abduh Al-Ishlahiyyah fi At-Tarbiyah wa At-Ta’lim, jurnal dalam Majallah Markaz Babil li Ad-Dirasat Al-Insaniyyah jil. 6, vol. 1, hal. 138.

[4] Tulisan-tulisan Abduh ini bisa dilacak di antologi lengkap tulisannya Al-A’mal Al-Kamilah li Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad Abduh yang disusun dan diedit oleh Muhammad Imarah.

[5] Sampai esai ini ditulis, saya belum mendapatkan keterangan jelas mengenai detail kejadian ini.

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share