Site icon PCI Muhammadiyah Mesir

Geneologi Muhammad Abduh (4); Revolusi Urabi dan Aktivisme Abduh

 

Pemberontakan Urabi atau yang dikenal dengan Revolusi Urabi adalah aksi pemberontakan nasionalis di Khedive (Daerah Otonom) Mesir dari tahun 1879 hingga 1882. Kolonel Ahmed Urabi  yang memimpin pemberontakan ini berusaha menekan Khedive saat itu, Tawfiq Pasha. Ia dan kelompoknya ingin mengakhiri pengaruh imperealis Inggris dan Prancis di Negara Mesir. Di beberapa literatur, pemberontakan itu diakhiri oleh Perang Anglo-Mesir dan pengambilalihan Negara Mesir oleh Kolonial Inggris. Pemberontakan Urabi adalah salat satu bagian penting dalam perjalanan intelektual dan perjuangan Muhammad Abduh. Akibat pemberontakan ini, ia diasingkan ke Prancis selama beberapa tahun. Beberapa literatur yang menyebutkan keterkaitan Abduh dalam peristiwa ini; apakah ia benar-benar terlibat mendukung Kolonel Urabi dan gerakannya ataukah sebatas dakwaan tanpa ada satu pun bukti? Jika memang terlibat, sejauh apa keterlibatan Abduh dalam peristiwa tersebut?

 

Pemberontakan Urabi; Benih Nasionalisme Bangsa Mesir

Setelah menggantikan Ismail Pasha, kolonial Inggris mengangkat Tawfiq Pasha, putra Ismail sebagai Khedive baru pada tahun 1879. Pegawai Negeri Sipil, tentara, dan beberapa peran dalam sektor perekonimian Mesir didominasi oleh orang Eropa. Penduduk asli Mesir hanya mendapatkan kesempatan di sektor yang tidak lebih tinggi dari orang Eropa dengan gaji yang lebih rendah. Konon, sistem hukum paralel untuk menggugat orang Eropa ditetapkan secara terpisah dari penduduk asli Mesir. Hal ini sedikit banyak membuat geram  penduduk Mesir yang berpendidikan tinggi dan yang memiliki posisi mumpuni di bidang militer. Mereka merasa keterlibatan dan ketidakadilan sistem hukum yang didominasi Eropa menghalangi kemajuan mereka. Para petani Mesir yang dikenakan pajak tinggi juga merasa jengkel karena pajak mereka jatuh ke tangan orang Eropa yang hidup berkecukupan.

Selama masa ini, Ahmed Urabi, seorang perwira militer asli Mesir naik pangkat menjadi kolonel. Karena lahir dari didikan rahim rakyat Mesir, ia dipandang oleh banyak orang sebagai suara otentik rakyat Mesir sendiri. Bagi mereka, ia mewakili populasi petani yang marah dengan orang asing yang bebas pajak dan tuan tanah lokal yang kaya. Urabi mendapat rasa hormat dan dukungan tidak hanya dari kaum petani dan warga desa, tetapi juga sebagian besar tentara Mesir.

Urabi memimpin konfrontasi pertama antara perwira militer Mesir dan pemerintah pada bulan Januari 1881, ketika ia dan rekan-rekannya menuntut pemecatan menteri perang Sirkasia karena menghalangi promosi jabatan para perwira Mesir. Urabi dan tentara lainnya ditangkap tetapi diselamatkan oleh batalion mereka sendiri yang memaksa Perdana Menteri Riyad Pasha dan Khedive Tawfiq untuk mengampuni mereka. Penangkapan, penyelamatan, kemdudian pembebasan yang berulang kali menjadi awal gerak politik Urabi dan perwira militer lainnya.

Demonstrasi militer di Istana Abdin pada bulan September 1881 memaksa Tawfiq untuk membubarkan pemerintahan Riyad Pasha, Sang Perdana Menteri, dan menjanjikan pemilihan perdana menteri dan meningkatkan jumlah tentara Mesir. Perdana menteri terpilih pada bulan Desember 1881 dibentuk berdasarkan undang-undang tahun 1866. Undang-undang tersebut masih menjamin dominasi pemilik tanah dan pedagang yang kaya raya. Demikian pula parlemen baru, pada awalnya, mereka tidak menyerukan perluasan kekuasaannyadan  dengan tegas menolak rezim kontrol ganda Inggris dan Perancis. Desakan kedua negara dalam mempertahankan rezim kendali ganda menggambarkan betapa kekuasaan Khedive semakin bergantung pada dukungan Eropa.

Meskipun intervensi Inggris mulanya direncanakan untuk jangka pendek, tapi intervensi ini tetap berlangsung hingga tahun 1956. Mesir secara efektif dijadikan koloni hingga tahun 1952.[1] Pasca tertangkap karena berbagai demonstrasi, Inggris maupun pemerintah Khedive Tawfiq melakukan segala macam cara untuk mendiskreditkan nama Urabi dan gerakannya. Pemerintah menggunakan media massa dan sistem pendidikan untuk mengecamnya sebagai pengkhianat, dan revolusi hanya sebagai pemberontakan militer.

Para sejarawan memandang peristiwa tersebut sebagai thawrah atau revolusi. Namun, di kasus yang berbeda, sejarawan lain mempertahankan posisi Urabi sebagai pahlawan kebebasan dan konstitusionalisme. Di kalangan rakyat Mesir, Urabi tetap menjadi sosok yang populer dengan semangat nasionalismenya.

 

Muhammad Abduh; Hubungan dengan Kelompok Urabi

Salah satu konfrontasi Urabi dan para pendukungnya adalah bermaksud mengajukan petisi untuk penggantian menteri perang dengan mengajukan calon dari mereka sendiri; rakyat Mesir.  Pada awal tahun 1882, Urabi berhasil menduduki jabatan menteri perang. Pada tahun ini, nampaknya kelompok Urabi berhasil menduduki jabatan penting pemerintahan. Namun, di saat yang sama, Urabi dirasa telah memainkan perannya secara berlebihan. Inggris dan Perancis, khawatir kelompok Urabi mengancam kepentingan mereka.

Posisi Abduh yang saat itu sedang menjabat sebagai editor Al-Waqa’i al-Mishriyah awalnya tidak pernah sama sekali sejalan dengan  apa yang diinginkan Urabi. Hal itu karena ia secara pribadi tidak mempercayai sosok Ahmed Urabi, ditambah sebagian kelompok Urabi memusuhi kelompok Afghan. Namun, ketika Riyadh Pasha digantikan oleh Sharif Pasha, Abduh kecewa karena pengangkatan sosok Sharif Pasha disinyalir dapat mengembalikan pemerintahan  yang otokrasi berkuasa kembali.

Mengetahui hal itu, Abduh beralih mendukung gerakan Urabi karena ia memandang kelompok Urabi sebagai kelompok yang mengupayakan perjuangan atas kebebasan rakyat Mesir sebagaimana apa yang ia cita-citakan. Sebelum menampakkan sikap dan dukungannya, Abduh menulis beberapa artikel mengenai kehidupan berpolitik yang terbit sekitar bulan November 1881. Ia menenekankan semangat  al-Hurriya (Kebebasan) dan al-Huquq as-Siyasiyah (Hak Politik setiap warga) tidak boleh padam.[2] Kemudian dari dua gagasan ini, ia mengajukan skema evolusi kesadaran sosial dan politik manusia dalam tiga fase, yaitu al-Wujud at-Thabi’i (Fitrah Alamiah dan Hak Manusia), al-Ijtima’i (Sosial Kemasyrakatan), hingga akhirnya dapat membentuk sebuah al-Madani (Peradaban). Bagi Abduh, tantangan yang sedang dihadapi Mesir saat itu adalah pada  transisi fase kedua ke fase ketiga. Jika transisi itu berhasil, maka damoaknya adalah kematangan politik masyarakat Mesir secara menyeluruh. Namun, menurut Abduh Mesir belum siap sampai di fase itu karena membutuhkan seorang penguasa atau pemimpin yang arif dan bijaksana.

Dalam salah satu artikel terakhirnya yang terbit bulan April 1882, Abduh berusaha netral dan tetap menghormati Khedive Tawfiq. Ia menekankan perlunya al-Ittihad (persatuan). Sadar akan semakin besarnya keretakan antara Urabi dan para pendukungnya di pemerintahan dan Khedive Tawfiq, Abduh menghimbau semua pihak yang terlibat untuk bertindak sebagai masyarakat yang bersatu dan mempertahankan keamanan negara. Meskipun hal ini dapat diartikan sebagai seruan kepada semua pihak yang terlibat untuk mengurangi tindakan mereka dan menghindari konfrontasi lebih lanjut, Abduh secara khusus menghimbau kepada Khedive Tawfiq untuk mengupayakan kebaikan negara Mesir. [3] Menjalankan perannya sebagai editor jurnal resmi negara al-Waqa’I al-Mishriyyah, Abduh lagi-lagi berusaha memberikan dukungan bagi berbagai pihak yang terlibat; mendukung perubahan politik yang diterapkan oleh Urabi beserta kelompoknya sembari menegaskan otoritas tertinggi Khedive Tawfiq.

Namun tanpa disangka, pada tanggal 25 Mei 1882 Perancis dan Inggris tiba-tiba mengeluarkan ultimatum.[4] Mereka menuntut seluruh pemerintahan untuk mengundurkan diri dan mengirim Urabi ke pengasingan. Khedive Tawfiq tidak mampu melepaskan pengaruh Eropa pada dirinya, sedangkan kelompok Urabi tetap berupaya mencegah pendudukan asing di Mesir. Hal itu semakin memperkuat keberpihakan Abduh dengan kaum revolusioner Urabi. Penentangan kuat Afghani terhadap imperialisme Eropa juga membentuk aktivisme politiknya sendiri.

Kerusuhan yang terjadi antara warga Mesir dan orang asing di Aleksandria pada bulan Juni 1882 memberikan alasan yang cukup bagi angkatan laut Inggris untuk menyerang kota tersebut pada bulan Juli. Bagi Abduh, para pendukung Khedive sengaja menghasut kerusuhan tersebut untuk mengundang intervensi Inggris terhadap Urabi. Bagi Khedive Tawfiq, awalnya ia menyerukan perlawanan terhadap Eropa, tapi intervensi Inggris kali ini ia lihat sebagai kesempatan untuk menegaskan kembali otoritasnya dan menyingkirkan Urabi.

Menyadari fakta demikian, kini Abduh terlibat secara sentral dalam mengorganisir perlawanan terhadap Khedive. Dengan jatuhnya pemerintahan, kelompok Urabi melakukan persiapan perang, dan Tawfiq berpihak pada Inggris, maka dibentuklah Dewan Sementara (Majlis ‘Urfi) yang disebut pula sebagai  Jam’iyya al-Ummumiya di Kairo.[5]  Badan ini dibentuk sebagai badan pertimbangan sikap yang harus dilakukan kelompok Urabi. Abduh bertindak sebagai sekretaris pertemuan bulan Juli. Badan itu mengecam Khedive Tawfiq sebagai pengkhianat dan menyerukan jihad melawan Inggris. Meskipun terdapat deklarasi publik yang mendukung Urabi, banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang memihak Tawfiq atau mundur ke wilayah aman.

Pada tanggal 13 September 1882, pasukan Inggris akhirnya mengalahkan Urabi dan pendukungnya dan memaksannya menyerah. Ia bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Jam’iyya al-Ummumiya , termasuk Abduh, dipenjara dan diadili. Abduh dihukum tiga tahun pengasingan. Saat di penjara, Abduh menulis surat kepada rekannya Sa’d Zaghlul. Suratnya yang ditulis Abduh berisi keperihatinannya atas kegagalan upaya pencegahan Inggris di Mesir Pada saat yang sama, Abduh sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas tindakannya sendiri. Abduh menulis dalam suratnya:

“Apakah saya akan menyesal karena telah melakukan perbuatan baik? Akankah saya menyesal telah melakukan perbuatan mulia? Akankah saya menyesal telah menunjukkan keberanian dalam membela orangorang yang saya sayangi? Apakah saya akan menyesal karena telah memperlihatkan semangat sehingga tidak ada kerugian atau penghinaan yang menimpa orang-orang terdekat saya? Perlukah saya mengakui penderitaan yang harus saya tanggung demi cinta terhadap negara saya? Tidak! Demi Tuhan, itu tidak akan terjadi”[6]

 

Oleh: Lalu Azmil Azizul Muttaqin (Anggota Abduh Studies dan Wakil Ketua GP Ansor Mesir Cabang Sosial)

 

[1] Juan R. I. Cole, Colonialisme and Revolution in the Mieddle East; Social and Cultural Origins of Egypt’s Urabi Movement,(New Jersey: Princeton University Press),  hal 13.

[2] Oliver Scharbrodt, Muhammad Abduh; Modern Islam and the Culture of Ambiuity. hal 87.

[3] Ibid. 89

[4] Oliver Scharbrodt , op. cit., h. 91.

[5] Ibid.

[6] Tahir al-Tanahi, Mudzakkirat Abduh( Kairo: Dar Hilal), h. 172.

Exit mobile version