Di usianya yang ke 21 tahun, angka yang cukup matang bagi PCIM Mesir sebagai organisasi, bertahan sekian tahun kiranya layak untuk mengatakan bahwa PCIM Mesir memiliki sistem kaderisasi yang baik dan teruji. Organisasi ini diresmikan pada tanggal 23 November 2002 oleh rombongan PP Muhammadiyah, diantaranya Din Syamsuddin dan Haedar Nashir. Harapan besar melekat pada PCIM Mesir sebagai PCIM Luar Negeri pertama, agar menjadi gerbang awal Muhammadiyah menyapa dunia internasional dan menjadi lumbung kaderisasi ulama di Muhammadiyah, mengingat PCIM Mesir bertempat di negara Mesir yang identik dengan madrasah-madrasah keilmuan islam.
Kegiatan yang ada di PCIM Mesir, salah satunya merupakan kegiatan yang berkaitan dengan keilmuan. Sejak awal kedatangan, kita disambut dengan program Forza, kegiatan yang memiliki muatan pengayaan akan tujuan kita ke Mesir. Selain itu, ada Follow Up Forza yang banyak diisi degan kegiatan kajian, mulai dari ilmu mantiq, nahwu, tasawwuf, dll. Harapannya dapat menunjang kesiapan kita mempelajari ilmu-ilmu yang di al-Azhar baik di masjid maupun kampus, di tingkat akhir juga ada program Tarjih Academy untuk pematangan para kader untuk kembali ke Indonesia. Semua kegiatan tersebut tak lain dan tak bukan merupakan komitmen PCIM Mesir sejak awal didirikannya yaitu untuk menjadi lumbung kaderisasi ulama Muhammadiyah.
Muhammadiyah saat ini memiliki 440 Pondok Pesantren, sebuah angka yang sangat melonjak, setelah sebelumnya pada tahun 2015 hanya berjumlah 127. Meski begitu, jumlah tersebut menurut ketua LP2M yaitu Maskuri menimbulkan PR baru berupa kaderisasi para pengajar agama di pesantren tersebut. Tumbuh dan berkembangnya pesantren tidak diimbangi dengan adanya sosok pengajar agama yang berkompeten mengajarkan muatan keagamaan yang baik dan lurus.
Fakta kurangnya pengajar agama, juga disambut oleh kegelisahan lain beberapa tahun terakhir ini. Ada sebuah pernyataan yang dilontarkan ke publik bahwa Muhammadiyah saat ini, krisis sosok ulama. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam dianggap kekurangan sosok yang ahli di bidang ilmu Islam seperti sedikitnya ahli Tafsir, Hadist, Fiqih, Aqidah, ataupun Tasawwuf. Tokoh-tokoh dari gerakan islam lain seperti Baha’uddin Nur Salim, Idrus Ramli, Ar-Razy, Syafiq Reza, Khalid Basalamah dll, justru lebih populer dan dirasa memiliki kemampuan yang lebih mumpuni daripada Ulama’ di Muhammadiyah.
Identitas Islam modern yang melekat pada diri Muhammadiyah nampaknya memiliki PR serius. Sebagai representasi Islam Modern yang “katanya” memaknai Islam tidak hanya pada ritual, Muhammadiyah telah sukses menjadi ormas Islam yang mendorong nilai-nilai pencerahan bagi bangsa, Muhammadiyah memberikan wajah lain dari ummat Islam, sebuah wajah yang lebih cerah, gembira, dan berkemajuan. Namun hal itu meninggalkan celah berupa gersangnya sosok ulama yang konsen pada ilmu Islam, para kader persyarikatan lebih didorong untuk memiliki karir di dunia kedokteran, pertanian, politik, hukum dll. Itu bukan hal yang salah, namun kekosongan sosok ulama merupakan hal yang harus segera diatasi, mengingat identitas Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis Islam.
Siapa itu Ulama?
Ulama’ secara bahasa berasal dari kata arab, ia merupakan jamak taksir dari kata ‘Alim, yang berarti orang-orang berilmu, dari definisi ini seorang ulama’ bukan hanya pada sosok agamawan saja, ia memiliki makna luas yaitu setiap orang yang ahli dalam ilmu tertentu. Maka sebutan ‘alim merupakan sebutan untuk profesi apapun, seperti Insinyur, Dokter, Sosiolog, Filsuf, Penjahit, termasuk juga Agamawan. Setiap orang yang memiliki ilmu dan menguasainya maka dalam bahasa arab dia masuk dalam kategori orang ‘alim.
Dalam KBBI, makna ulama adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama islam. ulama tidak bermakna hanya orang ahli saja seperti makna bahasa, namun kata ulama merujuk pada seorang yang ahli dalam pengetahuan agama Islam. Kiranya makna ini lah yang cocok mewakili soal kegelisahan dari pimpinan hingga warga persyarikatan Muhammadiyah akan sosok ulama, seorang yang ahli dalam pengetahuan agama islam, bukan ulama dalam maknanya secara umum yaitu orang yang ahli dalam bidang tertentu.
Sejalan dengan makna tersebut, di dalam kitab at-Tahrir wa-at-Tanwir, Thahir ibn Asyur saat menafsirkan surat al-Fathir ayat 28, menyebutkan bahwa makna dari ulama’ adalah “Orang-orang yang mengetahui tentang Allah dan syariat. Sebesar kadar pengetahuan tentang hal itu sebesar itu juga kadar kekuatan khasyat/takut.”. Makna ini menunjukkan bahwa pengertian ulama’ secara istilah adalah orang-orang yang ahli dalam ilmu Islam serta dari ilmu tersebut dapat menumbuhkan perasaan takut pada Allah Swt.
Makna ulama di atas telah menunjukkan pada kita bahwa kegelisahan yang dialami oleh pimpinan dan warga persyarikatan, merupakan gelisah atas kealpaan sosok kader Muhamamdiyah yang berkompeten untuk menyampaikan ajaran islam. Bukan makna ulama secara bahasa yang berarti seorang ahli dalam berbagai ilmu, karena Muhammadiyah sejatinya tidak pernah kehilangan seorang ahli, kegelisahan tersebut lebih kepada kurangnya sosok kader Muhammadiyah yang ahli dalam ilmu Fikih, Tafsir, Hadis, dan ilmu-ilmu Islam yang lain.
Kehadiran PCIM Mesir saya kira menjadi amat penting, mengingat akses yang dimiliki para kader di sini sangat luas dan mudah. Perpustakaan sangat menjamur di belakang masjid al-Azhar, talaqqi menjadi pilihan untuk menambah pengetahuan, perkuliahan dengan bahan ajar yang komprehensif dari berbagai sumber keislaman. Peran PCIM Mesir sangat sentral untuk menjadi sebuah wadah bernaung di dalamnya kader-kader ulama yang dirindukan oleh warga perserikatan, serta menjadi harapan cerah untuk wajah keislaman yang ada di Muhammadiyah.
Oase di Tengah Gersangnya Gurun
Sanad ilmu para ulama Muhammadiyah banyak yang tersambung ke negara Mesir, sebuah negeri yang terletak di Benua Afrika bagian utara, di kelilingi oleh Gurun, dan hanya pada sungai Nil warganya menggantungkan kehidupan. Ahmad Dahlan terpengaruh oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang berasal dari Mesir, atau Mas Mansoer ketua Majelis Tarjih pertama yang pernah menimba ilmu di negara Mesir, tokoh lain seperti Hamka dan Azhar Ba’asyir, yang juga memiliki sanad keilmuan dengan ulama di negera ini.
Mesir merupakan negeri yang menyimpan sebuah peradaban yang gemilang, mulai dari peradaban Mesir Kuno yang hingga saat ini masih terus dibincangkan dan diteliti, hingga peradaban keagamaan yang tersimpan di negeri ini. Ada masjid Amru ibn Ash, ada Gereja Gantung yang dibangun pada abad ke 7 M, atau Sinagoga bin Ezra yang dibeli pada tahun 882 M. Bahkan ada sebuah ilmu khusus untuk membahas Mesir yang disebut dengan Egiptologi, Mesir tidak akan habis untuk dibincangkan karena di dalamnya tersimpan berbagai macam peninggalan peradaban manusia.
Gurun yang merupakan daratan mayoritas di Mesir, tak menghalangi negeri ini untuk memiliki sebuah peradaban yang gemilang. Badan Pusat Statistika Mesir menyebutkan 96% Mesir merupkan gurun, yaitu daratan berdebu tanpa air, gurun Gharbiyyah adalah gurun terluas yang memiliki keluasan sekitar 68% dari seluruh luas Mesir, maka bisa dibayangkan bagiamana negara ini sangat jauh berbeda dengan Indonesia yang hijau dan banyak sumber mata air di berbagai tempat.
Namun begitu, di tengah gersangnya gurun itu, terdapat madrasah-madrasah agama Islam yang ada di Mesir, Madrasah tersebut layaknya sebuah oase pemuas dahaga fikiran manusia. Pelajar mancanegara datang ke Mesir bagaikan seorang pengembara di tengah gurun, madrasah itu seperti oase di tengah kebodohan ummat, maka tak ayal mereka berbondong-bondong untuk berteduh dan memuaskan dahaga tersebut. Madrasah-madrasah ini telah ada sejak lama mulai dari Fathimiyyah, Ayyubiyah hingga era Modern saat ini.
Mesir pada era Fathimiyyah, mulai membuka madrasah-madrasah khusunya keagamaan yang menjadi mercusuar peradaban di Mesir. Salah satu madrasahnya adalah Madrasah Muadz ibn Daud, Madrasah Auniyyah di Alexandria, ataupun Madrasah Hafidziyyah. Serta al-Azhar sebagai masjid yang dibangun pada era Dinasti Fathimiyyah, hingga saat ini masih menjadi pilihan para pelajar agama untuk memuaskan dahaga pengetahuannya.
Pada era Ayyubiyah pun sama, jumlah madrasah yang ada pada saat itu menurut Al-Maqrizi terhitung sebanyak 26 Madrasah, 2 di Fayoum dan 24 di Kairo/Fustat. Ini semakin menunjukkan pada kita bahwa peradaban yang dibangun di Mesir, merupakan peraban gemilang yang bersandar pada ilmu. Pada era itu, banyak madrasah membuka pengajaran fikih, salah satu yang terkenal adalah Madrasah Nashiriyyah yang terletak di sekitar masjid Amru ibn Ash dan mengajarkan fikih Imam Syafi’i, atau madrasah Qimhiyyah yang khusus mempelajari Fikih Imam Malik, serta madrasah Suyufiyyah di sekitar Masjid Husein yang fokus pada pengajaran fikih Imam Hanafi. Selian itu, ada madrasah lain yang berfokus pada pengajaran hadis yang terletak di area Syari’ Muiz yaitu Madrasah Kamiliyyah.
Di tengah gersangnya gurun, Mesir tetap memiliki oase, bukan hanya tempat untuk meneguk air semata, namun juga oase keilmuan Islam yang ada di tengah-tengah daratan gurun yang luas dan gersang itu. Mesir telah mewarisi cara beragama yang tertib melalui sebuah madrasah, itu diajarkan sejak ratusan tahun lamanya, warisan metode belajar tersebut terus berkembang dan bertumbuh hingga saat ini, dengan adanya banyak madrasah keilmuan yang ada di masjid al-Azhar maupun di sekitarnya.
Mewarisi metode belajar di atas, rasanya kita dapat melihat bagaimana metode tersebut tetap subur hingga saat ini, hingga di setiap lembaga yang ada di kalangan mahasiswa Indonesia di Mesir di dalamnya juga akan ada lembaga belajar, di PCIM Mesir terwakili dengan adanya Dar Ahmad Dahlan. Sebuah Lembaga otonom yang fokus pada pembelajaran ilmu-ilmu alat atau washail harapannya agar ada intensitas para kader untuk belajar bersama, serta menjadi penunjang untuk belajar di level selanjutnya.
PCIM Mesir mewarisi apa yang telah para ulama Mesir jalankan, yaitu warisan metode belajar melalui madrasah-madrasah secara bertahap. Sebuah metode belajar yang harapannya akan menelurkan ulama sekaliber Ahmad Dahlan, Mas Mansoer, Hamka, dll. Seperti halnya madrasah yang ada di Mesir menjadi oase di tengah gersangnya gurun, maka harapannya begitu juga yang akan terjadi dengan PCIM Mesir, ia akan menjadi oase di dalam tubuh Muhammadiyah akan kerinduannya atas sosok ulama pewaris nabi itu.
Dengan kader yang berjumlah ratusan, maka PCIM tentu akan menjadi harapan bagi persoalan ini. Adanya program beasiswa kerja sama antara Lazismu Pusat dan PCIM Mesir, merupakan bentuk kongkrit harapan dan perhatian dari PP Muhammadiyah atas keberadaan PCIM Mesir, agar bisa menjawab dan menuntaskan persoalan ini. Menjadi oase yang meneduhkan ummat, menjadi oase yang menjadi sumber hidupnya nilai-nilai keislaman, serta menjadi oase dari kering dan gersangnya nilai-nilai keislaman.
PCIM Mesir Sebagai Arus Balik Kader Muhammadiyah
Semua harapan itu bukanlah sebuah angan-angan semata jika kita melihat progress yang telah dilalui oleh PCIM Mesir, geliat keilmuan tetap menjadi arus utama dari kegiatan para kadernya. Program berupa rumah binaan Fustat yang akan lebih intens pada kaderisasi ilmu-ilmu keislaman, ada juga BibliotekMd yang akan menjadi sumber bacaan bagi para kader-kader, Dar Ahmad Dahlan yang telah melaksanakan wisuda angkatan pertama, serta Tarjih Academy yang telah dilaksanakan kali ketiga pada tahun ini.
Semua bekal itu kiranya akan menjadi arus balik ulama di Muhammadiyah. Ulama yang cakap dan ahli untuk membicarakan persoalan khas keislaman, seperti fikih, tafsir, hadis, tasawuf, akidah dll. Setelah sekian lama wajah kader Muhammadiyah diisi dengan orang-orang yang ahli di ilmu umum seperti kedokteran, perawat, jurnalis, ahli hukum, dll. Kini saatnya kader-kader ulama ini tampil dan menjadi jawaban atas keresahan warga persyarikatan.
Arus balik ulama bukanlah semacam gerakan yang akan bersifat dekonstruktif, artinya bukan arus balik dengan cara meruntuhkan sebuah sistem lama yang telah diyakini oleh Muhammadiyah. Kegemilangan Muhammadiyah di bidang-bidang ilmu umum tetap akan berjalan sebagaimana mestinya, namun begitu itu perlu diiringi dengan adanya arus balik kader ulama yaitu sosok kader yang mampu mendorong kegiatan persyarikatan seperti pengajian kitab bukan hanya rapat, menumbuhkan kesadaran wawasan keagamaan bukan hanya wawasan politik, menghidupkan kembali budaya baca kitab kuning bukan hanya kitab putih.
Kader PCIM Mesir merupakan kader yang telah ditimpa dengan berbagai macam kondisi yang belum tentu dihadapi oleh kader Muhammadiyah di tempat lain. Terpaut jarak dengan orang tercinta, waktu yang dihabiskan bertahun-tahun tidak bertemu keluarga/orang tua, gegar budaya atau culture shockdengan budaya baru, atau berpacu dengan dingin dan panasnya cuaca di Kairo. Itu semua merupakan kondisi-kondisi yang kata Ibn Khladun dalam Muqaddimah menjadi bekal sebuah perubahan sosial dalam masyarkat, selain itu kata Ibn Khladun dalam kitab yang sama, ada peranan solidaritas (Ashobiyyah) yang juga memungkinan terjadinya perubahan sosial.
PCIM Mesir sebagai madrasah diharapkan akan menjadi sebuah lokus perubahan sosial utamanya ulama di Muhammadiyah. Kegelisahan yang dirasakan oleh Maskuri serta pernyataan bahwa Muhammadiyah kekurangan kader Ulama’ akan sedikit demi sedikit teratasi dengan baik. Ditempa dalam kondisi sulit, serta telah terjalin dalam perasaan solidaritas antar kader. Maka sebuah arus balik ulama dalam tubuh Muhammadiyah, bukanlah sebuah mimpi belaka, namun hal tersebut akan benar-benar terwujud pelan tapi pasti.
Oleh: Muh. Yusmi Ridho

