Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Ilmu Tasawuf Hilang, Teknologi AI Datang: Antara Kemajuan Digital dan Krisis Spiritual

Kehadiran teknologi kecerdasan Artificial Intelligence (AI) dalam era revolusi industri 4.0 dianggap sebagai salah satu manifestasi perkembangan teknologi yang secara esensial tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan manusia dalam segala bidang. Mulai dari dunia bisnis, pendidikan, keagamaan hingga kehidupan sosisal. AI menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam berbagai aspek, tetapi di sisi lain, peran spiritualitas dalam kehidupan semakin terpinggirkan. Salah satu aspek spiritualitas Islam yang mengalami kemunduran adalah ilmu tasawuf, yaitu cabang ilmu yang menekankan penyucian jiwa, pengendalian nafsu, dan kedekatan dengan Allah SWT.

Di tengah era digital saat ini, manusia semakin sibuk dengan dunia maya, kecanduan media sosial serta ketergantungan pada teknologi yang mengalihkan perhatian dari perjalanan spiritual. Di kalangan Muslim, muncul fenomena di mana ilmu tasawuf semakin ditinggalkan, sementara ketergantungan terhadap teknologi semakin meningkat. Tasawuf, yang mengajarkan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan kedekatan dengan Allah SWT, kini jarang dipelajari dan diamalkan. Bagaimana keterkaitan antara perkembangan AI dengan berkurangnya perhatian terhadap ilmu tasawuf? Apakah AI hanya membawa kemajuan atau juga memicu krisis spiritual? Artikel ini akan membahas hubungan antara hilangnya nilai-nilai tasawuf di tengah perkembangan AI, dampaknya bagi kehidupan Muslim, serta solusi untuk menjaga keseimbangan antara teknologi dan spiritualitas.

Kemunculan tafsir sufistik tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ajaran tasawuf, seperti yang terjadi di Indonesia. Ajaran tasawuf yang begitu semarak di awal abad 17 M menjadi titik tersebarnya tasawuf di Indonesia. Tokoh sufi besar yang berjasa dalam hal ini adalah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Kedua tokoh ini mempunyai pengaruh besar dalam mewarnai corak keberagamaan yang sufistik, tak terkecuali dalam kajian tafsir al-Qur’an.

 

Tasawuf, menurut Abu al-Wafa` al-Taftazani, dikenal sebagai suatu disiplin ilmu yang tumbuh dari pengalaman spiritual yang mengacu kepada kehidupan moralitas yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Tasawuf merupakan cabang ilmu Islam yang menekankan penyucian hati, kedekatan dengan Allah, dan kehidupan yang penuh dengan kesederhanaan dan makna. Tiga prinsip dasar tasawuf meliputi: 1) tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa); 2) manifestasi Tuhan (tajalli Ilahi) dan 3) kesatuan wujud (wahdatul wujūd).

Selain itu, munculnya teknologi AI dapat memberikan dampak negatif terhadap kehidupan, diantaranya:

1.             Kemudahan yang berlebihan yang mengakibatkan kurangnya rasa ketergantungan kepada Allah.

AI memberikan berbagai kemudahan, mulai dari prediksi cuaca hingga rekomendasi keputusan finansial, tetapi AI juga memiliki dua mata pisau terhadap kehidupan. Semakin tinggi ketergantungan seseorang terhadap teknologi, semakin rendah tingkat keterlibatan mereka dalam praktik spiritual.

2.             Dunia digital mengalihkan fokus perjalanan spiritual.

Bahwa rata-rata seseorang menghabiskan 7-10 jam per hari di dunia digital. Waktu untuk ibadah, refleksi diri, dan dzikir berkurang karena masyarakat lebih sibuk dengan media sosial, hiburan digital, dan pekerjaan berbasis AI.

3.             AI dan ketergantungan pada data mengurangi nilai kebijaksanaan

Dalam tasawuf, kebijaksanaan diperoleh melalui pengalaman,

Oleh: Elyza Nur

Exit mobile version