Siang hari menjelang petang, PCIM Mesir berkolaborasi dengan kekeluargaan KSW dan El-Montada Mesir sukses menyelenggarakan acara bincang tesis yang disampaikan oleh dua pembicara, yaitu Ust. Musa Al-Azhar, Lc., M.A. dan Ust. Muhammad Hendri Al-Faruq, Lc., M.A. Kendati kedua pembicara berlatar belakang jurusan Hadis, namun menariknya pada karya tesis mereka masing-masing mengambil konsentrasi yang berbeda.
Seperti Ust. Musa Al-Azhar yang membawa tesis berjudul “Penelitian Hadits al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani (w.852 H) dalam Kitab at-Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’i al-Kabir” yang lebih memfokuskan pada studi tematis (maudhu’i).
Adapun Ust. Hendri memilih untuk fokus pada penelitian manuskrip (tahqiq al-makhtuthat) dengan judul tesis, “Tahqiq dan Studi Analitik Hadits dalam Kitab _al-Badr al-Munir fi Gharib Ahadits al-Basyir an-Nadzhir karya Imam Abdul Wahab asy-Sya’roni.”
Pada sesi pertama, Ust. Musa menjelaskan objek penelitian tesisnya, Kitab Kitab at-Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’i al-Kabir karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani (w.852 H). Menurutnya, kitab tersebut merupakan ringkasan dari kitab al-Badr al-Munir karya Ibn Mulaqqin, dimana kitab tersebut (baca: al-Badr al-Munir) merupakan takhrij dari kitab Al-‘Aziz (Fath al-‘Aziz/al-Syarh al-Kabir) karya Imam Rofi’i yang berlanjut sebelumnya dari silsilah (geneolgi) kitab-kitab dalam mazdhab Syafi’i. Maka dapat dipahami bahwa tesis beliau ditunjukkan dalam penelitian takhrijul ahadits yang digunakan oleh madzhab Syafi’i sebagai sumber hukum.
Setelah menjabarkan secara ringkas latar belakang tesis, Ust. Musa kemudian menyampkan terkait sosok penulis kitab al-Talkhis al-Habir, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani (w.852 H). Darinya, diantara pelajaran yang bisa diambil adalah kiprahnya dalam belajar pada guru-guru besar pada madrasah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Adapun guru-guru yang beliau tuliskan dalam salah satu kitabnya, Dzay al-Tibyan li Badi’ah al-Bayan, yakni al-Bulqini, al-‘Iraqi, Al-Ghumari, Ibn ‘Arafah, Ibnu Mulaqqin, dan al-Majd al-Syirazi. Melihat sederet nama-nama besar di bidangnya ini, menurut Ust. Musa -sembari menukil status Syekh Fauzi Konate- bahwa untuk menjadi orang yang berpenguasaan baik di bidang apapun maka supaya belajar kepada pakarnya (maestro).
Tak cukup sampai di situ, dengan nada memotivasi peserta, Ust. Musa juga menyampaikan bahwa ‘ibrah atas itu bisa didapatkan di Al-Azhar.
“Di Al-Azhar singkat cerita bedanya adalah kita dapat kesempatan untuk belajar dari ulama kaliber dunia dan dia Al-Azhar satu.. ilmu apa yang tidak ada ??? tidak ilmu yang tidak ada di Al-Azhar, kita mau tafsir (madrasahnya) ada, kita mau hadis ada, mau ilmu-ilmu bahasa; balaghah, arudh dan lain sebagainya ada semua di Al-Azhar…. tapi coba tanya teman2 kita yang berdiaspora ke negeri lain belum tentu jumpai apa yang kita temukan di Al-Azhar. Yang kedua, di Al-Azhar itu tidak ada satu ilmu pun yang disana tidak ada ulama kaliber dunianya,” ungkap sosok kelahiran kota Kudus ini.
Kemudian beliau melanjutkan pembahasan tentang shina’ah haditsiyah. Secara ringkas bangunan ulum sunnah terbangun atas tiga pondasi besar; Pertama, adalah Riwayat yang didapat dari majelis riwayat hadits. Kedua, Fahm al-Hadits yang diperoleh dari hasil penguasaan ilmu-ilmu alat dan ilmu pokok ajaran Islam, kemudian juga merujuk kepada kitab-kitab syarah hadis. Ketiga adalah Kritik (Naqd) Hadits yang didapat dari menguasai ilmu musthalah hadis, takhrij, dirosah asanid, dan ‘ilal.
Selain itu, menurutnya juga, belajar teori ulum hadis tidak seperti disiplin keilmuan lainnya. Dalam ulum hadis, rumusan kaidah-kaidah yang tercantum dalam kitab-kitab ajar ilmu hadis hanya menerangkan sebagian dari keseluruhan teorinya. Adapun pengetahuan yang lebih komprehensif didapat dari bergulat dengan kitab-kitab induk berbagai macam disiplin ilmu hadis karya para imam-imam hadis.
> Anhar Azzumta:
Di akhir sesi pertama, Ust. Musa menutup dengan berbagi pengalaman dan suka duka menjalani S2 semenjak tamhidi (teroi) hingga sidang/munaqasyah tesis. Di sela-sela itulah beliau juga turut memberikan nasehat supaya untuk membekali diri baik secara keilmuan (ilmu dasar, lancar kuliah, dan penguasaan bahasa Arab) maupun juga secara sikap (punya passion, menjaga adab, dan doa).
Pada sesi berikutnya, Ust. Hendri mengawali pembahasan dengan menerangkan gambaran umum dari penulisan tesis, kendala-kendala, dan hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan. satu diantara yang lain adalah penguasaan terhadap ilmu begitu berpengaruh dalam penulisan tesis selain sebagai kesempatan mempraktekannya.
Di sisi lain, adanya tesis ini juga menurut beliau berperan dalam menghidupkan khazanah keilmuan islam khususnya dalam penelitian manuskrip. Belum lagi kesempatan untuk meneliti langsung dari manuskripnya masih terbuka lebar di al-Azhar karena nyatannya masih banyak manuskrip yang belum diteliti. Maka oleh karenanya tak sedikit dari proyek tahqiq al-turats dikerjakan oleh beberapa orang dalam satu kelompok, bahkan sekalipun terhadap kitab yang sudah diterbitkan pun karena dengan beberapa pertimbangan ilmiah satu dua hal lainnya.
Tak ketinggalan beliau juga menasehati agar tidak menyamakan cara belajar di S1 dengan S2. Karena jelas saja, beban materi pelajaran S2 (tamhidi) lebih besar dan berat ketimbang S1. Sama halnya dengan ujian nanti, karena menurut alumni Pondok Pesantren Darussalam Gontor satu ini, kunci menjawab soal adalah yang sesuai dengan yang diinginkan duktur. Karenanya, belum tentu jawaban yang panjang dapat diterima sebab bisa jadi tidak diinginkan oleh duktur.
dan sebelum menutup sesi, Ust. Hendri memaparkan latar belakan karya tesis yang beliau tulis. Dalam tesis tersebut, beliau menitik beratkan pembahasan seputar peneltian tahqiq manuskrip dan studi analitis pada sebagian hadits-hadits yang ada pada kitab al-Badr al-Munir fi Gharib Ahadits al-Basyir an-Nadzhir karya Imam Abdul Wahab asy-Sya’roni (w. 973). Kitab tersebut merupakan kitab hadis yang dihimpun oleh Imam asy-Sya’roni dari pelbagai kitab seperti salah satunya al-Jami’ al-Shaghir dan al-Jami’ al-Kabir karya Imam Jalaluddin al-Suyuthi dan al-Maqashid al-Hasanah karya Imam al-Sakhowi. dari beberapa kitab tersebut, Imam asy-Sya’roni mengambil beberapa hadis saja. Lalu yang membedakannya dengan kitab hadis lainnya, Imam asy-Sya’roni hanya menyebutkan mukhrij-nya (akhir sanad-pen) saja. Dari sirulah tugas pentahqiq untuk mencari muasal hadis yang dirujuk di kitab al-badr al-Munir tersebut.
Dalam proses pengerjaan, beliau mengakui kesulitan tersendiri ketika mengumupulkan thuruq al-asanid pada hadis-hadis dalam kitab tersebut, lalu mengkomparasikannya satu sama lain dan meneliti masing-masing, seperti adakah illat-nya atau tidak, kemudian mentarjihkannya disertai alasan yang kuat.
“Itukan sebuah pekerjaan yang menurut saya sih dengan kemampuan yang saya miliki dengan kemampuan yang masih cetek ini tidak mampu sehingga akhirnya dikatakan oleh munaqish (penguji-pen) “ketika kamu tidak mampu maka tidak perlu diganti dengan ta’liliyah atau dengan ta’lilyah kamu harus mempraktekan semua cara ini atau manhaj ini di semua hadis kamu.” ucap sosok asal Pekalongan satu ini.
Acara pun ditutup dengan tanya jawab dari peserta.
Iwan Soekotjo.[]

