Geneologi Muhammad Abduh; Dari Al-Azhar sampai Jamaluddin al-Afghani (2)
Saat menelusuri jejak kehidupan Muhammad Abduh, sulit rasanya untuk melepaskan batang hidupnya dari Al-Azhar dan sosok inspiratornya, Jamaluddin al-Afghani. Bisa digambarkan bahwa di Al-Azhar merupakan kronik dari cerita hidup Sang Mujaddid menempuh proses intelektualnya hingga lulus dan menyandang gelar al-‘Alim. Lalu bagaimana kisahnya ? pergulatan pemikiran apa saja yang akan menerpa hidup sang Imam ? berikut Abduh Studies telah memaparkannya kepada pembaca sekalian !
Abduh dan al-Azhar
Pada tahun 1282 H, selepas membersamai pamannya Syaikh Darwiys, niatan untuk menyambung studi kembali hadir dalam diri Abduh. Tak ada pilihan berarti selain ia meneruskan ke Universitas Al-Azhar. Namun yang perlu diketahui, Al-Azhar yang dulu bukanlah Al-Azhar yang sekarang dikenal dengan sistem modern. Layaknya universitas yang ada saat ini, Al-Azhar dahulu belum menggunakan sistem klasikal dengan meja dan bangku sebagai primadonanya.
Adalah al-Jami’ Al-Azhar (Masjid Al-Azhar) dimana para ‘mahasiswanya’ diajarkan ilmu klasik keislaman yang mencakup 21 disiplin ilmu sebagaimana Musthafa ‘Abdu ar-Raziq menuliskannya dalam mudzakirat Muhammad ‘Abduh. Ke-21 ilmu tersebut meliputi: Fikih, Ushul Fiqh, Tafsir, Hadis, dirayah dan riwayah, Tauhid, Nahu, Shorf, Bayan, Badi’, Ma’ani, Lughah (Bahasa), Ilmu Wadh’, ‘Arudh, Qafiyah, Hikmah Filsafat, Tasawuf, Mantik, Hisab (matematika), Al-Jabr wa al-Muqabalah, Falak, Al-Hay’ah.
Di luar 21 ilmu di atas ada beberapa disiplin ilmu lain seperti, musik, geografi, al-handasah (arsitektur), sains, dan sejarah dipelajari oleh mereka yang mampu menguasainya. Pengecualian ini menimbang minat para pelajar yang mempelajari ilmu-ilmu ini yang sedikit sehingga jumlah mereka yang mempejarinya berbanding dengan kadar keminatan tersebut.
Namun yang perlu digaris bawahi, ke-21 ilmu diatas tidak berarti semuanya akan diujikan saat ujian untuk mendaptkan gelas al-Alimiyah. Hanya sebelas didiplin ilmu yang diujikan nantinya meliputi: Fikih, Hadis, Tafsir, Ushul Fiqih, Tauhid, Nahu, Sharf, Bayan, Maani, Badi’, Mantiq. Sebagaimana beredar pada tahun 1277H/1873 di masa Syaikh al-Azhar Abbas al-Mahdi.
Begitu juga, al-Azhar yang dulu juga terkenal dengan model pembelajaran talaqqinya. Model ini menuntut para siswa menuliskan apa saja yang dijelaskan oleh Syaikh dengan mengacu pada pengertian atau penambahan maklumat terhadap buku/kitab yang diajarkan. Kelemahan sistem ini diantaranya secara tidak langsung ‘mematikan’ nalar kritisisme murid. Karena dalam model tersebut, memfokuskan arah pembicaraan satu arah mengalir dari mulut syaikh ke telinga murid-muridnya. Terlebih kebanyakan ilmu yang diajarkan adalah yang bersifat penukilan (naql). Akan masuk akal jika metode ini yang dipilih, sebab pada ilmu-ilmu naqliyah sangat menekankan kesahihan periwayatan dan ketersambungan transmisi. Pendeknya, antara sanad dan rawi yang akan menjadi penentu kebenaran ilmu yang didapat. Sehingga penekanan otoritas kepada sosok personal menjadi relevan lewat model talaqqi ini.
Pada konteks itulah Muhammad ‘Abduh lahir. Sosok pemuda berusia 16 tahun, yang baru saja ‘mentas’ dari gemblengan sang paman kini kembali mendapatkan ujian serupa selepas ia menamatkan pendidikan informal di Masjid al-Ahmadi, Thantha. Pembelajaran yang dirasakannya begitu monoton. Kekhawatirannya seketika muncul mengulang pengalaman pahit Ketika harus kabur dan dijemput paksa oleh sang paman untuk kembali belajar ‘mengaji’. Namun Abduh yang sekarang telah berbeda yang dulu. Berkat tarbiyah sang paman, kini ia sudah mampu menghadapi alur yang berjalan.
Bertemu Al-Afghani
Jamaluddin al-Afghani tiba di Mesir 1288/1287 H . kehadiran beliau disambut hangat oleh segenap pelajar di negeri tersebut. Tak terkecualinya Muhammad ‘Abduh muda yang barangkali ia tak menyadari perjalanan sejarahnya kedepan akan banyak berubah semenjak bertemu dengan Al-Afghani. Terhitung sejak bulan Muharram, ia mulai membersamai sang guru yang konon berasal dari Iran tersebut.
Selama di mesir, al-Afghani bermukim di dekat masjid al-Azhar, daerah Khan Khalili tepatnya. Disana ia membuka banyak pengajian dan diskusi seputar ilmu-ilmu filsafat dan logika. Darinyalah, Muhammad ‘Abduh mempelajari sejumlah kitab-kitab ‘berbobot”, diantaranya:
- Al-Isyarat wa al-Tanbihat
- Al-Hidayah. Dua kitab tersebut merupakan karangan Ibn Sina (w. 1037 M).
- Risalah al-Zuwara’ karya Jalal al-Din al-Dawani (w. 1502 M).
- Al-Isyraq karangan Syihab al-Din al-Suhrawardi (w. 1191 M).
- Hikmah al-‘Ayn karenya al-Katibi al-Qazwiniy (w. 1276 M).
- Al-Talwih ila Kasyf Haqaiq al-Tanqih karya Sa’ad al-Din al-Taftazani (w. 1390 M).
- Syarah Aqaid al-Nasafiyah
- Syarah Syamsiyyah karya Quthb al-Din al-Razi (w. 1311 M).
- Isaghuji karya Atsir al-Din al-Abhariy (w. 1265/1262 M).
- Kitab-kitab geografi dan falak karya Mahmud ibn Muhammad ibn ‘Umar al-Jugminiy (w. 1344 H) dan Nashir al-Din al-Thusi (w. 1274 H)
- Muqaddimah Ibn Khaldun
- Tahdzib al-Akhlak karya Ibn Maskawaih (w. 1030 H).
Selain itu, Al-Afghani juga mengajari ‘Abduh dan murid-murid lainnya seputar cara menulis karangan dan essay (insya’ wa maqalat) bertemakan sastra, sosial dan politik. Ia juga mengajari murid-muridnya cara berpidato (khithobah). Tercatat ‘abduh berguru pada al-Afghani hingga tahun 1296 H atau sekitar sembilan tahun. Waktu yang sangat cukup untuk mengatakan bahwa Muhammad ‘Abduh amat terpengaruh terhadap ide dan gagasan Jamaluddin Al-Afghani.
Namun yang perlu dicermati lagi. Keterpengaruhan ‘Abduh dari Al-Afghani tidak membuatnya menafikan pengaruh lain. Karena sebelum bertemu al-Afghani, sebagaimana sudah dijelaskan di awal, ‘Abduh belajar di al-Azhar. Disanalah ia mendapatkan pembelajaran dini selepasnya dari Thantha. Meskipun digambarkan di awal bahwa Al-Azhar amat memfokuskan pembelajarannya pada corak keilmuan periwayatannya, nyatanya disamping itu ada segelintir Syaikh yang mengajarkan ilmu-ilmu aqliyyah rasional.
Bisa disimpulkan dari proses belajarnya dengan al-Afghani, ‘Abduh mendapatkan insight yang berbeda yang ia dapatkan sebelumnya baik di Al-Azhar maupun di Thantha. Dari beliau, ia mendapatkan sistem pembelajaran yang mudah, aplikatif, dan terfokus pada pembacaan realitas. Apa yang disodorkannya seakan membukakan cakrawala baru pada diri ‘Abduh ketika itu.
Dijelaskan bahwa sebelum bertemu dengan al-Afghani, ‘Abduh sempat berguru kepada Syaikh Hasan Thawil. Dari beliaulah ia mempelajari ilmu mantiq dan filsafat. Nemun sayangnya tidak dijelaskan kitab apa yang dipelajari ‘Abduh sewaktu menimba ilmu dari beliau. Selain itu, ‘Abduh juga berguru kepada Syaikh Muhammad Basyuni yang bercorak sastra. Dari keduanya, ‘Abduh mendapatkan pengaruh sufisme-falsafi (Syaikh Hasan Thawil) -pengaruh ini akan semakin kuat ketika bertemu Al-Afghani yang sebelumnya pengaruh sufistik didapatkan dari Syaikh Darwisy, sang paman- dan kesastraan (Syaikh Muhammad Basyuni). Bisa dibilang dua guru beliau ini mewakili kelompok ‘pembaru’ yang akan melahirkan sosok reformisme Muhammad ‘Abduh kelak. Di sisi lain, al-Al-Azhar juga juga masih memiliki banyak ulama-ulama konservatif yang darinya ‘Abduh masih menimba ilmu. Seperti: Syaikh ‘Alisy, Syaikh Rifa’iy, Syaikh al-Jizawiy, dsb.
Mendapatkan Gelar al-’Alimiyyah
Penantian panjang 12 tahun akhirnya tertunaikan sudah. Usianya kala itu menginjak 28 tahun. Usia yang banyak dikata orang sebagai puncaknya masa-masa remaja. ‘Abduh muda yang berada di tahap itu tengah dihadapakan pada situasi krusial sepanjang hdupnya. Yaitu ujian al-‘Alimiyah.
Ketika itu, 13 Jumadil 1294 H ia memasuki ruang ujian. Dihadapannya para masyayikh kibar al-Azhar telah menunggu saat-saat tepat untuk mengujinya. Diantara Syaikh yang ada saat itu adalah Syaikh ‘Alisy. Sebagaimana telah dijelaskan di awal, beliau termasuk dari golongan ulama Al-Azhar yang konservatif. Pertentangannya dengan ilmu-ilmu filsafat dan logika begitu menonjol. Dan suasana itulah yang kini menyelimuti ‘Abduh muda saat itu. Sebab ia memiliki pengalaman pahit ketika bersua dengan Syaikh ‘Alisy.
Suatu hari, ‘Abduh yang tengah asiknya menggandrungi ilmu-ilmu filsafat dan kalam, tengah belajar di Masjid al-Husayniy. Sebelumnya, telah beredar kabar bahwa pada suatu ketika, ‘Abduh yang tengah mengulang pelajaran Syarah Aqaid Nasafiyah bersama teman-temannya kedapatan menguatkan (merajihkan) pendapat Muktazilah atas Asy’ariyah. Sebagian murid yang dengki kepadanya, melaporkan kejadian tersebut kepada Syaikh ‘Alisy. Mendengar aduan tersebut Syaikh ‘Alisy dengan marah bergegas menghampiri Abduh di Masjid al-Husayniy. Saat berjumpa, Syaikh mengonfirmasi kebenaran kabar tersebut kepada ‘Abduh. Ia pun menjawab: “Jika saya meninggalkan taqlid kepada al-‘Asyariy mengapa aku bertaqlid kepada Muktazilah. Maka aku meninggalkan taklid kepada mereka dan mengambil pendapat dengan dalil.” Setelah itu terjadi pembicaraan yang sengit antara sang guru dan murid.
Dari kejadian itu, memori buruk yang menghantui ‘Abduh kini hadir di depan matanya. Perdebatan dalam ujian tersebut tak terelakan. Dan seperti yang bisa ditebak, pengaruh Syaikh ‘Alisy pada ujian ‘Abduh membuatnya mendapat nilai strata dua (mustawa tsaniya) kendati beruntungnya ia masih memperoleh gelar tersebut. namun dibalik itu semua, tidak semua sosok ulama yang menguji ‘Abduh berada di pihak kontra. Ada Syaikh ‘Abbas al-Mahdi, Syaikh al-Azhar saat itu yang sekaligus menjadi ketua panitia ujian al-‘Alimiyah. Ia terkenal sebagai ulama yang obyektif dan jujur. Bahkan beliau mengakui sendiri bahwa tidak ada ujian sehebat yang dijalani Muhammad ‘Abduh. Dengan terus terang ia menyatakan bahwa ‘Abduh berhak untuk menyandang nilai strata satu atau mumtaz. Namun takdir berkata lain.
Barangkali yang perlu diingat, bahwa kemarahan dan sikap kontra Syaikh ‘Alisy kepada ‘Abduh tidak hanya sekali terjadi pada kejadian tersebut. di tahun 1290 pertengahan bulan Sya’ban, Muhammad ‘Abduh menulis buku pertamanya berjudul Risalah Waridat. Pembahasan dalam buku tersebut mengenai ajaran-ajaran sufisme-falsafi, hasil kumpulan pembelajarannya dengan gaya bahasa yang mudah.
Dua tahun berselang, 1292 H Abduh mengarang kitab Hasyiyah atas Syarah Jalal ad-Dawani terhadap Aqaoid ‘Adhudiyah. Bisa disebut hasyiyah ini merupakah kumpulan ngajinya dengan Syaikh Jamaluddin al-Afghani. Dalam kitab tersebut, terlihat kecondongan ‘Abduh kepada filsafat lebih besar dari sisi tasawufnya selain ia memang tidak berterus terang terhadap yang ia anggap kontroversi di zamannya. Dan dari dua kitab itulah bisa dibilang menjadi faktor dan sikap kontra Syaikh ‘Alisy kepada ‘Abduh. Selepas mendapatkan gelar al-‘Alimiyyah, Muhammad ‘Abduh memutuskan untuk mengajar di Jami’ al-Azhar.
Penulis : Iwan Soekotco
(Peserta Abduh Studies)

Leave a Reply