Wasathiyyah Dalam Pemikiran Islam
Wasathiyyah Dalam Pemikiran Islam
Banyak diantara kita yang pernah membaca atau bahkan sudah lumrah mendengar kata Moderasi atau Wasathiyyah, namun banyak diantara saya maupun anda dan kita semua yang tidak tau esensi makna dari kata Moderasi/Wasathiyyah itu sendiri. Di tulisan kali ini saya ingin memaparkan terkait apa itu wasathiyyah dalam aspek pemikiran. Wasathiyah memiliki sejumlah arti. Wasthiyah sendiri berasal dari akar kata ‘wassatha’ yang artinya sesuatu yang berada di antara dua sisi. Kata wasatiyah juga berarti sesuatu yang ada di tengah atau sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang sebanding. Menurut pendapat lain, wasathiyah mempunyai arti tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang). Menurut para ahli bahasa Arab, kata ‘wassatha’ memiliki pengertian ‘segala sesuatu yang baik itu sesuai dengan objeknya’. Sebagai contoh, kata dermawan adalah salah satu sikap yang berada di tengah-tengah, antara kikir dan boros.
Mengutip perkataan Grand Syaikh Al-azhar dalam Majlis Hukama; Syaikh Ahmad At-Tayyep mengatakan bahwa moderasi adalah ciri Islam yang paling spesifik. Oleh karena itu, Islam disebut: “agama moderat,” sebagaimana umat Islam disebut sebagai ummat pertengahan, coba baca Al-Baqarah, Juz 2, ayat 143, halaman 22 dalam rasm usmani. Siapapun yang merenungkan ayat itu, maka akan jelas baginya posisi umat Islam, dan tanggung jawabnya dalam mengambil sikap maupun dalam memimpin ummat.
Semakin dewasa, saya banyak membaca sebagian pemikiran Barat yang condong kepada hal-hal yang bersifat material (Kaum Materialistik). Sampai-sampai mereka mengabaikan peranan hati (iman), padahal manusia diciptakan dengan akal plus. Disisi lain, sejak dahulu hingga kini, ada juga pemikir yang perhatiannya pada sisi spritual-kerohanian sedemikian besar sampai-sampai mengabaikan peranan akal. Disini Islam datang dengan washatiyah-nya. Islam menekankan pentingnya menggunakan daya akal (berpikir logis dan sistematis).
Berpikir adalah upaya yang muncul dari dalam dan terjadi secara otomatis, karena itu manusia tidak dapat mengelak bila proses itu berlangsung paling hanya berupaya mengalihkannya, itupun kalau iya berhasil. Kalau ia berusaha mengelak, bahkan kalau ia gagal mengalihkan, karena tidak akan merasakan kedamaian. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar manusia berpikir tentang alam raya dan fenomenanya, coba baca Surah Al-an’am ayat 76-79, Juz 7, halaman 137.
Bagaimana Ibrahim as menemukan Tuhan dengan mencermati/mengkaji fenomena alam. Manusia diberikan kebebasan penuh untuk berpikir dalam objek-objek tersebut. Tetapi, ada sekian banyak wujud yang tidak terjangkau oleh indra bahkan pikiran manusia. Dari sini islam memerintahkan untuk menggunakan daya ruh guna menyadari wujud-Nya.
Ketika islam memerintahkan untuk memandang wujud yang nyata dengan menggunakan akal secara jernih yang terlepas dari pengaruh negatif, maka itu dimaksudkan agar manusia sadar bahwa dibalik wujud yang nyata itu masih ada wujud yang lain yang tidak/belum terjangkau oleh nalar manusia. Di sini harus diingat oleh yang menggunakan akal/pikirannya bahwa membatasi diri hanya pada satu sisi tidak akan memadai bahkan dapat menjerumuskan. Dari sini wasathiyyah menggabung penggunaan kedua potensi itu, masing-masing sesuai dengan bidang dan wilayahnya tanpa mengabaikan salah satunya.
Di samping fenomena yang disebut di atas, kalangan umat Islam dikenal dua pola pemikiran yang cukup populer. Pertama yang menetapkan bahwa hasil pemikiran masa lalu harus tetap dipertahankan secara utuh sehingga mereka enggan menerima sesuatu hal yang baru. Kedua menghidangkan aneka pendapat baru yang mereka anggap sesuai dengan perkembangan masyarakat, hanya saja mereka seringkali mengabaikan kaidah-kaidah umum bahkan tidak jarang menggunakan metode pemahaman yang tidak dapat diterapkan dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya menerapkan tanpa melalui metode seleksi hermeneutika dalam memahami Al-Qur’an, termasuk menerapkan anjuran untuk meragukan kitab suci umat Islam itu sendiri. Nah, di sini penganut wasathiyyah menempatkan diri antara dua pola pemikiran itu, penganut wasathiyyah tidak menerima semua pemikiran masa kini yang seringkali dihidangkan oleh penganut islam liberal. Tetapi, pada saat yang sama, menerima hal-hal yang baru Yang belum dicetuskan atau diamalkan oleh generasi masa lampau.
Paham wasathiyyah menekankan bahwa prinsip dasarnya adalah mempertahankan pendapat masa lampau yang masih relevan dan menerima bahkan memilih yang baru yang lebih baik selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, para penganut wasathiyyah terikat dengan masa lalu dalam prinsip dasar dan berhubungan dengan masa kini dan masa yang akan datang. Wallahu ‘alam
Penulis: Ikhwan Ibnu Muslim

Leave a Reply