Mencari Titik Jernih Timur Tengah: PCIM Mesir Gelar Forum Strategis
Di tengah teriknya musim panas Kairo, Majelis Hubungan Luar Negeri Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir, menghadirkan angin segar melalui sebuah forum diskusi bertajuk Ruang Diplomasi. Acara ini mengusung tema “Membaca Ulang Konflik Timur Tengah: Narasi, Peran, dan Arah Bantuan” dan diselenggarakan di Markas Dakwah Muhammadiyah Mesir pada hari Rabu, 30 Juli 2025.
Muhammad Aslam Islami, Ketua Majelis Hubungan Luar Negeri PCIM Mesir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi ini diinisiasi sebagai ikhtiar untuk merespons derasnya opini-opini liar seputar konflik Timur Tengah. Di saat yang sama, acara ini bertujuan memperkaya wawasan para Masisir (Mahasiswa Indonesia di M

esir), secara umum dan warga Muhammadiyah secara khusus, agar dapat memahami dinamika konflik dengan lebih jernih dan komprehensif.
Dipandu oleh moderator yang kompeten dan komunikatif, Muhammad Fardan Satrio Wibowo, Lc., Dipl., acara yang dihadiri lebih dari 90 peserta ini berlangsung dengan penuh antusiasme dan interaksi yang hidup.
Menambah bobot diskusi, hadir sebagai narasumber utama Dr. Rahmat Aming Lasim, M.B.A, Diplom
at Ahli Madya yang saat ini menja
bat sebagai Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Kairo. Dalam pemaparannya yang lugas dan sistematis, beliau menguraikan berbagai aspek penting terkait konflik Timur Tengah: mulai dari pembacaan geografis dan aktor-aktor kunci yang terlibat, hingga sikap dan langkah diplomatik yang diambil oleh pemerintah Indonesia, Mesir, maupun Al-Azhar, khususnya dalam merespons tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina.
Tak hanya membentangkan narasi besar diplomasi, beliau juga menyampaikan pesan reflektif bagi para masisir. Menurutnya, penting bagi setiap pelajar—terutama yang berada di kawasan krusial seperti Timur Tenga
h—untuk terus mengasah literasi politik dan memperluas cakrawala bacaan dari sumber-sumber terpercaya. “Jangan sampai kita menjadi pribadi yang kosong—baik dari isi kepala maupun isi perut—karena dalam kekosongan itulah se
mua bisa masuk tanpa disaring dan dicerna” pesan beliau menohok.
Acara ditutup dengan khidmat melalui pembacaan doa yang dipanjatkan untuk keselama
tan dan kemenangan rakyat Palestina, serta bagi seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia.
Semoga Ruang Diplomasi menjadi langkah kecil yang memberi dampak besar: menciptakan ruang diskusi yang sehat, membangun kesadaran kolektif, dan menguatkan solidaritas terhadap perjuangan kemanusiaan. Sebuah awal yang menjanjikan untuk gerak intelektual dan moral yang lebih nyata dari para mahasiswa Indonesia di Mesir.

Leave a Reply