Adanya buku merupakan salah satu unsur yang bersifat esensial dalam pembelajaran. Karena buku adalah perangkat terbaik dalam mewariskan ilmu yang ada di benak penulisnya. Hal yang serupa bisa dikatakan terhadap peradaban Islam. Belajar keilmuan Islam tak bisa dipisahkan dengan keberadaan kitab-kitab turots sebagai referensi utama. Namun terdapat sebuah prasyarat yang mesti dipenuhi agar setiap pelajar bisa mengakses secara bebas khazanah turots tersebut, yaitu penguasaan terhadap kitab level mendasar dan bersifat membangun manhaj berpikir seorang pelajar. Maka dengan memenuhi prasyarat inilah, seorang pelajar bisa menyelami samudera khazanah keislaman.
Pada saat yang sama, Cairo International Book Fair (CIBF) diadakan di Egypt International Exhibition Center, Fifth Settlement selama 13 hari semenjak 24 Januari hingga 6 Februari 2024. Tak luput pula, pameran buku ini dihadiri berbagai penerbit buku di dunia, sehingga berbagai genre buku tersedia, termasuk kitab turots. Keikutsertaan berbagai penerbit inilah yang menjadikan kitab turots itu tersedia melimpah saat CIBF ini. Tersedianya berbagai kitab turots dari berbagai penerbit menjadikan pameran ini sebagai kesempatan emas untuk membeli kitab-kitab turots yang langka dan dengan cetakan terbaik.
Memanfaatkan momentum tersebut, pada awal pekan ini Dar Ahmad Dahlan (DAD) mengadakan Rihlah Ma’ridh yang bertujuan membimbing pesertanya supaya membeli kitab yang tepat dengan kualitas manuskrip terbaik untuk menunjang pembelajaran mereka di Al Azhar. Rihlah ini diikuti oleh 8 peserta DAD, dan pembimbing rihlah kali ini adalah pengajar DAD itu sendiri yaitu Ust Gilang Kuswoyo dan Ust Roisul Alim, Lc.
Rihlah ini dimulai dari stand Muslim Elders atau dikenal Majelis Hukama al-Muslimin, yang dimana lembaga ini terkenal dengan buku-buku ulama al-Azhar yang responsif menjawab isu-isu terkini yang sedang hangat diperbincangkan dari sudut pandang Islam. Layaknya isu Palestina sedang menguat saat ini, isu tersebut tak luput dari perhatian ulama al Azhar. Hal ini terbukti dengan rilisnya berbagai buku yang mengulas hasil Muktamar al Azhar al ‘Aalamiy li Nushrat al Quds. Majelis Hukama juga menerbitkan berbagai buku terkait pemikiran, mantik dan aqidah.
Penerbit lain yang tak luput dari perhatian adalah Penerbit Dar al-Ihsan. Meskipun penerbit ini bisa dijumpai di kawasan Al Azhar, namun ada kitab yang direkomendasikan oleh salah satu pembimbing rihlah, Ust Gilang Kuswoyo yaitu kitab ar Rasyidiyyah karya Imam al Jurjani; penjelas ar-Risalah asy-Syarifiyyah karya al Imam al Jurjani, kitab dalam disiplin ilmu tata berunding. Kitab ini cukup langka karena kitab cetakan Dar al Malik India ini lumayan sulit dijumpai di Kairo.
Perjalanan terus berlanjut, sampai langkah peserta rihlah tertahan di penerbit Dar Nurul Mubin. Langkah peserta terhenti saat menemukan kitab baru yang dirilis penerbit tersebut yaitu, al Majmu’ al Wadh’iy. Kitab yang mengumpulkan berbagai risalah/kitab kecil dalam disiplin ilmu Wadh’. Keputusan Dar Nurul Mubin untuk menerbitkan kitab kumpulan risalah ini disambut antusias oleh pelajar al Azhar, karena disiplin ilmu Wadh’ dianggap kurang mendapat perhatian dalam usaha tahqiq dan penerbitannya.
Dar Nurul Mubin memang dikenal terkait konsentrasi mereka kepada disiplin ilmu aqliyyat/rasio. Sehingga kitab bergenre aqidah dan mantiq tersedia banyak di penerbit ini. Seperti kitab penjelas al-Mirqat, karya Imam Khair Abadi; kitab Mantiq level menengah.
Kitab lain yang direkomendasikan dalam rihlah ini adalah, Jamharah A’lam al Azhar, karya Syaikh Usamah al Azhari. Kitab yang berjumlah 10 jilid ini memaparkan biografi para ulama al Azhar, dari pendiriannya hingga masa kini. Yang uniknya, penerbit kitab ini, Maktabah al Iskandariyyah membanderol kitab ini hanya dengan harga 2000 LE, atau sekitar Rp500.000. Harga yang cukup murah ketika melihat kuantitas dan kualitas muatan biografi para ulama al-Azhar yang tercakup dalam kitab tersebut.
Setelah penerbit tersebut, rombongan mengunjungi stand penerbit al Azhariyyah li at-Turots. Penerbit ini masyhur di kalangan pelajar sebagai penerbit yang menjual kitab kurikulum al Azhar cetakan lama, sehingga seringkali penerbit ini menjadi alternatif bagi para pelajar, jika kitab cetakan baru dirasa mahal. Seringkali juga penerbit ini menjadi tujuan bagi para pelajar yang lebih menyukai kitab turots cetakan lama.
Pada tahun ini, penerbit al-Azhariyyah menjual kembali cetakan lama kitab al Muthawwal karya at-Taftazani; penjelas Talkhisul Miftah karya al-Qazwini. Konon kitab al-Muthawwal cetakan ini adalah diktat pascasarjana di Universitas al-Azhar Jurusan Balaghah. Namun, saat rombongan rihlah mencari kitab tersebut, ternyata kitab tersebut sudah ludes habis terjual.
Mendekati penghujung rihlah, rombongan mengunjungi stand Darussalam untuk membeli kitab yang direkomendasikan Ust Roisul Alim, Lc., yaitu kitab penjelas Jauharah at-Tauhid karya al Imam al Baijuri. Selain karena kitab tersebut menunjang pembelajaran disiplin ilmu Aqidah, beliau merekomendasikan cetakan Darussalam karena cetakan tersebut merupakan hasil tahqiq-an Syaikh Ali Jum’ah, Mantan Mufti Republik Arab Mesir, dan cetakan Darussalam dipandang lebih murah dibanding cetakan lain yang sama bagusnya. Rihlah ini ditutup dengan makan bersama, dan setelahnya para peserta rombongan rihlah berpencar untuk mencari kitab lain yang menjadi incaran mereka.
Oleh: Gariza Ahmad Robbani (Peserta Dar Ahmad Dahlan)

