Karya Tulis
Beranda » Blog » Kaderisasi Ajaib Kyai Reformis dari Kauman

Kaderisasi Ajaib Kyai Reformis dari Kauman

Saat perjalanan menuju rapat acara Baitul Arqam 2024, terik panas matahari kota Kairo menyengat hingga keringat mengguyuri tubuh saya, melewati ramainya manusia, bisingnya jalan, berdesakan di dalam angkot, serta jarak yang cukup jauh sekitar 9KM dari rumah ke tempat rapat.

Tak segan saya lontarkan pertanyaan “Ontologis” pada kawan saya yang juga bernasib sama, “Apa yang membuat kita rela seperti ini? Dibayar ya tidak, keluar uang iya”. Pertanyaan lanjutan saya ajukan “Karena doktrin Islam Berkemajuan? Karena eksistensi diri yang harus selalu dipenuhi?” Kondisi menjadi hening, dan tidak ada yang benar-benar mampu menjawab dengan baik.

Saya merasa takjub, bagaimana kita bisa mampu bertahan dengan penderitaan materi dan tetap merasa bahagia. Nilai apa yang sedang kita pegang ? Sejak kapan ini bermulai? Saya coba mengingat kenangan lama tentang aktifitas orang tua saya di salah satu Cabang Muhammadiyah di kabupaten Bondowoso. Kondisinya sama, mereka tak dibayar dan bersusah payah menghidupkan kegiatan Muhammadiyah setempat, namun dari raut wajah mereka ada kebahagiaan yang terpancar.

Lalu ingatan saya berjangkar sebuah kisah Kyai Reformis di Kauman yang selalu dibicarakan di forum Muhammadiyah. Kisah terkenal dan menjadi tauladan bagi siapapun yang mengikuti jalannya. Sang Kyai dengan kesederhanaannya rela melelang semua perabotan rumah, dalam rangka menghidupkan dakwah yang sedang ia jalani. Ini ajaib, Kyai tersebut mampu bertahan dengan materi yang kurang namun bahagia dengan nilai etis yang ia pegang utuh.

Meski tak ada karya tulis yang sampai pada kita, namun “kaderisasi” yang ia bangun sejak di Kauman masih terus diwariskan hingga sekarang. Nilai pengayoman, nilai pencerahan, nilai keterbukaan, itu semua masih terus dibincangkan dan masih menjadi ruh bagi pada pengikut dan pecintanya.

Sebagai orang modern, saya bingung sekaligus terpukau. Ditengah hidup kita yang penuh dengan “Candu” materi, ternyata nilai agama yang dibawa oleh Kyai Dahlan masih menjadi penawar kebahagiaan manusia. Di tengah gempuran kemajuan hidup yang terus menggila dan menjarah nilai inti kemanusiaan, justru ajaran agama menawarkan nilai segar bagi para pengikutnya agar sadar tentang eksistensi manusia di dunia.

Melihat wajah peserta Baitul Arqam 2024 PCI Muhammadiyah Mesir yang terus bertahan mengikuti kuliah selama 9 jam, diskusi selama 5jam, menahan kantuk, menahan rasa panas, namun kebahagiaan tetap terpancar dalam senyum dan gelak tawa mereka. Saya kira ini adalah hal yang amat “Ajaib”, manusia diminta menggadaikan materinya namun mereka tetap merasa bahagia. Terima kasih Kyai Dahlan! Sebagai anak kandung era Modern, kita belajar banyak dari nilai yang anda wariskan. Sekali lagi saya bingung dan terpukau!

 

Oleh: M. Yusmi Ridho

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share