Puasa Menurunkan Produktivitas ?; Telaah atas Tuduhan Madrasah Penganulir Baru
Sekilas mencermati judul di atas terkesan seolah mengundang anomali, namun inilah salah satu bentuk tuduhan yang kerap digulirkan oleh penganut madrasah penganulir baru atau bisa disebut kaum liberal. Lebih parahnya, ada yang berpendapat bahwa maksud dari ibadah adalah menyucikan jiwa, dan maksud tersebut bisa ditempuh tanpa beribadah sekalipun. Tuduhan mereka semacam ini, sudah bisa dipastikan berangkat tanpa dasar pijakan nash agama dan basis penelitian yang objektif. Sebab jika dilihat dari kacamata hukum Islam, ijtihad mereka dalam masalah ini telah melenceng jauh dari kaidah baku yang telah ditetapkan para ulama’.
Dari segi nash agama, kewajiban mengenai puasa Ramadhan merupakan sesuatu yang bersifat qath’i, meminjam istilah Abdul Wahab Khallaf, “qath’i merupakan sesuatu yang menunjukkan kepada makna tertentu yang harus dipahami dari teks (Al-Qur’an atau Hadis).” Artinya qath’i tidak mengandung kemungkinan adanya ta’wil, serta tidak ada tempat maupun peluang untuk memahami makna selain makna yang terdapat dalam teks. Dalam Al-Qur’an ayat yang begitu familiar mengenai puasa “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:183). Mengenai ayat ini Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an, beliau menjelaskan “Sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya mengenai wajibnya qishas dan wasiat bagi mukhallaf, maka Allah Ta’ala menyebutkan wajibnya puasa dan mewajibkannya kepada mereka (kaum muslimin). Maka, dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat mengenai kawajibannya.”
Dari sini, nampak jelas mengenai maksud tuduhan mereka yang tidak lain hanya ingin menghapuskan syariat puasa demi mewujudkan kemaslahatan yang mereka karang-karang sendiri, sebagaimana pernah disinggung oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Maqashid Syari’ah bahwa kecenderungan mereka adalah “Berani melawan teks-teks qath’i dengan nama kemaslahatan yang tidak benar.” Di samping itu, mereka seakan menutup mata terhadap penelitian mutakhir yang menyingkap berbagai rahasia dan hikmah di balik puasa, dan tentunya sangat kontradiktif dengan apa yang mereka tuduhkan.
Fakta Historis, Berbagai Kemenangan Umat Islam dalam Bulan Puasa
Ramadhan selain disebut syahrus shiyam, ia juga merupakan syahrul jihad wal intisharat (bulan jihad dan kemenangan). Sebab hawa nafsu manusia akan diuji dengan rasa lapar dan haus yang selanjutnya disebut puasa secara lahiriyah. Sementara pada dimensi bathiniyah nafsu manusia akan dituntut untuk menjauhi segala perkara yang dapat merusak pahala puasa seperti berdusta, bersaksi palsu, menganiaya, dan segala perbuatan keji lainnya. Manakala manusia mampu mengontrol hawa nafsunya dengan baik, maka outputnya adalah ia akan semakin dekat dengan Allah Ta’ala, dan kedekatan seorang hamba kepada TuhanNya inilah yang menjadi faktor penentu sebuah kemenangan.
Dalam berbagai catatan sejarah, banyak terjadi peperangan besar dimenangkan oleh kaum muslimin yang kebetulan juga bertepatan pada bulan Ramadhan, di antaranya :
- Perang Badar pertempuran pertama kaum muslimin dengan jumlah 313 pasukan melawan 1000 pasukan kaum kafir Quraisy yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
- Fathu Makkah penaklukan kota Mekah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah.
- Penaklukan kota Andalus, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 H. Kaum muslimin dipimpin oleh Tariq bin Ziyad melawan tentara Goth di daratan Andalus atau sekarang disebut dengan Spanyol.
- Pertempuran Hittin, pada bulan Ramadhan tahun 584 H. Kaum muslimin yang dipimpin oleh Salahuddin Al-Ayyubi berhasil mengalahkan tentara salib dan membebaskan Baitul Maqdis, Yerusalem.
- Perang Ramadhan atau dikenal juga dengan perang Arab-Israel. Peperangan yang terjadi ketika tentara Mesir dan Suriah mengawali perperangan melawan Israel. Pertempuran ini terjadi pada 6 Oktober 1973 Masehi dan bertepatan dengan 10 Ramadhan 1390 H.
Dari beberapa catatan di atas, kiranya masih banyak penaklukan yang dilakukan oleh kaum muslimin pada bulan Ramadhan, namun di sini penulis ingin membatasi agar fokus pembahasan tidak terlampau melebar luas. Dengan fakta sejarah tersebut, bukan lantas membuat umat Islam terjebak pada romantisme sejarah, tapi setidaknya telah menjawab bantahan kaum penganulir baru yang hanya melihat puasa dari sisi permukaannya saja.
Bagaimana mungkin puasa yang katanya menurunkan produktivitas, justru dengan berpuasa spirit kaum muslimin bertambah kuat tatkala melawan musuh-musuhnya dalam medan pertempuran, sehingga dengannya umat muslim meraih kemenangan, dan peradaban Islam dapat tersebar ke berbagai penjuru wilayah.
Hasil Penelitian Ilmiah yang Menyingkap Rahasia Puasa
Jika menilik berbagai penelitian ilmiah, di sana akan dijumpai fakta-fakta menarik yang mengungkapkan akan manfaat puasa. Bahkan sejumlah ilmuwan barat yang notabenenya bukan seorang muslim juga mengakui hal senada, seperti hasil riset yang dilakukan oleh keluarga Buchinger Wilhelmi selama 100 tahun menunjukkan bahwa puasa mampu memberi dampak yang sangat baik untuk kesehatan. Di antara dampak postifnya adalah, puasa dapat menjadi terapi bagi penderita diabetes dan jantung, karena dengan berpuasa akan melatih stress, dalam hal ini, stresor dalam bidang kesehatan merupakan stimulus atau peristiwa yang menimbulkan respons stres pada suatu organisme.
Tentu masih ada banyak lagi manfaat puasa dari segi kesehatan jasmani maupun rohani yang tidak mungkin jika diulas secara keseluruhannya di sini. Namun, inilah hasil penelitian ilmiah yang termotivasi dari riset terhadap ayat qauliyah (Al-Quran dan Hadis), kemudian dari riset tersebut terbukalah rahasia dan hikmah yang terkandung di dalamnya atau bisa disebut ayat kauniyah, ayat yang dapat menjadi renungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala. Maka, sudah semestinya hal semacam ini tidak luput menjadi perhatian umat Islam untuk menjadikannya inspirasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan ke arah lebih luas dengan tetap berpijak pada ayat qauliyah dan metode ilmiah.
Sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh madrasah penganulir baru, mereka sejatinya telah mengetahui berbagai hasil penelitian ilmiah mengenai puasa, namun mereka merasa khawatir jika hasil penelitian empiris tersebut dapat meruntuhkan klaim kemaslahatan mereka, maka mereka seolah menutup mata dan tidak peduli dengan hal demikian. Sikap mereka inilah yang kemudian oleh Rasulullah Shallahu A’laihi Wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim digambarkan sebagai orang yang sombong dikarenakan meremehkan dan menolak kebenaran.
Tipologi Madrasah Penganulir Baru
Sebagaimana disinggung di atas oleh Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengenai manhaj madrasah penganulir baru yang lebih mengutamakan kemaslahatan di atas segalanya, secara tidak langsung mereka telah menolak teks-teks klasik partikular (turats) hingga nash agama sekalipun. Tidak bisa dipungkiri, tuduhan mereka tidak hanya sebatas menyasar syariat puasa, lebih lanjut menurut beliau, di antara mereka ada yang melawan syariat Islam yang lain, seperti salat, zakat, dan haji.
Kaum penganulir baru tidak akan berhenti menyerang Islam dari dalam, mereka memaksakan Islam agar berkiblat kepada barat, sebagaimana anggapan mereka bahwa peradaban barat menjadi maju digdaya dikarenakan prinsip kebebasan yang mereka pegang. Maka secara sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan mereka melontarkan tuduhan terhadap syariat Islam adalah ingin merealisasikan kehidupan yang bebas, terlebih bebas dari doktrin-doktrin agama yang mengekang kemajuan. Naudzubillah min dzalik…
Oleh : Sophian Amri

Leave a Reply