Karya Tulis
Beranda » Blog » Pentingnya Kolaborasi antara Sekolah dan Keluarga dalam Mendukung Pendidikan Anak

Pentingnya Kolaborasi antara Sekolah dan Keluarga dalam Mendukung Pendidikan Anak

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, seperti itulah kiranya peribahasa yang sering kita dengar mengenai sifat atau karakter seorang anak yang tidak akan jauh dari orang tuanya. Bagaimana tidak, orang tua —yang terdekat dengan anak dalam keluarga— sebagai al-madrosah al-ûla (madrasah pertama—penj) memiliki peran yang sangat penting dalam membangun nilai-nilai dasar dalam bersikap dan berpikir. Bagaimana sikap dan mindset (pola pikir) seorang anak tidak lepas dari bagaimana orang tua mendidiknya.

Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya “Terapi Berpikir Positif” menempatkan orangtua di posisi pertama yang memiliki pengaruh terhadap pemikiran anak. Kemudian setelah itu keluarga berada di posisi kedua. Karena ruang lingkup keluarga itu bukan hanya orang tua, akan tetapi saudara kita, kakek, paman, dan sebagainya termasuk dalam cakupan keluarga. Dan orang tua menjadi orang paling penting dalam membentuk pola pikir atau mindset anak yang nantinya berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam kehidupannya, terutama dalam hal pendidikan. Karena segala yang di peroleh di keluarga atau dari orang tua akan menjadi referensi utama dalam berinteraksi dengan diri sendiri atau dunia luar.

Pendidikan merupakan hak setiap anak dalam ruang lingkup keluarga dan merupakan hak setiap orang dalam ruang lingkup yang lebih luas. Istilah pendidikan biasanya menunjukkan suatu proses belajar yang memiliki target-target tertentu dalam jenjang waktu tertentu sesuai dengan usia anak tersebut. Dalam hal ini sekolah atau kampus menjadi tempat dilaksanakannya kegiatan belajar mengajar. Adapun pendidikan yang terjadi di rumah merupakan pendidikan dasar dimana nilai-nilai dasar kehidupan secara umum diajarkan.

Sedangkan di sekolah anak belajar lebih detail dan mengenal berbagai macam ilmu. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan setiap anak berkembang dan bakat yang masing-masing dimiliki mulai menonjol. Supaya bakat-bakat itu memberikan hal positif bagi kehidupannya maka peran keluarga dan pihak sekolah sangat diperlukan. Dimana dukungan positif dari keluarga dan guru khususnya akan mendorong anak untuk terus mengembangkan lagi kemampuannya dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam menggapai cita-citanya.

Dr. Aisyah Dahlan dalam suatu podcast mengatakan bahwa anak yang berusia 7-12 tahun menjadikan guru sebagai orang yang kata-katanya dijadikan argumen dalam setiap keputusannya atau pandangannya terhadap suatu tertentu. Dimana perkataan guru lebih didengar dari pada perkataan orang tuanya atau keluarganya. Dan apa yang disampaikan guru akan menjadi referensi utama ketika menghadapi hal-hal yang bertentangan. Maka dari itu, kolaborasi antara sekolah —khususnya guru— dan keluarga —khususnya orangtua— sangat diperlukan dalam pendidikan anak. Karena keduanya saling melengkapi satu sama lain. Apabila kerja sama antara keduanya tidak terjalin maka akan sangat sulit bagi anak untuk berkembang dan sukses dalam pendidikannya.
Sebagai contoh, misalnya seorang anak yang di keluarganya kurang mendapat perhatian; khususnya dari orangtuanya, tidak diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya atau apa yang ia rasakan, tidak memiliki kebebasan dalam memilih sesuatu, dan lain-lain. Itu semua akan berakibat buruk terhadap psikologisnya.

Dalam kehidupan sehari-hari terutama di sekolah ia akan menjadi orang yang sangat tertutup terhadap orang lain, memiliki antusias yang rendah, minder atau tidak memiliki kepercayaan diri, dan lain-lain. Sehingga dari sini ia sulit berkembang, bakat atau kelebihannya tidak muncul disebabkan di keluarganya mendapat perlakuan atau pendidikan seperti itu. Sungguh ini sangat disayangkan, dimana bakat atau kelebihan yang dimiliki seharusnya bisa muncul dan menjadi keahliannya itu terhambat oleh perasaan-perasaan yang sudah mengakar kuat.

Atau misalnya, seorang anak yang selalu diperlakukan tidak adil di sekolahnya, atau guru yang tidak mengerti dan peduli terhadap kondisi psikologis anak didiknya, teman sekolah yang tidak ramah; suka melakukan bullying, dan lain-lain juga berdampak buruk bagi perkembangan psikologisnya. Karena anak menjadi malas untuk belajar di sekolah dikarenakan ia tidak mendapatkan kenyamanan dan memiliki stigma negatif terhadap sekolah. Boleh jadi ia mencari kenyamanannya di luar dan terjebak dalam pergaulan bebas, atau kalau pun tidak begitu ia mengurung diri di rumahnya dan tidak memiliki banyak teman, takut berinteraksi dengan dunia luar.

Tentu ini menghambat perkembangan kemampuannya dimana seharusnya ia berkesempatan untuk melakukan suatu yang menjadi minatnya dan kemudian terus mengasahnya. Tentu ini juga disebabkan dukungan dari keluarga yang rendah sehingga tidak bisa menghadang pengaruh negatif dari luar yang justru merugikan diri kita sendiri. Kolaborasi sekolah dan keluarga akan membuahkan hasil baik ketika keduanya memiliki hubungan baik satu sama lain, dimana ketika orang tua mendaftarkan anaknya masuk sekolah kemudian orang tua mencari tahu yang akan menjadi wali kelasnya—khususnya— untuk berbicara dan saling mengenal satu sama lain. Dan orang tua menyampaikan segala hal tentang anaknya, dari sifatnya, kebiasaannya, kelebihannya, kekurangannya, dan lain-lain.

Sehingga dari apa yang disampaikan orang tua terhadap guru, guru itu menjadi paham apa yang harus ia lakukan terhadap masing-masing anak dan membantu anak menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Karena guru yang dimana ia adalah pengganti orang tua ketika di sekolah merupakan orang lain yang tidak tahu menahu tentang latar belakangnya. Jadi, lewat komunikasi orang tua dan guru ini akan sangat membantu guru dalam proses pembelajaran.

Karena dengan begitu, seorang guru di samping ia merupakan seorang pengajar, tetapi di sisi lain ia juga seorang pembimbing bagi murid-muridnya. Dimana guru tidak hanya melakukan transfer ilmu saja, akan tetapi juga nilai-nilai kehidupan atau norma yang tidak di dapatkan dari mata pelajaran sekolah. Hal semacam ini sangat jarang kita temui.

Dan biasanya hubungan baik antara keluarga dan lembaga pendidikan lebih banyak terjadi dan sering kita temui dalam ranah pesantren, khususnya pesantren tradisional. Bagi kita yang lulusan pesantren pasti mengalami saat pertama kali berangkat pondok itu, kita dikenalkan dulu oleh orang tua kita kepada pengasuh atau guru pesantren tersebut. Disana orang tua kita menyampaikan maksudnya menitipkan anaknya di pesantren serta hal-hal terkait sifat, kebiasaan kita.
Tentu itu bukan tanpa alasan. Karena dengan cara seperti itu orang tua juga menunjukkan perhatiannya terhadap anaknya melalui pengasuh pesantren tersebut. Maka tak sedikit kita lihat perubahan pada seorang anak, antara sebelum dan setelah masuk pesantren.

Kemudian, diantara kita pasti memiliki teman yang orang tuanya merupakan seorang guru. Dan pasti kita temui rata-rata dari mereka merupakan anak yang pintar, berprestasi, dan memiliki aura positif. Tentu itu bukan tanpa sebab. Karena biasanya orang tua yang juga merupakan seorang guru memiliki perhatian lebih terhadap perkembangan anaknya, terutama dalam hal pendidikan. Dan tentunya, orang tua tidak melakukan itu sendirian. Akan tetapi, dengan kerja sama antara anggota keluarga yang ada dan juga pihak sekolah.

Sisi gelapnya, biasanya anak akan mudah tertekan dengan profesi orang tuanya sebagai guru jika misalnya ia tidak bisa memberikan hasil yang sesuai yang akan mempermalukan orang tuanya yang notabene berprofesi sebagai guru. Akan tetapi hal itu akan mudah terselesaikan jika orang tuanya bijak dalam memilih tindakan.

Oleh karena itu, tampak jelas bagi kita bahwa kita membutuhkan orang lain dalam mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini keberhasilan seorang anak dalam pendidikannya membutuhkan setidaknya kolaborasi yang apik dari setiap orangtua dan pihak sekolah. Bukan hanya bergantung pada salah satu dari keduanya, atau hanya mengandalkan diri sendiri.

Oleh: Ridwan Hilmi

 

Post Related

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Share