Ibn Sina lahir di Bukhara (sekarang: Uzbekistan) pada tahun 980 M dari keluarga kelas menengah. Masa kecilnya dipenuhi dengan mempelajari ilmu-ilmu keislaman, hingga pada usia 10 tahun dirinya telah menghafalkan al-Qur’an seutuhnya. Melihat kecerdasan putranya, ayahnya kemudian mengirimkannya kepada penjual sayur ahli matematika India agar Ibn Sina kecil berguru padanya. Sebab pada masa itu, semakin pandai orang bermatematika, semakin tinggi pula kedudukan sosialnya.
Waktu berlalu dan Ibn Sina menginjak masa keemasannya, begitu banyak teori-teori yang ditelurkan olehnya. Tak tanggung-tanggung, bahkan teorinya mampu memperbarui teori yang telah mapan yaitu teori Aristoteles tentang angka. Padahal, teorinya telah menjadi acuan dan batasan bagi epistemologi matematika pada saat itu. Selanjutnya, penulis akan menjelaskan secara singkat dan padat bagaimana hal tersebut bisa terjadi.
Dalam bukunya Metaphysics, Aristoteles mengungkapkan bahwa angka bukanlah sesuatu yang prior dan bisa tercerap oleh indra pada realita. Angka hanya eksis dalam definisi dan tidak bisa memiliki wujud lain di luar itu. Kemudian Aristoteles memberikan contoh menghitung angka pada bab selanjutnya. Semisal ada seorang lelaki, maka dia diposisikan secara pasti bahwa ia adalah lelaki. Baru kemudian mempelajari hal-hal apa saja yang melekat secara insidental padanya. Lebih lanjut, Aristoteles mencontohkan dirinya lebih senang menggunakan pola pikir geometris. Seorang lelaki dianggap sebagai benda padat, dari sini bisa diartikan bahwa semua hal insidental atau propertis yang melekat pada dirinya adalah miliknya. Dengan cara seperti ini angka bisa dinilai aktualitas dan kebendaannya, dengan kata lain angka menjadi eksis secara potensial di dalam kebendaan.
Kemudian pada bab selanjutnya Aristoteles menjelaskan bagaimana cara menghitung benda-benda tadi. Semisal ‘kuda’ dan ‘manusia’ mungkin bisa diukur menggunakan ‘makhluk hidup’. Maka jumlah ‘kuda’ dan ‘manusia’ adalah jumlah dari makhluk hidup. Adapun hal-hal seperti ‘pucat’ dan ‘berjalan’ yang disandarkan pada manusia sejatinya tidak bisa dihitung, sebab yang demikian hanya dianggap sebagai ‘ragam’ dari manusia. Sehingga dapat diartikan bahwa bilangan bersifat relatif tergantung pada ada tidaknya yang dihitung.
Inti masalah terletak pada konsekuensi dari pemahaman teori di atas. Yakni, kita yang mengandaikan ketidakterbatasan bilangan dengan berlandaskan pada aktualitas-potensialitas dari angka. Di sini Ibn Sina menusuk Aristoteles dengan dua serangan; pertama, angka sebenarnya bisa dipikirkan dan bukan sebatas dicerap menggunakan indera (intelligible rather than sensible), kedua, pendekatan aristotelian tidak bisa digunakan untuk membuktikan ketidakterbatasan angka.
Ibn Sina mengatakan bahwa mengandaikan ketidakterbatasan bilangan berlandaskan pada sensibilitas adalah tidak masuk akal, karena hal tersebut mengharuskan kita untuk berasumsi tentang adanya objek-objek lain yang belum pernah kita temui. Selain itu objek yang dapat dicerap manusia tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan kata yang memiliki beragam arti (homonim), melainkan berdasarkan sensibilitas yang beragam pula. Seperti nama seseorang; Zayd dan Amr, keduanya merupakan manusia, tetapi tentu kemampuan sensibilitas mereka berbeda. Oleh karenanya manusia mempunyai realitas yang unik, tidak bisa dikatakan semua manusia bisa mencerap objek yang sama, namun murni bisa dipikirkan dan masuk akal.
Melanjutkan penjelasannya, Ibn Sina menyebutkan bilangan yang relatif tergantung pada ada tidaknya sesuatu yang dihitung mempunyai dua kemungkinan: pertama, membuat bilangan yang sudah ada menjadi terminasi yang terbatas dengan kesadaran bahwa masih ada batas-batasan lain yang belum diketahui, kedua, membuat bilangan yang ada menjadi tak terbatas dengan menjadikan objek-objek alam tak terbatas.
Dari penjelasan Ibn Sina kita dapat menyimpulkan bahwa status ontologis matematika bisa dikaji melalui ilmu pengetahuan alam dan metafisika, baik di dunia eksternal maupun di alam pikiran. Aristoteles mengkajinya menggunakan ilmu pengetahuan alam, konsekuensinya materialitas tidak bisa dipisahkan dengan objek-objek partikular yang tercampur dengannya. Sebagaimana manusia terdiri dari daging dan darah, maka daging dan darah itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari ke-manusia-an.
Jika ditinjau dari keterpisahan jenis-jenis materi, maka matematika lebih cocok dikaji menggunakan metafisika sebagaimana yang dilakukan oleh Ibn Sina. Kita bisa memisahkan objek matematika dengan benda-benda partikular yang bercampur dengan dunia eksternal, tentunya dengan kesadaran bahwa objek matematika juga merupakan bentuk materil yang kemudian diabstraksikan oleh kemampuan estimasi dari semua jenis materi tertentu. Meski demikian, bukan berarti matematika dipelajari seolah-olah ia bukan sifat material. Hanya saja cara seperti ini tidak bisa membuktikan ketidakterbatasan bilangan sebagaimana yang penulis sampaikan di atas.
Teori Ibn Sina tentang matematika benar-benar membawa cara pandang baru. Revolusi matematika yang berujung pada revolusi epistemologi; yang mana titik epistemologinya mampu membantu perkembangan matematika itu sendiri baik matematika murni maupun matematika terapan, yang akhirnya menjadi pengaruh serta dorongan besar pada tahun-tahun selanjutnya dalam ragam penelitian inovatif lainnya.
Daftar Pustaka
Annas, J. (1988). Aristotle’s Metaphysics. England: Clearendon Press.
Sina, I. (1992). al-Isharat wa al-Tanbihat. Beirut: Muassasah al-Ghamar.
Zarepour, M. (2016). Avicenna on Mathematical Infinity. Dialogue.
Oleh: Adyatama Zaki R.

