Balaghah adalah disiplin ilmu bahasa Arab yang berfokus pada studi kerangka kalimat dan gaya bahasa. Sebagai salah satu disiplin ilmu utama dalam tradisi intelektual Islam klasik (baca: turats), tak heran bila balaghah laris di pasaran diskursus teks, terlebih tafsir Al-Qur’an. az-Zamahkhsyari (467-538 H/1074-1143 M) tercatat sebagai pelopor tafsir dengan corak balaghi lewat kitabnya al-Kasysyaf. Lewat al-Kasysyaf, az-Zamahkhsyari berusaha menerapkan teori-teori yang digagas ‘Abdul Qahir al-Jurjani (400-471 H/1009-1078 M), sang bapak balaghah, ke dalam teks Al-Qur’an. Pasca az-Zamahkhsyari, para sarjana Islam berbodong-berbondong menuliskan tafsir bercorak balaghi hingga hari ini. Sehingga, bisa dikatakan corak balaghi di dalam tafsir Al-Qur’an merupakan salah satu corak paling populer secara genealogis.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) menerbitkan tafsir Al-Qur’an yang diberi judul Tafsir at-Tanwir dalam rangka memenuhi amanat Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 2010. Tafsir At-Tanwir ditulis secara kolektif oleh tim khusus yang terdiri dari akademisi dan pakar Muhammadiyah dan diproyeksikan menjadi tafsir utuh 30 juz. Untuk saat ini, Tafsir At-Tanwir yang selesai penyusunannya dan sudah diterbitkan baru mencapai dua jilid dengan masing-masing memuat juz pertama dan juz kedua Al-Qur’an.
Mengutip laman kata pengantar, ada empat etos yang ingin dikembangkan Tafsir at-Tanwir: 1) etos ibadah; 2) etos ekonomi; 3) etos sosial; dan 4) etos keilmuan. Bila melihat keempat etos ini, kita bisa memahami mengapa Tafsir At-Tanwir cenderung modernis dengan memuat perkembangan sains dan ilmu pengetahuan terkini. Dilihat dari struktur kepenulisan dan gaya bahasanya pun, bisa kita terka bahwa sejatinya Tafsir at-Tanwir ditulis dengan menyasar kalangan pembaca umum.
Meskipun modernis dan menyasar kalangan pembaca umum, merupakan hal yang menarik bila mencoba melacak corak balaghi yang ada di dalam Tafsir at-Tanwir. Ada prasangka oleh sebagian pihak bahwa Muhammadiyah ‘jauh’ dari tradisi intelektual Islam klasik, yang kita kenal dengan “turats”. Orang-orang Muhammadiyah dicap sebagai orang-orang yang semangat dakwahnya tinggi namun di satu sisi dianggap ‘kurang ilmu’. Memang benar bila nyatanya Muhammadiyah memiliki lebih sedikit pakar turats bila dibandingkan dengan Nahdhatul Ulama, misalnya, yang sedari awal memiliki latar belakang pembelajaran Islam ala pesantren yang kuat. Namun, memukul rata prasangka itu terhadap semua elemen Muhammadiyah, agaknya kurang tepat dan tak berlandas.
Bila membaca fatwa dan keputusan tarjih Muhammadiyah, akan kita dapati bahwa fatwa dan keputusan itu punya rujukan turats yang mapan, mulai dari fikih, usul fikih, hadis, dan disiplin turats yang lain. Ini mematahkan prasangka yang dituduhkan, bahwa Muhammadiyah ‘jauh’ dari turats. Sehingga, satu-satunya problem bila memang bisa disebut problem adalah bahwa kepakaran turats di lingkungan Muhammadiyah, secara kuantitas, cenderung kurang bila dibandingkan sebagian lembaga dan organisasi keislaman yang lain.
Berdasarkan pengamatan penulis, balaghah termasuk salah satu disiplin turats yang kurang diminati di kalangan Muhammadiyah. Maka, melacak corak balaghi yang secara genealogi tafsir Al-Qur’an cukup populer seperti disebutkan di awal di Tafsir at-Tanwir terbitan PP Muhammadiyah ini menjadi menarik, terlebih dengan posisinya sebagai tafsir yang diperuntukkan untuk pembaca umum. Apakah di Tafsir at-Tanwir ini, balaghah, sebagai ilmu yang kurang diminati, praktiknya luput sama sekali?
Untuk melacak hal itu, penulis mencoba menggunakan Tafsir at-Tanwir jilid pertama sebagai sampel. Seperti di singgung di atas, jilid pertama Tafsir at-Tanwir membahas tafsir ayat juz 1 Al-Qur’an, artinya mulai dari Surat Al-Fatihah hingga ayat ke-141 Surat Al-Baqarah.
Setelah melakukan pembacaan cepat terhadap Tafsir at-Tanwir jilid pertama, penulis mendapati bahwa Tafsir at-Tanwir mencoba mengelompokan tafsir ayat ke dalam tema-tema besar. Bila melihat tafsir Surat Al-Fatihah, misalkan, kita lihat bahwa tafsirnya dibagi menjadi dua tema, pandangan hidup dan jalan hidup. Adapun secara corak, berdasarkan pembacaan penulis, Tafsir at-Tanwir ini tidak bisa digolongkan ke dalam jenis tafsir dengan corak tertentu. Tafsir ini berusaha membaca teks Al-Qur’an dari berbagai sudut pandang, di antaranya: (1) sudut pandang kebahasaan; (2) sudut pandang Al-Qur’an dan hadis (ma’tsur); (3) sudut pandang teologis; (4) sudut pandang fikih; (5) sudut pandang kesejarahan; (6) sudut pandang saintifik; (7) sudut pandang perbandingan agama. Sehingga, Tafsir at-Tanwir masuk ke dalam kategori tafsir mausu’i (ensiklopedis), yang berusaha memuat ragam corak penafsiran.
Corak kebahasaan Tafsir at-Tanwir termasuk yang dominan, setelah corak ma’tsur dan kesejarahan. Corak kebahasaan Tafsir at-Tanwir terimplementasikan dalam usaha memaknai diksi yang asing, mencari asal kata, serta menjelaskan logika gramatikal kalimat. Balaghah, yang menjadi bagian dari corak kebahasaan ini, penulis dapati penerapannya di beberapa tempat, hanya saja, kurang dominan bila dibandingkan corak kebahasaan yang lain.
Berdasarkan pembacaan penulis, penerapan balaghah di dalam Tafsir at-Tanwir punya dua bentuk penyampaian, tersurat, dengan menyebutkan istilah balaghah, dan tersirat, dengan tanpa secara lugas merujuk balaghah atau menyebutkan istilah balaghah. Garis besarnya, penerapan balaghah secara tersirat lebih banyak dijumpai. Agaknya hal itu adalah salah satu bentuk penyesuaian sajian sehingga tafsir ini tetap bisa masuk ke khayalak pembaca umum yang notabenenya tidak begitu familiar dengan istilah-istilah turats.
Untuk menemukan corak balaghi yang tersirat, perlu kejelian sebab ia tidak memiliki tanda yang jelas dan letaknya terhimpit di antara corak-corak lain. Contohnya ketika menafsirkan الرحمن الرحيم (ar-rahman ar-rahim) Tafsir at-Tanwir menyebutkan:
“Kata al-Rahman (الرحمن) yang tercantum pada ayat pertama Surah al-Fatihah adalah salah satu sifat Allah yang berarti yang melimpahkan rahmat, yang berbuat baik kepada hamba-Nya, tanpa pengecualian dan tanpa batas. Lafal al-Rahman adalah khusus hanya bagi Allah swt, dan tidak dipergunakan bagi selain Allah. Kata al-Rahman (الرحمن) dan al-Rahim (الرحيم) sama-sama berasal dari kata rahmah (رحمة). Menurut pakar kosakata Al-Qur’an, al-Raghib al-Ashfahānī, kata rahmah mengandung arti kelembutan yang mendorong untuk melakukan atau memberikan kebaikan kepada yang dikasihi.” (Tafsir at-Tanwir, hal. 7)
Bisa dipahami bahwa kata rahmah memiliki dua komponen makna: asal (al-mabda’), yang adalah kelembutan, dan dampak (al-ghayah), yang menjadi konsekuensi dari asal, yang adalah memberi kebaikan. Allah swt, ketika disifati dengan rahmah, sejatinya Dia tidak disifati dengan seluruh komponen maknanya, melainkan hanya disifati dengan dampaknya, sebab Allah tidak pantas bila disifati dengan kelembutan hati yang merupakan karakter makhluk. Di dalam balaghah, ini disebut dengan majaz bi’tibar al-ghayah. Maka dari itu, kita lihat teks Tafsir at-Tanwir ketika mendefinisikan ar-Rahman mencukupkan diri pada dampak dari rahmah, yaitu kebaikan.
Contoh tersirat lain yang kiranya lebih jelas ketika menafsirkan firman Allah ويقيمون الصلوة (dan mereka mendirikan salat):
“Pada ayat di atas dipergunakan istilah yuqimunash-shalah (يقيمون الصلوة /mendirikan shalat), mengandung pengertian bahwa shalat harus dilakukan dengan sempurna, tanpa kekurangan apapun, seperti mendirikan batang kayu dengan tegak lurus, tidak condong sedikit pun.” (Tafsir at-Tanwir, hal. 69)
Kegiatan melaksanakan salat dengan sempurna, memenuhi rukun-rukunnya, diserupakan dengan kegiatan mendirikan kayu dengan tegak lurus. Di dalam balaghah, gaya bahasa ini disebut dengan istiarah. Melaksanakan adalah makna yang diinginkan (musta’ar lahu), akan tetapi diungkapkan dengan meminjam lafal mendirikan (musta’ar). Teks Tafsir at-Tanwir di atas menyiratkan bahwa dalam ayat terdapat isti’arah tanpa menyebutkan istilah balaghahnya.
Adapun corak balaghi yang tersurat di dalam Tafsir at-Tanwir bisa kita temukan semisal ketika menafsirkan ayat
إن الذين كفروا سواء عليهم أأنذرتهم أم لم تنذرهم لا يؤمنون
Tafsir at-Tanwir menuliskan:
“Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa ayat 6 Surah al-Baqarah ini dimulai dengan huruf penegas atau penguat (taukid), yaitu inna (إن) yang bermakna sungguh-sungguh, seperti dalam firman Allah innalladzina kafaru (إِنَّ الَّذِينَ كفرو). Informasi yang disampaikan oleh ayat ini merupakan persoalan serius. Sikap dan perilaku orang kafir seperti diuraikan di atas perlu dihadapi secara serius. Sikap tidak mau terbuka itu mendatangkan bahaya yang serius pula.”
Bahasan mengenai taukid di balaghah bisa kita temui pada bab ahwal isnad khabari. Informasi (khabar) kadangkala disampaikan dengan menggunakan penegas kadangkala tidak. Kapan waktu penggunaan penegas itu tergantung dengan situasi dan kondisi tatkala informasi itu disampaikan. Pada teks Tafsir at-Tanwir di atas disebutkan bahwa informasi pada ayat dimulai dengan huruf penegas karena informasi itu adalah informasi itu memuat persoalan serius. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan Ibnu Asyur (1296-1393 H/1879-1973 M) dalam tafsirnya: “Dibukanya kalimat tersebut dengan kata penegas bisa jadi karena dimaksudkan agar informasi yang dimuat diberi perhatian lebih, sebab informasi di dalam ayat ditujukan untuk nabi dan umatnya…” (Ibnu Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir).
Keberadaan corak balaghi di dalam Tafsir at-Tanwir terbitan PP Muhammadiyah menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak sedemikian ‘jauh’ dari turats seperti yang disangkakan. Bila melihat rujukan-rujukan yang dipakai Tafsir at-Tanwir pun, akan kita dapati beberapa rujukan primer tafsir corak balaghi, seperti al-Kasysyaf karya az-Zamahkhsyari, sehingga keberadaan tafsir bercorak balaghi di dalamnya bukan hal yang aneh.
Walhasil, penulis kira terjawab sudah masalah yang dirumuskan di awal, mengenai apakah corak balaghi dalam Tafsir at-Tanwir raib sepenuhnya atau tidak. Tujuan ditulisnya esai ini hanyalah untuk menjawab rumusan masalah itu, sebagai bukti bahwa Muhammadiyah, meski merupakan gerakan Islam modern, tetap memiliki pijakan pada turats. Esai ini bukan dimaksudkan sebagai paksaan agar produk keislaman keluaran Muhammadiyah harus selalu didasarkan pada kajian disiplin turats yang sifatnya tidak primer, seperti balaghah. Penulis menyakini, bahwa untuk sampai kepada kebaikan, ada banyak cara, perlu banyak peran. Untuk itu, hendaklah setiap lini memaksimalkan perannya, sehingga bisa terwujud kebaikan bersama yang terus-menerus terawat.
Oleh: Daffa Allamsyah

