Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Genealogi Muhammad Abduh; Abduh dan Pengasingan (5)

Pengasingan acapkali menjadi cerita hidup yang menghiasi biografi tokoh-tokoh besar dan revolusioner, termasuk di dalamnya Muhammad Abduh. Pengaruh, karisma, dan ketokohan para sosok besar berusaha dipadamkan dengan isolasi geografis. Pada suatu kondisi, pengasingan sering menjadi titik balik dalam pengembaraan politik dan  intelektual seseorang. Hal ini pula yang terjadi kepada Muhammad Abduh. Perjalanannya ke berbagai negara selama pengasingannya dari Mesir membuat namanya melambung sebagai salah satu ulama dan pemikir besar di dunia Islam. Selain itu, selama masa pengasingan ini  lahir banyak karyanya yang terus dibaca dan dipelajari hingga hari ini.

Abduh dan turbulensi politik Mesir

Mesir pada tahun 1870-an adalah negara yang kosmopolit. Tampuk otoritas pemerintahan didominasi oleh para pejabat dari lingkungan Utsmani yang berbahasa Turki. Pejabat-pejabat di berbagai sektor adalah para sosok yang berasal dari latar belakang ras yang berbeda. Orang Yahudi dan kaum Kristen Suriah sanggup memiliki posisi yang penting dalam dunia pers kala itu. Guru Muhammad Abduh sekaligus inspirator nasionalisme bangsa Mesir, Jamaluddin al-Afghani, bukanlah orang asli Mesir melainkan berasal dari negeri Persia atau Iran saat ini.

Jamaluddin al-Afghani dan kelompoknya memiliki andil yang begitu besar dalam perpolitikan Mesir. Lingkaran pengaruh Afghani di berbagai koran dan surat kabar di Mesir membuat para pemuda Mesir akrab dengan ide nasionalisme. Contoh surat kabar yang menjadi corong ide-ide Afghani adalah al-Tijara ­dan Mirqat al-Sharq. Dua surat kabar inilah yang banyak memuat tulisan dari murid-murid Afghani seperti Muhammad Abduh dan menggelorakan jargon terkenal “ Misr lil Misriyyin”.

Pada tahun 1879, Afghani ditangkap dan diasingkan ke India setelah pidatonya di Masjid Sultan Hassan yang menentang pemerintahan Khedive Taufiq. Penangkapan Afgani ini berefek domino pada penutupan beberapa surat kabar yang berafiliasi dengan kelompoknya seperti al-Tijara dan Misr al-Fatat serta menyebabkan diasingkannya Muhammad Abduh dari Kairo pada bulan September 1879. Abduh diasingkan di kampung halamannya sendiri sebagai eksil internal hingga satu tahun.

Satu tahun kemudian tepatnya pada Bulan September tahun 1880, Abduh mendapat pengampunan dari Khedive Taufiq berkat usaha dari Riyadh Pasya, Perdana Menteri Mesir di tahun tersebut. Abduh lalu kembali ke Kairo dan ditunjuk menjadi pimpinan di surat kabar resmi milik pemerintah, waqa’i al-Misriyyah. Lalu pada tanggal 28 Maret 1881 Muhammad Abduh juga didapuk sebagai anggota di Majlis al-A’la li al-Maarif al-Umumiyyah. Pada masa ini kehidupan Abduh banyak disibukkan dengan kegiatan di media dan politik dibandingkan dengan mengajar di sekolah maupun universitas.

Revolusi Urabi dan awal pengasingan

Seorang perwira sekaligus tokoh militer asli Mesir, Ahmad Urabi, melancarkan kudeta kepada Khedive Taufiq dan kolonial Inggris hingga berhasil merebut puncak kekuasaan pada Januari 1882. Meskipun berbeda pandangan, kelompok Urabi mendapat dukungan dari murid-murid Afghani tak terkecuali Muhammad Abduh. Abduh pada awalnya tidak mendukung gerakan Revolusi Urabi, namun akhirnya ia berubah sikap setelah melihat usaha pengembalian autokrasi oleh Khedive Taufiq. Abduh lantas menulis banyak narasi dukungan pada Revolusi Urabi di surat kabar yang ia pimpin

Kepemimpinan Urabi berhasil digulingkan kembali oleh kolonial Inggris dan Khedive Taufiq pada bulan September tahun 1882. Muhammad Abduh ikut terkena getah dari kegagalan revolusi ini. Setelah mendekam dibalik jeruji besi selama tiga bulan, sang ulama pembaharu tersebut dijatuhi hukuman pengasingan dari Mesir selama tiga tahun terhitung dari tanggal 24 Desember 1882.

Abduh memilih negeri Syam, tepatnya Suriah dan Lebanon sebagai destinasinya. Ia lebih dulu pergi ke kota Damaskus untuk menemui anak dari Amir abdul Qadir. Amir Abdul Qadir sendiri dikenal sebagai tokoh perlawanan bangsa al-Jaza’ir terhadap kolonialisme Prancis. Baru pada tahun 1883, Abduh bertolak ke Beirut dan bergabung ke sesama eksil asal Mesir di kota itu. Selama tinggal di Lebanon ia menumpang di rumah karibnya yaitu Muhyiddin Bey al-Hamuda, disini pula ia kembali bisa berhubungan dengan jaringan Afghani yang juga sedang diasingkan dari negeri piramida seperti Ibrahim al-Laqqani dan Abu Turab.

Sementara itu sang guru yaitu Jamaluddin al-Afghani Tengah berada di negara Prancis. Lewat korespondensi dengan gurunya ini Abduh mendapat ajakan untuk menyusulnya ke negara eropa itu. Tidak butuh waktu lama, pada akhir tahun 1883 Abduh berangkat memenuhi ajakan sang guru. Beliau tiba di Paris pada tahun 1884 lalu bergabung bersama para eksil asal Mesir dan Utsmani. Paris pada tahun tersebut adalah kota yang sarat akan udara kebebasan serta kaya dengan budaya dan seni. Tidak hanya Abduh, para murid Afghani yang tercerai berai akibat diasingkan kini menyatu kembali di kota Paris.

Jamaluddin al-Afghani mengorganisir kembali kelompoknya dengan membentuk sebuah perkumpulan bernama al-Urwatu al-Wustqa. Perkumpulan ini menerbitkan majalah dengan nama yang sama. Majalah al-Urwatu al-Wustqa menerbitkan edisi pertamanya pada tanggal 13 maret 1884 M / 15 Jumadil Ula 1301 H. Afghani dan Muhammad Abduh menulis dan mengatur penerbitan majalah ini di sebuah rumah kecil yang dekat dengan daerah Place de la Madeleine.

Majalah al-Urwatu al-Wustqa hanya menerbitkan hingga delapan belas edisi. Edisi terakhir dari majalah ini terbit pada tanggal 17 Oktober 1884 M/ 26 Dzulhijjah 1301 H. Jabatan Muhammad Abduh di struktural redaksi adalah sebagai ketua editor (al-Muharrir al-awwal/ Ra’is at-Tahrir). Sumber aliran dana untuk menghidupi al-Urwah al-Wustqa terbatas hanya kepada kelompok dan simpatisan Afghani yang berada di Paris pada waktu itu, termasuk diantaranya adalah seorang politikus sekaligus sastrawan yang menjadi teman baik Muhammad Abduh yaitu Wilfrid Blunt.

Sementara dalam komunitas al-Urwah al-Wustqa, Abduh menjadi wakil ketua sebagai pendamping dari sang guru yang menjadi ketua perkumpulan itu. Majalah mereka banyak disebarkan ke berbagai daerah kekuasaan Utsmani serta kolonial Inggris. Namun majalah ini tidak berhasil menembus daerah kolonial Inggris seperti Mesir dan India imbas dari pembatasan yang ketat karena narasi anti-kolonialisme yang gencar di majalah itu. Di Paris jugalah Muhammad Abduh banyak bertemu dan berdiskusi dengan para penganut ajaran Teosofi yang mayoritas adalah pengikut dari Helena Blavatsky, sang penggagas Teosofi.

Inggris dan perjalanan-perjalanan rahasia Abduh

Bulan Juli 1884, Muhammad Abduh tiba di London atas bantuan dari Wilfrid Blunt. Di kota tersebut Blunt mengajak Muhammad Abduh untuk menemaninya dalam lobi politik di Dewan Rakyat Britania (House of Commons). Selama hidup di London, Abduh menginap di rumah Wilfrid Blunt. Pada sebuah makan malam di kediaman Blunt, mereka berdiskusi dengan Mirza Muhammad Baqir, seorang intelektual Persia, tentang status al-Qur’an sebagai sebuah buku atau kompilasi wahyu.

Muhammad Abduh juga banyak menemui para politikus Britania yang tersohor pada masa itu seperti Lord Randolph Churcill dan William Gladstone (ayah dari Winston Churcill). Dalam kunjungan ke Dewan Rakyat Britania, Muhammad Abduh berfoto dengan jubah dan topi fez yang dilapisi oleh sorban. Foto di Gedung Dewan Rakyat Britania inilah yang nantinya menjadi foto Abduh yang paling terkenal. Tujuan Abduh dalam lobi politik tidak berbuah banyak, namun kunjungan ini menambah pengalamannya dalam dunia politik terutama setelah ia kembali ke Mesir.

Sebenarnya, sebelum sang mujadid datang ke Britania ia telah terlebih dahulu melakukan banyak perjalanan rahasia ke negara-negara lain di eropa dan Arab. Rasyid Ridha menyebutkan bahwa Muhammad Abduh sempat kembali ke Mesir bersamaan saat revolusi Mahdi meletus di Sudan (1884). Setelah ia kembali ke Paris pasca kunjungannya ke London, Abduh melakukan perjalanan ke Tunisia lalu ke Beirut di Lebanon.

Tahun 1885 Muhammad Abduh menetap di Beirut. Kota Beirut menjadi kota penting sebab disinilah Muhammad Abduh banyak menorehkan sejarah baru dalam karir intelektualnya. Sebelum menginjakkan kaki di Beirut, Abduh sudah berhenti berkorespondensi dengan Jamaluddin al-Afghani. Surat terakhir yang dikirim Abduh adalah surat yang ia buat sewaktu masih mengunjungi Tunisia. Berakhirnya komunikasi ini juga menandai berubahnya arah mata angin dalam aktivisme politik Abduh.

Dari Beirut hingga Mesir

Hubungan Afghani dan Abduh telah retak. Banyak pihak menyebutkan bahwa kerenggangan hubungan ini dikarenakan sikap politik Abduh yang mulai melunak terhadap kolonial Inggris dan pemerintahan Khedive, namun sebab pasti dari rusaknya relasi diantara dua tokoh ini belum diketahui dengan jelas. Dalam kondisi hubungan yang buruk dengan gurunya ia kembali ke Beirut. Abduh lalu menikah lagi dengan keponakan dari sahabatnya , Muhyi al-Din Bey Humada.

Abduh lalu mendapat pekerjaan untuk mengajar di sekolah Sultaniyya. Ia mengajarkan sejarah lewat karya Ibnu Khaldun dan Francis Guizot. Ia juga mengajarkan akidah Islam yang kemudian materi yang ia ajarkan dikumpulkan dan ditulis menjadi buku berjudul Risalah al-Tauhid. Melihat kondisi Beirut yang sangat heterogen Abduh lantas mendirikan sebuah komunitas untuk mempererat persaudaraan antar pemeluk tiga agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Abduh lalu melakukan tahkik (edit) terhadap kitab Nahj al-Balaghah, sebuah kitab yang sering dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib ra.

Muhammad Abduh juga sering melaksanakan pengajian selama tiga hari seminggu di Masjid al-Umari. Pada momen inilah Abduh mulai menggunakan metode tafsirnya yang modern dan lebih mengedepankan rasio. Konon, pengajian tafsir ini begitu ramai hingga banyak orang Kristen dan pemeluk agama lain yang ikut menyimak dan mendengarkan. Pada masa menetap di Beirut ini pula Muhammad Abduh banyak sekali menulis sehingga berhasil menelurkan berbagai karya seperti Risalah Tauhid, La’ikhatu islah al-Qatr as-Suri, La’ikhatu Islah al-Ta’lim al-Utsmani dan lain sebagainya.

Diceritakan bahwa sang mujaddid tersebut mengalami rindu rumah dan ingin kembali ke Mesir. Atas usaha pengampunan yang diusahakan oleh salah satu murid Muhammad Abduh, Sa’ad Zaghloul, kepada penguasa Mesir saat itu akhirnya izin  diberikan. Abduh kembali ke negeri Mesir pada tahun 1889 M / 1306 H. Perjalanan panjang ke eropa dan berbagai negara Arab selama masa pengasingannya tidak hanya membuat dirinya menjadi dikenal, namun pemikirannya juga mulai mengakar dan menginspirasi. Bahkan karya-karya yang ia tuliskan selama pengasingan banyak dibaca oleh para intelektual Muslim di berbagai penjuru negara Islam.

Pengasingan selama enam tahun lamanya justru membuat Muhammad Abduh semakin bisa mengembangkan metologi pemikirannya. Pandangan politik Abduh juga perlahan-lahan berubah hingga akhirnya bisa menjadi lunak setelah sebelumnya masih satu suara dengan sang guru, Jamaluddin al-Afghani. Kehidupan pengasingan selamanya akan menjadi episode kehidupan Muhammad Abduh yang paling menarik untuk dikaji, diteliti, dan ditadaburi.

Oleh : Anhar Azzumta (Anggota Abduh Studies)

 

 

 

 

 

 

Exit mobile version