Karya Tulis
Beranda » Blog » Muhammad Abduh dan Adab

Muhammad Abduh dan Adab

 

Sebagai seorang editor dan penulis lepas, tentu bukan hal aneh bila kehidupan intelektual Muhammad Abduh (1849-1905) sangat berkaitan erat dengan adab. Al-Adab (الأدب) secara etimologi bermakna undangan makan, kemudian makna kata ini berkembang seiring zaman dan mulai digunakan untuk menggambarkan kegiatan menyampaikan maksud dengan ungkapan yang indah. Hanya saja, ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, kata adab mengalami penyusutan makna kepada makna etis. Bila mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, maka kata yang tepat untuk adab dalam bahasa Arab adalah sastra.

Adab memiliki dua dimensi, puisi (as-syi’r) dan prosa (an-natsr). Puisi adalah genre adab yang gaya serta susunannya ditentukan oleh irama, rima, bait, serta larik. Di dalam literatur Arab, kita akan mendapati bahwa puisi sudah menjadi budaya temurun sejak berabad-abad lalu semenjak era pra-Islam. Kebalikan dari puisi, prosa adalah genre sastra yang tidak diikat dengan aturan irama, rima, bait, maupun larik, serta memiliki banyak genre turunan.

Merupakan hal yang kurang tepat jika hanya membatasi peran Abduh di ranah pemikiran Islam. Memang, sebagai lulusan Al-Azhar dan pemegang jabatan mufti negara, wajar bila banyak yang mencoba membaca Abduh dari sudut keagaaman. Akan tetapi, Abduh, yang dalam bahasa Robert Wisnovsky disebut sebagai seorang free thinker, harusnya punya konsentrasi yang lebih dari itu.

Pengaruh Jamaluddin Al-Afghani pada diri Abduh tampaknya begitu mengakar. Dengan semangat pan-islamismenya, Al-Afghani begitu getol menyerukan kebangkitan negeri-negeri Islam. Al-Afghani melihat bahwa menulis adalah salah satu sarana terbaik kebangkitan itu, yang membuatnya mendorong murid-muridnya, di antaranya Abduh sendiri, untuk menulis. Al-Afghani pernah meminta secara khusus Ibrahim Al-Laqqani, Abduh, dan beberapa muridnya yang lain untuk menulis di At-Tijarah, salah satu koran Mesir.

Dorongan Al-Afghani ini menjadi babak awal perjalanan Abduh dalam adab. Abduh banyak menulis esai di berbagai media massa saat itu. Esai (al-maqalah) termasuk ke dalam prosa, sehingga bisa dikatakan bahwa kegiatan tulis-menulis Abduh di fase ini adalah suatu kerja adab. Dalam kata lain, fase ini adalah fase dimana Abduh mulai memupuk dirinya sebagai ‘pelaku adab’.

Selain esai, di fase ini Abduh juga menulis beberapa buku, seperti Hasyiyah ‘ala Syarh Jalaliddin ad-Dawwani ‘ala al-’Aqaid al-’Adhudiyyah (ditulis pada 1292 H/1875 M) dan Risalah al-Waridat (ditulis pada 1290 H/1873 M). Buku-buku ini, meski tak bisa secara langsung digolongkan sebagai karya adab, tetapi mampu menghadirkan kepada kita kepiawaian Abduh dalam mengolah kata.

Kita coba menilik potongan teks Abduh dalam Risalah al-Waridat. Di bagian pendahuluan buku, Abduh menulis:

الحمد لله الواجب وجوده، العام جوده. والصلاة والسلام على أحكم حكماء العالم، ومن هو لأساطين الإلهيين خاتم، سيدنا محمد وآله وصحبه.

al-Hamdu lillahi al-wajibi wujuduh, al-’ammi juduh. Wa ash-shalatu wa as-salamu ‘ala ahkami hukamai al-’alam, wa man huwa li asathini al-ilahiyyina khatam, sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbih.

“Segala puji bagi Allah yang wajib wujud-Nya, yang menyeluruh kedermawanan-Nya. Selawat serta salam untuk sebijak-bijak makhluk di seluruh alam, yang menjadi penutup bagi para utusan Tuhan, tuan kita Muhammad, beserta para sahabat dan pengikutnya.” (Risalah Al-Waridat hal. 2)

Di bagian ini Abduh turut melestarikan tradisi para sarjana Islam dalam mengawali buku dengan hamdalah dan selawat dengan menggunakan rima (as-saj’). Di sini, Abduh mengandalkan dua rima, rima huruf dal dhammah yang diiringi huruf ha’ sukun (duh) dan rima fathah yang diawali alif madd dan diiringi mim sukun (-am). Jelas hal ini merupakan suatu kerja adab.

Kita coba mengambil teks lain dari Risalah al-Waridat secara acak:

ولما أمدهم الحق بما فيه إصلاح أبدانهم من جميع لوازم معيشاتهم وبما فيه بقاء هذا النوع من الاستيلاء، ولزم أن يمدهم من جوده وفيضه بما يكون سبباً في تربية عقولهم وتزكية نفوسهم، وطبيبا لبواطن أمراضهم، بأن يبعث فيهم منهم ذا نفس قدسية مطهرة عن جميع شوائب الغفلة، منكشفة لها الاسرار والحقائق على وفق الحكمة بأصل الفطرة.

Wa lamma amaddahum al-Haqqu bima fihi ishlahu abdanihim min jami’i lawazimi ma’isyatihim wa bima fihi baqau hadza an-nau’i min al-istila’, wa lazima an yumiddahum min judihi wa faidhihi bima yakunu sababan fi tarbiyati ‘uqulihim wa tazkiyati nufusihim, wa thabiban li bawathini amradhihim, bi an yab’atsa fihim minhum dza nafsin qudsiyyatin muthahharatin ‘an jami’i syawaibi al-ghaflah, munkasyifatin laha al-asraru wa al-haqaiqu ‘ala al-hikmati bi ashli al-fithrah.

“Dan ketika Sang Kebenaran (baca: Allah) memberi para hambanya karunia yang padanya terdapat maslahat bagi tubuh mereka, berupa segala kebutuhan hidup, serta karunia yang padanya terdapat keutuhan jenis mereka, berupa kekuasaan, dan menjadi sebuah keharusan, sebab kedermawanan dan limpahan rahmat-Nya, agar Dia memberi para hamba-Nya karunia, yang menjadi sebab tumbuh akal dan kesucian jiwa mereka serta menjadi tabib bagi penyakit batin mereka, dengan mengutus kepada mereka, dari kalangan mereka sendiri, seorang (rasul) yang agung lagi suci jiwanya dari segala cacat dosa, yang tersingkap bagi jiwanya itu rahasia dan hakikat yang sejalan dengan hikmah dengan fitrah yang asli.” (Risalah al-Waridat hal. 17)

Pada bagian ini juga nampak kerja adab Abduh. Rima antara al-ghaflah dan al-fithrah, pemilihan diksi yang begitu detail dan hati-hati, serta tegangan antar kalimatnya menunjukkan kepada kita ‘aqliyyah Abduh yang sudah mencapai batas yang begitu jauh dalam kerja adab di umurnya yang masih tergolong belia.

Tak diragukan lagi bahwa Abduh adalah salah satu prosais besar dalam sejarah adab Arab. Dengan fase awal kerja adab yang begitu baik, hal itu bukan suatu yang aneh. Bila melihat kompilasi karya Abduh yang didit Muhammad ‘Imarah, kita kan mendapati bahwa Abduh telah menulis lebih dari 100 esai selama hidupnya yang tersebar di berbagai media, mulai dari al-Ahram, al-’Urwah al-Wutsqa, al-Manar, dan lain-lain.

Akan tetapi, apakah keterkaitan Abduh dengan adab hanyalah sebagai pelaku adab ataukah Abduh juga menulis tentang adab dan memiliki peran konkrit dalam perkembangannya?

Interaksi dengan adab terbagi menjadi dua, interaksi langsung dengan menjadi pelaku adab dan interaksi tidak langsung dengan mengomentari dan memberi catatan terhadap karya adab. Interaksi melalui karya adab inilah yang disebut dengan kritik adab (an-naqd al-adabi). Kritik adab sendiri didefinisikan sebagai bidang ilmu yang berusaha menafsirkan karya adab guna mengetahui bagian yang indah darinya dan yang tidak indah.

Apakah Abduh, selain sebagai sebagai pelaku adab, adalah juga sekaligus seorang kritikus adab? Bila melihat rekam jejak intelektualnya, kita akan menemukan bahwa Abduh ternyata turut aktif dalam ranah kritik adab. Saat di Beirut, Abduh menerbitkan ulang, mengedit, dan memberi catatan kaki untuk Nahj al-Balaghah. Nahj al-Balaghah adalah buku yang kompilasi kumpulan perkataan ‘Ali bin Thalib yang disusun asy-Syarif ar-Radhi dan memang banyak memuat kosa kata asing. Di situlah peran catatan kaki Abduh, guna menerangkan makna kosa kata asing itu.

Selain Nahjul Balaghah, Abduh juga melakukan kerja serupa pada Maqamat karya al-Hamadzani. Maqamat adalah genre adab prosais yang formatnya seperti cerita pendek dengan tokoh dan konflik, yang biasanya berkutat soal kemiskinan. al-Hamadzani sendiri adalah orang yang pertama kali menggagas genre adab maqamat.

Abduh juga berperan dalam diajarkannya buku-buku adab di al-Azhar. Tercatat, Abduh, sekembalinya dari pengasingan, pernah mengamahkan kepada Sayyid bin ‘Ali al-Marshafi untuk mengajarkan buku-buku adab seperti al-Kamil karya al-Mubarrid dan Diwan al-Hamasah karya Abu Tammam di al-Azhar.

Ia juga berperan dalam diterbit ulangkannya buku yang menjadi asal muasal kritik adab Arab klasik, Dalail al-I’Jaz karya Abdul Qahir al-Jurjani. Dalail al-I’Jaz yang diedit dan diterbitkan Abduh adalah versi cetak paling pertama buku ini. Versi ini pulalah yang dijadikan salah satu dari tiga naskah utama yang dijadikan Mahmud Syakir sebagai landasan dalam menerbitkan Dalail al-I’jaz versinya, yang adalah versi cetak terbaik untuk saat ini.

Tentu maih banyak sumbangsih Abduh lain dalam adab yang tak disebutkan di sini. Akan tapi beberapa data di atas saya kira cukup menjadi bukti bagaimana seorang Syekh Muhammad Abduh ternyata juga memiliki konsentrasi dalam bidang adab sebagai pelaku adab itu sendiri sekaligus sebagai kritikus adab. Sehingga, sebagai tema yang belum banyak disentuh, saya kira, tema keterkaitan Muhammad Abduh dengan adab perlu diperluas dan diperdalam lagi di ranah diskusi dan penelitian ilmiah.

 

*Disusun sebagai bahan pemantik diskusi Arkeologi Wacana Abduh, kelompok kajian Abduh Studies

Oleh: Daffa Allamsyah

 

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share