Karya Tulis
Beranda » Blog » MADRASAH EKSPOR: KAJIAN IDENTITAS UNTUK MERANGSANG JIWA KEWIRAUSAHAAN MASISIR 

MADRASAH EKSPOR: KAJIAN IDENTITAS UNTUK MERANGSANG JIWA KEWIRAUSAHAAN MASISIR 

Keberadaan warga negara Indonesia di Mesir yang mayoritasnya adalah mahasiswa, selain membawa misi keilmuanya di berbagai lembaga pendidikan formal maupun non formal, juga memiliki keharusan untuk mengasah keterampilan dirinya. Salah satunya adalah keterampilan dalam berwirausaha. Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas penggiat wirausaha sendiri masih menganggap remeh proses wirausaha yang terjadi di kalangan mahasiswa. Karena disamping harus menjalankan usahanya para mahasiswa juga mengemban tugas untuk menyelesaikan studinya dengan baik. Tapi siapa sangka justru lewat kalangan mahasiswalah mulai muncul berbagai model wirausaha yang hype dan kekinian. Bisa diterima oleh berbagai kalangan, simpel, terukur, inovatif serta memiliki daya saing yang tinggi.

Munculnya wadah edukasi dalam berwirausaha bagi mahasiswa menjadi keistimewaan yang harus dijaga keberlanjutanya, terkhusus bagi mahasiswa luar negeri. Pengembangan kewirausahaan mendorong mahasiswa luar negeri untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan ekonomi negara asalnya. Etos serta potensi kewirausahaan mereka memegang peranan penting dalam mendukung upaya introduksi dan penetrasi produk nusantara di pasar internasional.

Mahasiswa Indonesia Mesir (masisir) dan Wirausaha

Tertulis dalam kitab “Al-Mujaz al-Lathif fi Alaqati Indunisiyya bi al-Azhar al-Syarif” bahwa pertama kali pelajar Indonesia menginjakkan kakinya di Mesir pada tahun 1850an. Tepatnya orang Indonesia yang pertama kali datang ke mesir untuk menuntut ilmu di Al-Azhar adalah Kyai Abdul Mannan Dipomenggolo Tremas, pendiri Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur. Kemudian diikuti pelajar-pelajar lainnya dari berbagai penjuru Nusantara. Kedatangan tersebut bukan tanpa alasan sebab negara Mesir pada waktu itu tergolong sebagai negara yang maju diantara negara-negara arab lainya. Dibuktikan dengan adanya mesin cetak pertama di dunia arab yang memprakarsai penyebaran informasi seperti pikiran serta gagasan-gagasan para tokoh ulama ke penjuru negeri bahkan menyebar hingga ke negara lain.

Dewasa ini jumlah pelajar dan  mahasiswa Indonesia di Mesir atau yang biasa disingkat sebagai masisir terus bertambah setiap tahunya. Dilansir dari Replubika.id hasil wawancara Maharani (2022) terhadap Duta Besar Indonesia untuk Mesir Dr. (HC) Lutfi Rauf, M.A. bahwa pelajar dan mahasiswa tanah air yang sedang menimba ilmu di Mesir jumlahnya tidak kurang dari 12 ribu orang, 90 persen diantaranya mengambil studi keagamaan dan sisanya berfokus pada ilmu sains (kedokteran, dan farmasi). Dapat disimpulkan bahwa angka tersebut menjadi bukti eksistensi negara Mesir terkhusus Al-Azhar dalam menarik simpati dan minat pelajar serta mahasiswa Indonesia. Namun yang perlu digarisbawahi, terlepas dari fakta di atas masisir juga menjalani rutinitas yang sama seperti mahasiswa pada umunya. Mengikuti bimbingan belajar, berorganisasi, menjadi relawan, dan yang tidak pernah sepi peminat yaitu berwirausaha. Tidak sedikit masisir yang menjalankan status mahasiswanya sambil berwirausaha, bahkan jika diperhatikan semakin hari semakin banyak bermunculan usaha-usaha baru milik para masisir. Mulai dari rumah makan, jasa travel, jasa transfer, jasa tour pariwisata, dan masih banyak lagi. Dengan bermacam bentuk usaha tadi masisir sendiri sebenarnya sudah identik dengan berwirausaha. Dan justru dari keidentikan tersebut disamping memberikan manfaat dan keuntungan juga menyimpan dampak yang harus terus disadari dan dielaborasi.

Stagnasi Wirausaha Masisir

Jika kita mau membuka mata proses wirausaha yang dilakukan oleh masisir pada umunya tergolong monoton dan pasarnya hanya berputar di kalangan masisir itu sendiri. Walaupun ada beberapa wirausahawan yang mampu membuka pasar sedikit lebih luas contohnya kepada wafidin Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand, namun fenomena tersebut justru tidak mendorong munculnya kesadaran untuk mengembangkan strategi dagang yang lebih baik lagi. Bermacam usaha mikro yang sudah mapan dan masyhur di kalangan masisir seolah hanya mencukupkan diri pada pencapaianya saat ini. Entah karena sudah merasa tenang di zona nyaman atau karena tidak adanya perhatian serta arahan dari pihak-pihak yang berwenang.

Keadaan diatas menjadi catatan penting bagi seluruh stakeholder Indonesia yang ada di Mesir. Apalagi berkaca pada kondisi terkini pihak pemerintah setempat sedang melakukan pengetatan tenaga kerja asing sebagi efek dari maraknya pengganguran pasca revolusi. Tidak bisa dipungkiri bahwa proses berwirausaha secara legal di Mesir mebutuhkan dana yang tidak sedikit. Sehingga dengan banyaknya jumlah wairausahawan beserta statusnya yang mayoritas illegal, sangat dibutuhkan peran serta andil dari para fasilitator (PPMI dan KBRI) untuk mengawal aktivitas ini. Mengingat Indonesia sendiri juga tergolong sebagai negara dengan rasio wirausahawan yang rendah dibawah negara-negara middle income. Seharusnya mendorong para fasilitator serta pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kualitas pemberdayaan para wirausahawan Indonesia yang ada di Mesir. Melihat jumlah pelaku usaha di Mesir yang tidak sedikit sangat dibutuhkan wadah pemberdayaan yang strategis untuk membuka peluang lebih luas lagi. Agar stagnasi wirausaha yang dialami wirausahawan masisir segera luntur dan tidak berkepanjangan.

Madrasah Ekspor Optimalisasi Diaspora Indonesia Mesir

Madrasah Ekspor menjadi solusi strategis dalam menjawab fakta serta persoalan di atas. Program ini terisnpirasi dari Yayasan Sekolah Ekspor Indonesia dengan tagline seratus ribu eksportirnya. Bagaimana tidak menginspirasi, konsep yang ditawarkan menyimpan visi besar kemajuan bangsa sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan. Begitupun juga dengan Madrasah Ekspor yang harapannya dapat mengadopsi visi besar komunitas tersebut. Sebagai wadah untuk menumbuhkembangkan eksportir muda, melibatkan generasi muda dalam meningkatkan penerimaan devisa, serta membangun jejaring kewirausahaan global pada usaha mikro.

Madrasah Ekspor muncul sebagai program komunitas studi independen yang dapat diakses oleh seluruh wirausahawan masisir. Menyuguhkan sarana informasi, portofolio, serta analisis yang dibutuhkan untuk mendorong perkembangan pelaku usaha. Dengan karakteristik pembelajaran yang praktis dilengkapi proses mentoring dan monitoring yang berkelanjutan. Penulis menawarkan Madrasah Ekspor sebagai solusi dalam merespon problematika di atas lewat dua fungsi utamanya. Yang pertama, sebagai wadah pengembangan kewirausahaan masisir. Tempat dimana para masisir menggali, memperbaiki serta mengembangkan potensi kewirausahaanya. Yang kedua, sebagai wadah dalam mengoptimalkan peran diaspora Indonesia di Mesir. Untuk mengenalkan serta menyebarluaskan produk keberagaman Nusantara ke pasar dunia.

Oleh: Kunta Ulinnuha

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share