Karya Tulis
Beranda » Blog » Mengulas Buku “Mengapa Bangsa Arab Terpuruk”

Mengulas Buku “Mengapa Bangsa Arab Terpuruk”

Peradaban terbentuk dengan niat besar, jerih payah, dan ulur tangan banyak peran. Ia tidak mudah selayaknya membalikkan telapak tangan. Tantangan akan terjalnya jalan dalam membangun peradaban inilah yang dirasakan salah satunya oleh bangsa Arab.

Megahnya keilmuan Arab cukup tersohor di mata dunia, tetapi kita tidak pernah menutup mata akan terpuruknya bangsa Arab yang saat ini menjadi sejarah kelam dunia Arab. Tulisan kali ini hendak mengulas lebih dalam mahakarya Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang berkedudukan di Kairo, Mesir.

Diberinya judul Mengapa Bangsa Arab Terpuruk, pada bab pertama, penulis menyuguhkan fenomena kemunduran bangsa Arab. Mulai dari ambruknya bangunan strategi, kandasnya arus demokrasi, krisis bangsa Arab hingga dunia luar yang terasa lebih hebat dan sukses jika disandingkan dengan dunia Arab. Disini, penulis seakan-akan mengajak kita sadar bahwa Arab memiliki sejarah kelam, terkapar serendah-rendahnya. Contohnya Dinasti Ottoman di Turki yang pernah ambruk dan diganti dengan Turki modern yang diproklamirkan oleh Mustafa Kemal Ataturk ada tahun 1923. Kemunduran luar biasa ini membuat ia dijuluki The Sick Man of Europe. Dunia Arab yang sedang sakit ini tidak mampu diobatinya sendiri hingga pada akhirnya ditangani konsultan asing yang ditunjuk oleh PBB atau negara besar sekelas Amerika Serikat dan Rusia.

Pada bab kedua, penulis menyajikan kisah-kisah negara yang gagal di dunia Arab. Mulai dari Timur Tengah (secara umum) yang selalu bergejolak seperti Irak, Mesir, Lebanon, Beirut, dan lainnya. Nestapa ini muncul karena adanya masalah internal seperti korupsi dan perebutan kekuasaan hingga masalah eksternal seperti pandemi Covid-19, perang saudara, dan musim semi Arab.

Respon dan pergerakan masyarakat Timur Tengah dalam melawan situasi yang dihadapi tentu selalu muncul ke permukaan, seperti aksi demo massa antikredit Presiden Mursi yang berkumpul di alun-alun Tahrir, 25 November 2012, unjuk rasa antipemerintah di alun-alun Taksim, Istanbul, 9 Juni 2013, pertempuran di Suriah antara pasukan pemerintah dan oposisi serta masih banyak lagi.

Kalau disandingkan tentang ulasan buku novel, bab dua ini seakan-akan konflik yang terpecah menjadi beberapa sub-bab. Selanjutnya, penulis seperti menghadirkan setitik cahaya untuk direnungi dan dipraktikkan oleh bangsa Arab.

Ya, sebuah solusi berupa keharusan pembaruan pemikiran Arab. Arab Saudi, UEA, dan Tunisia dikenal sebagai tiga negara Arab yang cukup maju sektor pendidikannya. Sebut saja dua perguruan tinggi di Arab Saudi yaitu Universitas King Abdulaziz di Jeddah dan Universitas King Saud di Riyadh yang berhasil masuk rangking 500 universitas terbaik di dunia menurut versi UNESCO. Ada pun kemajuan pendidikan di UEA berhasil melahirkan kota Dubai dan Abu Dhabi menjadi kota kelas dunia. Sedangkan kemajuan pendidikan di Tunisia berandil besar atas suksesnya proses demokrasi pasca-gelombang musim semi Arab tahun 2010-2011 di negara itu.

Bangsa Arab juga dirasa perlu belajar ke Asia. Tidak sedikit dari kaum intelektual Arab yang menyebut Asia dalam banyak hal kini sudah lebih maju dari Eropa. Contohnya ada fenomena kemajuan Cina dan Singapura yang mendapat sorotan khusus karena sistem dan kultur politik dua negara ini sangat mirip dengan sistem dan kultur politik dunia Arab, yakni sistem dan kultur politik diktator.

Majunya Cina yang menjelma menjadi negara raksasa juga menyihir pengamat politik Mesir, Abdel Monem Saed tentang keharusan bangsa Arab belajar bahasa Mandarin. Kemajuan teknologi dan ekonomi yang datang dari Cina ibarat air deras yang tidak dapat dibendung lagi. Dengan kata lain, hampir tidak ada negara di muka bumi ini tanpa sentuhan tangan Cina. Karena itu, tegas Saed pada tulisan artikelnya di harian Asharq Al-Aswat edisi hari Rabu 29 Desember 2021 menyebut bahwa sudah waktunya bangsa Arab yang mendiami wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara belajar bahasa Mandarin.

Di bab terakhir, penulis juga membubuhi solusi konkret yang perlu dilewati langkah demi langkahnya, seperti pentingnya membangun rekonsiliasi Westphalia Arab. Nama Westphalia merujuk pada tempat digelarnya konferensi perdamaian di Westphalia, Jerman yang melahirkan kesepakatan politik di Eropa pada 24 Oktober 1648. Salah satu butir dalam rekonsiliasi tersebut menegaskan bahwa tidak diizinkan satu kaum atau kelompok ikut campur dalam urusan kaum atau kelompok lain. Rekonsiliasi Westphalia kemudian disepakati menjadi titik tolak lahirnya negara bangsa yang modern di Eropa, dimana kedaulatan sebuah negara dan bangsa menjadi prioritas dan di atas segala-galanya.

Masalah terakhir yang dihadapi seluruh dunia termasuk dunia Arab adalah pandemi Covid-19. Karenanya, upaya membangun kebangkitan Arab pasca-pandemi cukup dinanti-nanti oleh tiap bangsa Arab. Tahun 2022 ditetapakan sebagai era pasca-pandemi atau minimal masa transisi menuju era pasca-pandemi di dunia Arab. Maka, tahun 2022 dijadikannya sebagai titik tolak meraih kebangkitan kembali bangsa Arab yang sangat terpukul selama masa pandemi. Penulis juga menyebut kunci bangkitnya dunia Arab terlihat ketika berhasil bekerjasama antar negara dan menciptakan perdamaian di tanah Arab.

Selesai mengulas buku Musthafa Abd Rahman ini, saya rasa buku ini cocok untuk para akademisi, pengamat Kawasan Afrika dan Timur Tengah, mahasiswa, serta masyarakat umum. Bahasa yang digunakan juga cukup mengalir. Apabila terdapat istilah asing, penulis tidak segan untuk membubuhi penjelasan di paragraf selanjutnya. Sejauh ini, penulis belum menemui kekurangan dalam buku ini. Walakhir, selamat membaca! Disini kita akan banyak belajar karena sejarah selalu terulang.

Oleh: Ghina Syaikhah Mumtaz

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share