Senja di Bawabat
Sore itu di tengah senja yang temaram, adzan Maghrib berkumandang. Mata itu masih saja terpaku pada sebuah siluet jingga kemerahan di ufuk barat. Bibirnya melantunkan dzikir petang yang ia lupakan pada pukul lima sore tadi.
Namanya Zahra. Anak berusia 18 tahun yang pertama kali merantau jauh dari keluarganya, hari itu genap lima hari ia berada di tanah rantau Mesir ini. Ia dan sejuta pertanyaan berkecamuk di kepala, ia dengan gulatan tanda tanya, ia dan semua jawab yang tak berkesudahan. “Ini Mesir?, Aku beneran sampai Mesir?, Kenapa aku memilih Mesir?, Aku ga bohong kan pada semesta kalau aku pengen ke Mesir?, Aku ngapain kesini?, Ke Mesir apa yang aku cari?, Validasi manusia lain?, Atau biar keliatan keren?, Atau karena apa?, Ngapain aku bisa sampai sini?” Ujar dia dengan beribu ribu kebimbangan. Padahal lima hari lalu, Jogja melepasnya dengan penuh senyum bahagia. Ia tak sedikitpun ragu, bahkan ia mampu meyakinkan semua orang terdekatnya. Bahkan ia memiliki list impian dan goals kedepannya. Kemana semua itu? Ucap bibir mungil itu tatkala melihat para mahasiswa se-etnis di negara ini.
“Astaghfirullahal’adzim… salat Maghrib Zahraaaaa…..” ucap dirinya sendiri mengingat senja perlahan mulai menghilang. Segera ia mengambil air wudhu kemudian melaksanakan salat dan dilanjut dengan mengaji. Kembali lagi ia termenung tatkala memegang mushaf. “Berapa lama ya aku udah ga ngaji? Sibuk ini itu banyak banget.” Segera ia melanjutkan mengaji satu lembar, dua lembar, tiga lembar, empat lembar, dan seterusnya. Ternyata se-nikmat itu melantunkan ayat-ayat cintaNya. Kemana saja diri ini? Hampir satu tahun jauh dariNya kemana saja? Ia menangis sejadi jadinya menyesali dirinya yang sudah sangat jauh asik dengan duniawi. Ia sibuk mencari sana sini kebahagiaan dirinya, upload sana sini di media sosial, makan trend, outfit trend, konten trend, hingga ia lupa kemana harusnya ia pulang. Selama hampir satu tahun menunggu kepastian izin tinggal di negara ini, Zahra merasa bosan di sebuah kota estetik bernamakan ‘Jogja’. Ia melakukan hal yang membuat dirinya bahagia untuk menutupi semua rasa iri yang ada karena kawan-kawannya sudah selesai semester pertama dunia perkuliahan.
“Aku belum kuliah sementara mereka sudah ujian” “Aku nganggur sementara mereka aktif organisasi, kuliah, dan kegiatan lainnya.” “Aku kayak gatau harus ngapain.” “Aku cape les, cape belajar nahwu sharaf terus bosen.” Ucap Zahra tatkala ia kalah dengan pikirannya. Sejujurnya Zahra adalah orang yang mudah goyah jika tidak dipegangi penguat. Ia mudah bosan dengan hal yang kurang menarik bagi dirinya, ia masih sangat labil. Namun, ia langsung tersadar tatkala membaca sebuah buku karya Alvi Syahrin yang menjawab semua kegelisahannya, “Kuliahmu untuk apa?”. Dan akhirnya ia berangkat dengan penuh jawaban yang sangat meyakinkan dirinya.
Hingga Mesir membawa ia larut dalam pemikirannya. “Apa yang aku cari?” “Kenapa aku bisa sampai sini?” “Aku bakal jadi apa di sini?” “Kalau aku diam begini aku tak menemukan jawaban!”. Ia memutuskan untuk berkelana sembari mencari jawaban. Tepat satu minggu Zahra menapaki kaki di Negara Mesir ini, ia semakin terombang-ambing dengan jawabannya. Ia melihat banyak mahasiswa se-etnis dengannya yang menunjukkan arah berlawanan dari ekspetasi tentang mahasiswa Al-Azhar.
“Mbak, kemarin saya menjumpai masisir yang berbanding terbalik dari ekspektasi saya,” ujar Zahra pada kakak kelasnya dari masa sekolah dahulu.
“Emang ekspektasimu apa?” tanya kakak itu.
“Ya, seperti pandangan orang-orang Indonesia tentang para masisir. Banyak dong ekspektasi mereka tentang masisir, dan yang pastinya ke arah positif. Mereka pasti diusung-usung sebagai ulama, gausah tinggi-tinggi deh. Setara ustadz-ustadzah aja. Mereka akan dimintai fatwa hukum atau yang sederhana saja, mengajari mereka mengaji atau mengkaji isu-isu dalam Islam atau seputar dengan itu. Mereka pasti dinilai sebagai orang yang berilmu tinggi dan ahli agama. Mereka juga dinilai sebagai orang alim yang memiliki amat sangat banyak pengetahuan dan mereka sudah dapat dipastikan mengimplementasikan semuanya dalam kehidupan mereka. Sederhananya, mereka dinilai perfect dalam apapun, terutama seputar dunia Islam,” ujar Zahra.
“Lalu kenyataannya?” tanya kakak itu.
“Yahhh, seperti yang mbak lihat sendiri saja fakta di lapangan seperti apa, walaupun tidak semua seperti itu. Kemarin saya juga denger dari seorang ustadz lulusan Azhar menjawab pertanyaan saya, katanya ‘Tidak semua masisir itu Azhari’. Begitu mbak ucapnya. Ini bikin saya kepo banget, kenapa? Kenapa sampai ustadz ngomong seperti ini? Saya pengen cari jawabannya. Setelah saya terjun langsung mencari jawaban itu, belum cukup jauh saya berjalan, saya langsung putar arah dengan kalimat “Cukup tau.”
“Semua itu kembali pada diri masing-masing, Zahra. Makanya, awal sampai sini langsung culture shock. Ya, selamat datang di dunia masisir, banyak banget hal yang bercahaya dan banyak juga yang cukup gelap. Intinya, pintar-pintarlah mencari lingkungan ya. Tidak hanya di Mesir, tapi dimanapun itu. Kalau udah merasa jauh, balik kesini aku pegangin kamu jangan sampai cahaya yang kamu bawa saat ini meredup, apalagi mati,” ujar kakak itu, membuat Zahra sedikit membeku.
“Iya, mba. Saya takut terjun terlalu dalam. Saya takut cahaya saya meredup. Saya takut tidak bisa menjaga diri saya sendiri,” ujar Zahra dengan segala ketakutannya.
“Gapapa, ini kamu baru mendapatkannya secara teori dan belum dipraktikkan. Nanti, seiring berjalannya waktu, kamu akan belajar harus bagaimana dan seperti apa. Memang, gelar masisir bukanlah azhari, tapi menjadi masisir saja adalah gelar yang sebenarnya sangat berat. Banyak ekspektasi yang dijunjung tinggi dan banyak tanggung jawab yang sangat berat untuk ditepati. Jadi, carilah tangan yang mampu menggenggammu agar tidak jatuh. Cari charger yang siap mengisi ulang daya cahayamu saat meredup,” lagi-lagi ujar kakak itu.
“Iya, mba. Semoga saya mampu menjaga cahaya ini.”
Zahra tidak kehilangan tujuan awalnya. Dia tidak ragu dengan langkahnya yang telah menapaki Mesir. Dia tidak kehilangan arah. Dia hanya terkejut melihat semua fakta di lapangan dunia masisir. Ibarat sebuah cahaya yang menerangi dan sebuah kegelapan yang melukai, keduanya berlawanan secara makna namun hampir tidak ada dinding pemisah dari segi pengamalannya. Zahra sadar, semua pertanyaannya sudah ditemukan jawabannya. Hanya saja, dia sempat terkecoh dengan pilihan ganda terakhirnya, yang cukup membuatnya ragu dengan jawaban yang seharusnya benar.
Hari itu genap dua minggu dia berada di tanah Mesir. Senja di Bawabat tidak pernah gagal membuatnya jatuh cinta kepada Tuhan. “Aku tak butuh jawaban. Jawaban itu ada dalam diriku sendiri yang sudah kutemukan sejak awal pertama aku ingin menapakkan kaki di negara ini. Aku hanya tergoyahkan dengan semua ekspektasiku. Padahal, siap ber-ekspektasi berarti siap dijatuhkan. Rupanya, aku belum siap dijatuhkan oleh fakta. Aku sadar, dunia masisir ibarat sebuah cahaya dan kegelapan. Tergantung pada tangan yang meraih sebuah cahaya atau terperosok pada sebuah kegelapan yang tak berujung. Ya Rabb, bantu aku menjaga cahaya ini, aamiin…”
Terima kasih, Bawabat, kala senja. Aku sudah menemukan jawabannya.
Oleh : Laila Tazkiya

Leave a Reply